Tim Peneliti Budaya Maritim UPI dan ISBI Bandung Mengapresiasi Festival Pinisi Bulukumba

Tim Peneliti Budaya Maritim UPI dan ISBI Bandung Mengapresiasi Festival Pinisi Bulukumba

Tim Peneliti Budaya Maritim UPI dan ISBI Bandung Mengapresiasi Festival Pinisi Bulukumba

Kehadiran Peneliti Budaya Maritim di Festival Pinisi XV

Empat sosok berjalan perlahan, menatap penuh takjub pada sebuah kapal kayu yang sedang disiapkan untuk ditarik ke air. Mereka bukan wisatawan biasamelainkan para peneliti seni budaya maritim dari Bandung yang datang jauh-jauh ke Bulukumba untuk merasakan denyut kehidupan di tanah kelahiran Pinisi. Langkah mereka berhenti di dekat seorang punggawa tua yang sedang menepuk-nepuk lambung kapal sambil melafalkan doa. Suara serak sang punggawa berpadu dengan gemuruh tepuk tangan penonton.

Advertisement

Udara siang makin hangat. Suara ombak bersahut dengan tawa anak-anak pesisir yang berlari. Dari kejauhan, gema pengeras suara mengumandangkan ajakan untuk ikut menyaksikan prosesi Annyorong Lopi, momen sakral peluncuran kapal ke laut. Bagi para peneliti itu, Bulukumba bukan sekadar lokasi risetmelainkan ruang hidup yang memanggil kenangan dan makna. Di sinilah teori dan tradisi saling berpelukan. Di sinilah laut bukan hanya horizon biru, tapi juga halaman terbuka tempat manusia menulis kisahnya dengan tangan, kayu, dan doa.

Elaborasi Budaya untuk Pariwisata Berkelanjutan

Festival Pinisi XV Kabupaten Bulukumba 2025 yang mengusung tema Elaborasi Budaya untuk Pariwisata Berkelanjutan tak hanya memikat masyarakat dan wisatawan, tetapi juga menarik perhatian kalangan akademisi. Empat peneliti seni budaya maritim dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung hadir langsung untuk menyaksikan sekaligus mengapresiasi kekayaan budaya masyarakat Bulukumba.

Keempat peneliti tersebut adalah Yanti Heriyawati, Afri Wita, Yadi Mulyadi, dan Rizky F. Ramdani, yang sejak tahun 2017 aktif meneliti tentang seni budaya maritim Indonesia. Kehadiran mereka di Festival Pinisi merupakan bagian dari riset yang didanai oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dengan fokus pada literasi budaya pesisir dan ekspresi seni maritim, terutama tradisi pembuatan perahu Pinisi yang menjadi ikon nasional asal Bulukumba.

Sejak lama kami ingin datang langsung menyaksikan festival ini, tetapi pandemi sempat menunda rencana. Tahun ini akhirnya kami bisa melihat dan merasakan langsung atmosfer budaya yang selama ini hanya kami pelajari dari jauh, ujar Afri Wita, salah satu peneliti dari UPI pada Sabtu, 25 Oktober 2025.

Selama berada di Bulukumba sejak 23 hingga 25 Oktober 2025, tim peneliti ini mengikuti hampir seluruh rangkaian kegiatan Festival Pinisi XV, mulai dari pembukaan di Pantai Mandala Ria, pemecahan Rekor MURI minum kopi dengan gula aren oleh peserta terbanyak, hingga malam penutupan di Anjungan Pantai Merpati. Mereka juga meninjau langsung galangan kapal tradisional di Bonto Bahari, tempat para pengrajin Pinisi menorehkan keahlian turun-temurun.

Festival ini bukan hanya tontonan budaya, tapi juga ruang dialog antara masa lalu dan masa depan, tutur Yanti Heriyawati, menekankan pentingnya mengkaji tradisi maritim sebagai bagian dari identitas kebangsaan.

Riset yang dilakukan oleh tim Bandung ini telah menghasilkan berbagai karya seni pertunjukan maritim yang pernah dipentaskan di ajang nasional, seperti Hari Maritim di Kemenkomarves dan Bandung Isola Performing Arts Festival (BIPAF). Mereka berharap hasil observasi di Bulukumba kali ini dapat memperkaya pemahaman tentang transformasi budaya bahari dalam konteks pariwisata berkelanjutan.

Apresiasi Bupati Andi Utta terhadap Perhatian Dunia Akademik

Kehadiran para peneliti ini mendapat sambutan hangat dari Pemerintah Kabupaten Bulukumba. Bupati Bulukumba Andi Muchtar Ali Yusuf menyampaikan apresiasi atas perhatian dunia akademik terhadap warisan budaya lokal.

Festival Pinisi adalah kebanggaan kita bersama. Kami berterima kasih atas dukungan para peneliti dan akademisi yang turut mengangkat nilai budaya Pinisi ke level nasional bahkan internasional, ujarnya.

Selain menghadiri berbagai kegiatan festival, tim peneliti juga berdialog dengan pelaku seni lokal, perajin Pinisi, dan pegiat budaya muda. Interaksi ini menjadi bagian penting dalam riset mereka, yang berorientasi pada dokumentasi dan pengembangan karya berbasis budaya pesisir.

Semangat masyarakat Bulukumba luar biasa. Tradisi seperti Annyorong Lopi atau ritual peluncuran kapal, dan semangat gotong royongnya memberi inspirasi baru bagi kami dalam memahami konsep budaya maritim yang hidup, kata Rizky F. Ramdani menutup percakapan.

Festival Pinisi XV tahun 2025 kembali menegaskan posisi Bulukumba bukan hanya sebagai Bumi Panrita Lopi, tetapi juga sebagai laboratorium budaya maritim Indonesia tempat di mana tradisi, riset, dan inovasi bertemu dalam harmoni.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar