Sial atau Beruntung? Nasib Buku-Buku Lawas di Blok M

Sial atau Beruntung? Nasib Buku-Buku Lawas di Blok M

Advertisement

Kehidupan Seorang Penjual Buku di Basement Blok M Square

Di tengah keramaian dan kebisingan kota, ada tempat yang jauh dari keramaian. Di lantai basement Blok M Square, terdapat seorang penjual buku yang tampaknya hidup dalam dunia sendiri. Wajahnya terlihat lebih muda dibanding para penjual buku dan kaset yang ada di sekitarnya. Kulitnya sedikit gelap dengan mimik muka sedikit pucat. Si penjual buku ini terlihat lelah dan kurang tidur.

Saat itu, saya tidak berniat membeli buku. Namun kondisi memaksa saya untuk melewati area tersebut. Saya sempat mengamati tumpukan buku berwarna kuning lusuh miliknya. Di tengah banyaknya tumpukan buku bajakan di lantai ini, menemukan buku original bekas dengan warna khas seperti itu memang menyenangkan. Mungkin momen singkat itulah yang membuat si penjual menyimpulkan bahwa saya mencari buku ori.

Bukannya menolak dan berlalu, saya justru tertarik dengan tawarannya. Ia langsung berantusias menyodorkan setumpuk buku karya Pramoedya Ananta Toer: Gadis Pantai, Bumi Manusia, Mangir, Cerita dari Blora dan ada juga karya Ahmad Tohari yang berjudul Belantik. Semuanya cetakan lawas. Beberapa dari judul tadi sudah memiliki edisi terbaru, jadi saya merasa tak perlu membelinya.

"Saya ada Pramoedya, Kak. Ori," ia menawari saya dengan tiba-tiba, padahal saya tak bilang sedang mencari buku original. Itulah momen saya bertemu seorang penjual buku di lantai basement Blok M Square.

Setelah beberapa kali tawar-menawar, akhirnya saya berhasil meminang buku Mangan Ora Mangan Kumpul dari Umar Kayam dan Belantik dari Ahmad Tohari dengan harga 110 ribu rupiah. Meski sempat menyesal karena menawar, saya sadar bahwa beberapa waktu belakangan saya sudah terlalu sering membeli buku.

Pengalaman Menarik dengan Penjual Buku

Si abang penjual bercerita kalau dia baru bermain buku ori. Katanya, kalau laku hasilnya lumayan, meski jarang. Saya pun tertarik mengulik tentang buku-buku bajakan miliknya. Memangnya ada orang yang sengaja beli buku bajakan? Tanpa salah paham bahwa itu bajakan? pikir saya. Si Abang bilang kalau buku bajakannya masih laris manis saja sejauh ini, seolah bisa mendengar isi kepala saya.

Ia bukan orang sembarangan. Ia mengaku lulusan sarjana hukum dari salah satu universitas di daerah Tangerang. Entah bagaimana nasib membawanya menjadi seorang penjual buku, ia pun bingung menjelaskannya pada saya. Di sela-sela obrolan, ia kembali menyodorkan beberapa buku lawas. Sebuah buku berjudul Mangan Ora Mangan Kumpul, sebuah sketsa karya Umar Kayam menarik perhatian saya. Kesan lawas langsung terasa begitu saya melihat kertasnya yang menguning. Buku ini terbitan tahun 1990, harganya 70 ribu rupiah. Saya menawar, ia menolak. Terjadilah tawar menawar yang cukup alot.

Perjalanan Menuju Dunia Literasi

Setelahnya saya justru menyesal telah menawar. Seharusnya saya biarkan saja ia menjual dengan harga yang ia mau. Bukankah itu salah satu bentuk dukungan agar mereka tergerak mau menjual buku original? Huft.

Namun saya sadar, beberapa waktu belakangan saya sudah terlalu sering membeli buku. Kurang bijak juga kalau saya terus-terusan belanja tanpa perhitungan. Sebelum saya pergi, si abang berterima kasih.

"Saya yang justru mau berterima kasih," balas saya. Terima kasih untuk ceritanya. Saya melangkah meninggalkan basement. Di luar hujan rintik-rintik. Saya melangkah pelan tanpa peduli. Entah mengapa tiba-tiba saya ingin kaya raya. Supaya bisa memborong semua buku tanpa berpikir soal harga. Siapa tahu itu membantu dunia literasi di negeri ini jadi lebih baik.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar