Racikan Dapen BCA untuk Investasi Berbasis EBT

Racikan Dapen BCA untuk Investasi Berbasis EBT


aiotrade, JAKARTA Dana Pensiun Pemberi Kerja Penyelenggara Program Pensiun Iuran Pasti (PPIP) Bank Central Asia atau Dapen BCA menyatakan bahwa mereka terbuka dan mendukung pengembangan investasi yang berkelanjutan. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari upaya untuk memenuhi kebutuhan jangka panjang para peserta dana pensiun.

Advertisement

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) telah mendorong industri dana pensiun untuk memperluas instrumen investasi dengan underlying di sektor energi baru dan terbarukan (EBT). Direktur Utama Dapen BCA, Budi Sutrisno, menilai bahwa saran tersebut sejalan dengan arah kebijakan nasional dan tren global menuju ekonomi hijau (green economy).

Bagi Dapen BCA, aspek keberlanjutan merupakan hal penting dalam jangka panjang, selama tetap sejalan dengan prinsip kehati-hatian, kepatuhan terhadap regulasi, serta tujuan utama dana pensiun dalam pemenuhan kewajiban manfaat peserta, ujarnya kepada Bisnis, dikutip Minggu (26/10/2025).

Budi menjelaskan bahwa pihaknya telah mulai melakukan investasi pada instrumen berbasis Environmental, Social, and Governance (ESG) seperti pembelian obligasi yang memiliki underlying berkelanjutan. Selain memenuhi saran Kemenkeu, langkah ini juga menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio investasinya.

Sekaligus bentuk komitmen Dapen BCA dalam mendukung pembiayaan yang lebih hijau dan berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian, profil risiko, serta ketentuan yang berlaku dari OJK, tambahnya.

Senada dengan pernyataan Budi, Ketua Asosiasi Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK), Tondy Suradiredja, juga menyambut baik saran Kemenkeu yang mendukung investasi ke sektor-sektor berkelanjutan. Namun, ia menyarankan agar insentif yang diberikan dapat lebih atraktif bagi DPLK, misalnya keringanan pajak khusus untuk hasil investasi.

Menurut dia, insentif ini penting guna menyeimbangkan risiko dan memastikan imbal hasil yang optimal dan aman bagi para peserta dana pensiun.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyoroti bahwa mayoritas alokasi investasi dana pensiun sukarela masih sangat terkonsentrasi pada instrumen yang bersifat fixed income seperti Surat Berharga Negara (SBN) dan deposito di perbankan.

Direktur Pengembangan Dana Pensiun, Asuransi, dan Aktuaria Kemenkeu, Ihda Muktiyanto, berpendapat bahwa fokus pada instrumen tersebut membuat manajemen risiko terkelola baik. Namun, di satu sisi, ia khawatir imbal hasil untuk kebutuhan jangka panjang peserta dana pensiun bisa terbatas.

Sebab demikian, dia menilai perlu adanya strategi investasi yang lebih berimbang supaya dana pensiun bisa memperluas instrumen investasinya yang memiliki nilai tambah. Termasuk di dalamnya instrumen-instrumen yang memiliki underlying energi baru dan terbarukan, instrumen hijau, dan tentunya instrumen lain yang memiliki kemampuan untuk bisa meningkatkan return dari hasil investasinya dengan tetap menjaga prinsip kehati-hatian, katanya.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar