Songah Sumedang: Irama Tradisional yang Terus Menggema di Tanah Sunda

Songah Sumedang: Irama Tradisional yang Terus Menggema di Tanah Sunda

Songah Sumedang: Irama Tradisional yang Terus Menggema di Tanah Sunda

Kesenian Songah, Warisan Budaya Sumedang yang Masih Bertahan

Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, dikenal sebagai daerah yang kaya akan warisan seni dan budaya. Selain Kuda Renggong dan Tarawangsa, Sumedang juga memiliki kesenian Songah salah satu seni musik tradisional yang sarat makna dan masih dijaga oleh masyarakat pedesaan hingga kini.

Advertisement

Asal Usul dan Sejarah Kesenian Songah

Kesenian Songah diperkirakan telah muncul sejak awal abad ke-20 di wilayah Tanjungkerta dan sekitarnya. Awalnya, Songah digunakan sebagai sarana hiburan rakyat sekaligus media dakwah Islam. Nama Songah sendiri berasal dari bunyi khas alat musik utamanya yang menimbulkan suara so...ngah, menyerupai dengungan ritmis saat dimainkan.

Pada masa lalu, kesenian ini sering dimainkan dalam berbagai acara adat seperti hajatan, khitanan, panen raya, hingga perayaan keagamaan. Melalui lagu-lagu bernuansa religius dan nasihat hidup, Songah menjadi sarana efektif menyampaikan pesan moral di tengah masyarakat Sunda pedesaan.

Alat Musik dalam Kesenian Songah

Kesenian Songah umumnya dimainkan oleh 58 orang pemain dengan kombinasi alat musik tradisional Sunda, di antaranya:

  • Kendang alat utama pengatur tempo dan ritme.
  • Terbang atau Rebana memberi warna musik bernuansa Islami.
  • Goong atau Kempul kecil berfungsi menegaskan pergantian irama.
  • Kecrek atau alat logam sederhana menambah unsur ritmis dan dinamis.
  • Vokal atau pupuh Sunda dilantunkan dalam bentuk syair doa, nasihat, atau pujian kepada Tuhan.

Musik Songah dikenal memiliki pola tabuhan repetitif, enerjik, dan menggugah semangat, sehingga sering digunakan dalam acara penyambutan tamu kehormatan atau perayaan masyarakat desa.

Fungsi dan Nilai Budaya

Lebih dari sekadar hiburan, kesenian Songah memiliki fungsi sosial dan spiritual. Beberapa di antaranya adalah:

  • Sebagai media dakwah dan pendidikan moral, melalui lirik yang sarat pesan kebaikan.
  • Sebagai pengikat kebersamaan masyarakat, karena dimainkan secara kolektif.
  • Sebagai simbol identitas daerah, mencerminkan kearifan lokal masyarakat Sumedang.

Perkembangan Songah di Era Modern

Seiring perkembangan zaman, kesenian Songah sempat mengalami penurunan eksistensi, terutama di era 19802000-an, akibat masuknya hiburan modern dan berkurangnya minat generasi muda terhadap seni tradisi.

Namun dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah daerah dan komunitas seni Sumedang kembali berupaya melestarikan Songah melalui:

  • Festival Seni Tradisi, seperti Festival Seni Sumedang Larang dan Gebyar Budaya Sunda.
  • Pendidikan seni di sekolah dan sanggar, di mana Songah mulai diperkenalkan kepada siswa.
  • Digitalisasi dan dokumentasi budaya, agar kesenian ini dikenal luas melalui media sosial dan YouTube.

Kini, beberapa kelompok seni di Tanjungkerta, Conggeang, dan Cimalaka masih aktif menampilkan Songah dalam berbagai acara budaya daerah. Penampilan mereka sering dipadukan dengan tarian dan kostum tradisional untuk menarik generasi muda.

Harapan ke Depan

Kehidupan kesenian Songah di Sumedang kini menjadi simbol ketahanan budaya lokal di tengah arus modernisasi. Dukungan dari masyarakat, pemerintah, dan lembaga pendidikan sangat diperlukan agar seni ini terus hidup, tidak hanya sebagai tontonan, tetapi juga sebagai warisan yang diturunkan lintas generasi.



Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar