
Teknologi sebagai Jembatan Menuju Kesetaraan
Teknologi benar-benar membuka jalan menuju kesetaraan. Bagi penyandang tunanetra, kemajuan kecerdasan buatan (AI) bukan sekadar perkembangan teknologi, tapi jembatan menuju kemandirian dan kesempatan yang lebih luas. Hal ini ditunjukkan oleh Yayasan Mitra Netra, lembaga yang selama puluhan tahun fokus memberdayakan penyandang tunanetra di Indonesia.
Dalam sesi THE PLAIGROUND aiotrade AI for Indonesia 2025, Budi Darmulyana, Wakil Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan Yayasan Mitra Netra, memamerkan sederet inovasi berbasis AI yang dirancang khusus untuk membantu tunanetra belajar, bekerja, dan hidup lebih mandiri. Kami ingin teknologi benar-benar bisa digunakan oleh tunanetra, bukan sekadar dinikmati orang yang bisa melihat.
Sejak berdiri, Yayasan Mitra Netra dikenal sebagai pelopor dalam produksi buku aksesibel, mulai dari buku audio, buku Braille, hingga buku digital yang bisa dibaca lewat screen reader. Semua itu bisa diakses secara online maupun offline, memungkinkan tunanetra dari berbagai daerah di Indonesia belajar tanpa batasan jarak.
Selain menyediakan bahan bacaan, Mitra Netra juga membuka pelatihan komputer bagi penyandang tunanetra, dari tingkat dasar hingga programming. Budi mengatakan, Mitra Netra ingin membuktikan bahwa tunanetra juga bisa bekerja di bidang teknologi. Namun, ia mengakui masih ada tantangan besar di dunia kerja. Meski sudah ada regulasi yang mewajibkan kuota pekerja disabilitas, 2% di instansi pemerintah dan 1% di sektor swasta, peluang kerja bagi tunanetra masih sangat terbatas.
Sebagian besar lowongan masih membutuhkan penglihatan di lapangan, padahal banyak posisi administratif atau manajerial yang bisa diisi oleh tunanetra, ujarnya.
Inovasi yang Membawa Perubahan
Untuk menjembatani kesenjangan itu, Yayasan Mitra Netra pernah bekerja sama dengan Dinas Tenaga Kerja DKI Jakarta untuk membuat modul rekrutmen khusus karyawan tunanetra. Mereka juga aktif berkolaborasi lewat berbagai forum ketenagakerjaan agar lebih banyak perusahaan membuka peluang kerja yang inklusif.
Salah satu inovasi terbesar Mitra Netra adalah aplikasi Mitranetra Braille Converter, alat berbasis AI yang mampu mengonversi teks ke Braille, dan sebaliknya. Aplikasi ini dikembangkan karena banyak guru di sekolah inklusi masih kesulitan membaca simbol Braille, terutama simbol matematika dan Arab.
Kami ingin menjembatani komunikasi antara guru dan siswa tunanetra, agar proses belajar lebih lancar, kata Budi. Dengan bantuan AI, aplikasi ini terus berkembang hingga akhirnya bisa melakukan berbagai hal yang sebelumnya sulit dijangkau oleh tunanetra, seperti memindai teks dari buku cetak atau file digital melalui kamera smartphone atau komputer; mengubah gambar atau tulisan menjadi teks yang bisa dibaca screen reader; mengkonversi rumus matematika dan teks Arab ke dalam format Braille; dan menyediakan papan ketik Braille digital, sehingga karya siswa tunanetra bisa dibaca oleh guru non-Braille.
Teknologi AI di dalam aplikasi ini juga mampu melakukan hal yang sebelumnya sulit dilakukan oleh Optical Character Recognition (OCR) biasa. Misalnya, mengekstrak rumus matematika dari gambar, mengenali huruf Arab dengan harakat, hingga mengubahnya menjadi format digital seperti LaTeX atau MathML.
Dengan AI, guru bisa memfoto soal matematika atau bahasa Arab dari buku, lalu aplikasi otomatis mengubahnya ke format Braille yang bisa dibaca oleh siswa tunanetra, jelas Budi.

Pencapaian di Tingkat Internasional
Inovasi Mitra Netra tidak hanya berhenti di konsep. Aplikasi Mitranetra Arabic Braille Converter bahkan meraih peringkat kelima di ajang Hackathon Microsoft AI for Accessibility (AI4A) Asia Pasifik tahun 2022, sebuah pencapaian yang membanggakan bagi tim dari Indonesia. Aplikasi ini kini digunakan di berbagai SLB (Sekolah Luar Biasa) dan sekolah inklusif di seluruh Indonesia yang memiliki printer Braille.
Guru bisa menulis rumus di Microsoft Word, menyalinnya ke aplikasi, lalu otomatis dikonversi ke Braille dan siap dicetak. Bagi siswa tunanetra, aplikasi ini membantu mereka mengetik dalam Braille dan mengubahnya menjadi teks biasa yang bisa dibaca guru. Jadi komunikasi antara guru dan siswa kini dua arah dan inklusif, kata Budi.
Teknologi yang Mendukung Kemandirian
Tak hanya di bidang pendidikan, Mitra Netra juga memperkenalkan perangkat berbasis AI portable yang bisa membantu tunanetra mengenali lingkungan sekitarnya. Bentuknya seperti kacamata yang dilengkapi kamera mini dan sensor cerdas. Perangkat ini mampu membaca teks dari buku secara otomatis, mengenali wajah orang, hingga mendeteksi mata uang atau benda di sekitar pengguna. Semua informasi kemudian dibacakan lewat suara.
Ketika tunanetra bertemu seseorang, sistem bisa langsung menyebutkan nama orang tersebut. Atau saat membaca buku, perangkat akan membacakan teksnya secara real-time, ujar Budi menjelaskan.
Budi menegaskan, inovasi ini bukan sekadar proyek teknologi, melainkan langkah nyata menuju kesetaraan. Harapan kami sederhana, agar tunanetra di Indonesia mendapat kesempatan yang sama di bidang pendidikan, pekerjaan, dan kehidupan sehari-hari.

Dengan kecerdasan buatan, Yayasan Mitra Netra membuktikan bahwa teknologi seharusnya tidak menciptakan jarak, melainkan menjembatani agar setiap orang, dengan segala keterbatasannya, tetap bisa berdaya dan berkontribusi untuk bangsa.
Komentar
Kirim Komentar