Selama Malam di Gambir

Selama Malam di Gambir

Advertisement

Perjalanan Malam yang Tidak Terduga

Sabtu malam (25/10/2025), sebelum adzan Isya berkumandang, saya sudah bergerak menuju Gambir dari Ciater, Pamulang. Malam ini saya rencanakan untuk pergi ke Yogya dengan menumpang Kereta Manahan yang akan berangkat pukul 22:50 WIB. Begitu melintasi Jakarta Pusat, menjelang pukul 21:00, hujan baru saja berhenti di sepanjang jalur Sudirman. Lalu lintas sedikit padat, tapi masih tersedia cukup waktu.

Pikiran saya sudah mengatur prosedur perjalanan begitu tiba di Gambir. Cetak tiket keberangkatan, segera makan malam, kemudian menuju ruang tunggu. Begitu kereta siap diberangkatkan, masuklah ke gerbong, duduk dengan nyaman. Nikmati big match Napoli versus Inter Milan.

Kamu akan tiba di Tugu sekitar pukul 05:30 WIB, langit Yogya masih dalam transisi fajar. Mungkin ada bahan menulis puisi.

Saya tiba di ruang tunggu lantai dua, kok ramai sekali? Nyaris tak ada kursi yang bisa diduduki. Jadi saya menggunakan kursi para pemusik yang terletak di salah satu sudut dengan jendela kaca yang menghadap Tugu Monas.

Akhir pekan, ternyata banyak orang memilih meninggalkan Jakarta dengan kereta, batin saya bermain-main dengan asumsi. Saya melihat diri sendiri di antara mereka, mungkin kebanyakan mereka bukan sedang pulang; mereka sedang bekerja.

Hari menanjak malam, kerumunan manusia makin bertambah. Tidak ada panggilan keberangkatan kereta. Saya menyadari ada yang janggal.

Tak lama berselang, suara layanan pelanggan KAI di Gambir mulai menyampaikan permintaan maaf atas keterlambatan karena alasan operasional. Layanan itu juga menyampaikan jika ada penumpang yang ingin melakukan refund, maka akan dikembalikan 100%. Suara itu juga bilang jika kereta-kereta yang sedang menuju Gambir sedang dalam antrian berangkat.

Oalah, kerumunan penumpang itu adalah mereka yang seharusnya sudah berangkat sebelum jam keberangkatan Manahan. Lalu, jika begitu, apa kabar keberangkatan saya? Sampai jam berapa masalahnya akan beres--apakah ini bisa diperkirakan?

Kereta tiba pukul berapa, saya tiba-tiba ingat tembang Iwan Fals. Tapi saya ingat juga warisan modernisasi KAI Ignasius Jonan. Apa yang sedang terjadi?

Ternyata, di Sabtu pagi, mengutip Kompas, rangkaian kereta LRT Jabodebek mengalami gangguan. Kompas memberitakan terjadi gangguan pada sistem third rail sebagai penyuplai listrik bagi kereta sehingga semua perjalanan tidak dapat berlangsung saat itu sebagaimana disampaikan manajemen.

Ini memang kasus yang berbeda. Apa yang sedang menimpa perjalanan saya?

Rupanya di Sabtu siang, masih dari Kompas, PT Kereta Api Indonesia (Persero) Daerah Operasi 1 Jakarta melaporkan dua kereta bagian belakang dari rangkaian KA 58F Purwojaya relasi GambirKroya anjlok saat melintas di emplasemen Stasiun Kedunggedeh Km 56+1/2 pada Sabtu pukul 14.14 WIB. Saat kejadian, terdapat 232 penumpang.

Kabar yang kedua ini, baru dipublikasi Kompas pada 25/10/2025, jam 19:11 WIB, dan saya tidak sempat membacanya. Sebab itu, penantian saya disiksa oleh dua kegelisahan: apa masalah apa dan pada jam berapa Manahan akan diberangkatkan--apa malam ini saya akan berangkat?

Seketika saja, gambaran langit fajar dan pedagang kaki lima di pinggiran trotoar di antara Tugu dan Maliboro tidak lagi penting buat saya.

Pertanyaan besar yang kini terbit di benak. Bepergian jarak jauh dengan kereta api adalah moda transportasi paling aman dan nyaman buat saya. Andai seluruh pelosok Nusantara terkoneksi dengan kereta api, saya akan memilih rute ini sebagai yang utama.

Sebagai nomad di era dominasi AI, saya sudah tak nyaman naik pesawat dan tidak lagi bisa menikmati berlama-lama dalam pelayaran. Lantas, kepada siapa saya mesti menyandarkan harap akan kenyamanan dan keamanan transportasi ketika bepergian jauh?

Tatap saya tiba di langit malam Jakarta, menembusi kaca. Tugu Monas tampak penuh bias cahaya, ada yang ramai dalam pantulan, tapi terasa sendirian saja. Aaakh!

Saya kira, di tengah penantian, kabar keterlambatan, dan permintaan maaf berulang, ada banyak orang yang resah di dalam ruangan dengan kipas angin besar di beberapa sudut. Beberapa yang lain berusaha tertidur, mengajak ngobrol, atau tenggelam di dalam gawai. Napoli sementara unggul dari Inter Milan.

Dari Ruang Tunggu ke Gerbong

Sesudah lewat tengah malam, penumpang Manahan diarahkan untuk memasuki gerbong di peron 1. Akhirnya, saya masih bisa membayangkan pagi di sekitar Tugu. Maka dengan langkah bergegas, saya tiba di bangku yang sudah dipesan. Saya akan duduk sendirian, tidak perlu mengambil pusing dengan penumpang di samping.

Mata saya sudah di batas kantuk walaupun tertidur di kereta (bahkan di fasilitas Luxury sekalipun) tidak pernah benar-benar lelap. Saya memilih tidur dan terpaksa terbangun di sekitar pukul tiga dinihari. Kereta ini masih tidak bergerak, hening.

Saya berjalan keluar, mengamati suasana peron. Ada kumpulan kecil penumpang dan petugas yang ngobrol, sepertinya membicarakan penyebab dari semua keterlambatan yang merisaukan ini. Tapi saya tidak bergabung, mata masih terasa perih walaupun kepo.

Tiba-tiba, ada seorang pramugara yang berdiri di samping saya, seolah-olah jawaban yang dikirim untuk menjelaskan situasinya. Maka berceritalah ia tentang kereta yang anjlok, jalur yang anjlok ini adalah satu-satunya jalur, semua kereta dari dan ke Timur harus mengantri.

Dia juga berkisah jika sebelumnya KA Argo Bromo Anggrek juga anjlok (sekitar 3 bulan berselang), "Tapi katanya anjlokan kali ini lebih parah," katanya lagi.

"Jadi, kita masih gak ada kepastian berangkat?"

"Kalau tidak nanti pagi, mungkin siang, Pak."

Saya melihat ke layar tv, tertulis Manahan (delayed). Satu-satunya pilihan sekarang adalah menanti kabar keberangkatan datang lebih cepat, bukan mengganti moda transportasi.

Tapi Manahan tidak sendiri menahan, ada Argo Lawo di peron 3 yang berisi penumpang pindahan dari Taksaka yang seharusnya berangkat di sekitar jam 9 malam.

Saya kembali ke gerbong, tidak banyak penumpang ternyata di sini. Mungkin mereka pada akhirnya memilih refund. Saya sudah sempat tertidur dan penantian ini (masih) diuji kabar sabarnya.

Satu-satunya yang bikin penantian tanpa petunjuk ini tidak keras menyiksa karena hanya ada keinginan untuk tiba di tujuan, bukan kebutuhan menunaikan rindu kepada seseorang (eeaaa).

Di dalam remang cahaya gerbong, pertanyaan begini muncul. Apa kaitan situasi sekarang dengan utang cicilan kereta cepat Whoosh? Siapa yang bertanggungjawab di balik semua janji-janji yang memoles Whoosh dulu?

Bertanya begini saja sudah lelah, untuk apa diteruskan....Eh, tiba-tiba pengumuman berkumandang.

Kereta akan diberangkatkan. Saya memeriksa jam, pukul 05 subuh lewat sedikit; jam dimana seharusnya saya sudah di Yogya kini berubah menjadi jam keberangkatan.

Ada banyak keberangkatan yang tertunda, ada sekian banyak jadwal yang mesti ditata ulang. Ada berapa banyak kerugian, tak cuma material, tapi waktu, tenaga dan emosi? Kita tetap bakal tiba di tujuan, tapi apa yang gagal kita penuhi dari rencana awal?

Bagaimana jika kegagalan itu memberi konsekuensi yang lebih besar dari sekadar tidak tiba tepat waktu: anak yang terburu-buru pulang karena orang tuanya mendadak dilarikan ke ICU? Satu lagi pertanyaan mendasarnya: Seberapa berdaya kita di tengah sistem yang "mendadak chaotik" seperti di hari Sabtu ini?

Sepanjang malam di Gambir yang sungguh-sungguh menguras fisik dan psikis.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar