PLNITB Lahirkan 63 Magister Teknik Kimia untuk Percepatan Energi Nasional

PLNITB Lahirkan 63 Magister Teknik Kimia untuk Percepatan Energi Nasional

Kolaborasi PLN dan ITB dalam Mendorong Transisi Energi

Komitmen Indonesia menuju Net Zero Emission (NZE) tahun 2060 terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Salah satu langkah nyata datang dari kerja sama antara Institut Teknologi Bandung (ITB) dan PT PLN (Persero) beserta anak perusahaannya, dalam penyelenggaraan Program Magister Teknik Kimia yang secara khusus berfokus pada tema transisi energi dan dekarbonisasi sektor kelistrikan.

Advertisement

Sebanyak 63 pegawai PLN Group resmi menuntaskan pendidikan magister mereka di bawah bimbingan para akademisi ITB, termasuk sejumlah profesor dan peneliti di bidang teknologi energi bersih. Para lulusan ini diharapkan menjadi ujung tombak inovasi teknologi rendah karbon di seluruh unit pembangkit listrik PLN di Indonesia.

Bangun Sugito: Mengubah Tantangan Batu Bara Menjadi Peluang Energi Bersih

Salah satu lulusan, Bangun Sugito, merupakan pegawai PLN Indonesia Power, anak usaha PLN yang berfokus pada pengelolaan pembangkit listrik. Ia menyelesaikan tesis bertajuk Teknoekonomi Penerapan Kabut Capture di Pembangkit Batu Bara Subkritikal dengan bimbingan Prof. Sanggono Adisasmito, MSc, PhD.

Kesempatan ini sangat berharga. Saya bisa belajar langsung dari para ahli di ITB, mendalami bagaimana teknologi kabut capture dapat diterapkan di pembangkit subkritikal untuk menurunkan emisi, ujar Bangun di sela acara wisuda magister di Kampus ITB, Bandung.

Bangun menamatkan pendidikan sarjana di Teknik Kimia Universitas Rewijaya Palem sebelum bergabung dengan PLN Indonesia Power. Ia melanjutkan studi setelah lolos seleksi ketat Program Beasiswa PLN, bagian dari roadmap Green Transformation perusahaan.

Program beasiswa ini merupakan implementasi nyata dari komitmen PLN terhadap transisi energi nasional. Kami tidak hanya membangun infrastruktur energi bersih, tapi juga menyiapkan sumber daya manusia yang memahami teknologi dan ekonomi energi rendah karbon, tambahnya.

Selama menempuh studi, Bangun merasakan atmosfer akademik ITB yang menantang sekaligus kolaboratif.

Kuliah di ITB tidak mudah, tetapi banyak memberikan pengalaman berharga. Saya belajar bagaimana berpikir ilmiah, melakukan riset terapan, dan membangun jaringan dengan akademisi serta rekan-rekan dari berbagai unit PLN di seluruh Indonesia, ungkapnya.

Dari Kampus ke Lapangan: Ilmu untuk Transisi Energi PLN

Bangun saat ini bertugas di PLTU Lontar, Kampung Paten, Tangerang salah satu pembangkit listrik tenaga uap berbasis batu bara yang memasok listrik ke wilayah Ibu Kota dan sekitarnya. Ia menilai bahwa inovasi teknologi seperti carbon capture, co-firing, dan energy efficiency sangat relevan untuk diterapkan di unit-unit pembangkit konvensional.

PLTU Lontar merupakan salah satu tulang punggung sistem kelistrikan JawaBali. Dengan penerapan teknologi penangkapan karbon dan optimalisasi proses pembakaran, kami berharap dapat menurunkan emisi secara signifikan tanpa mengganggu keandalan sistem, jelasnya.

Bangun menambahkan bahwa teknologi kabut capture yang menjadi fokus penelitiannya mampu menangkap partikel halus dan gas hasil pembakaran batu bara menggunakan sistem pendinginan kabut air, yang kemudian diintegrasikan dengan sistem pengolahan limbah gas buang (flue gas treatment).

Selain lebih efisien, teknologi ini juga relatif murah dibanding CCS konvensional. Harapannya, teknologi ini bisa menjadi alternatif awal sebelum penerapan CCS berskala besar di PLTU, tambahnya.

Prof. Sanggono: Kolaborasi Akademik dan Industri Jadi Kunci

Dosen pembimbing, Prof. Sanggono Adisasmito, menekankan bahwa kemajuan teknologi energi rendah karbon membutuhkan sinergi kuat antara kampus dan industri.

Tantangan energi hari ini tidak bisa diselesaikan oleh satu pihak saja. Akademisi punya kapasitas dalam penelitian dan pengembangan teknologi, sementara industri memiliki data, infrastruktur, dan kemampuan implementasi. Keduanya harus berjalan beriringan, ujarnya.

Menurutnya, kerja sama dengan PLN ini menjadi contoh ideal kemitraan berbasis riset yang berorientasi pada penerapan nyata.

Para pegawai PLN yang menempuh pendidikan di ITB tidak hanya belajar teori, tapi juga membawa persoalan lapangan yang kemudian dikaji secara ilmiah di kampus. Dari situ lahir solusi-solusi konkret yang bisa langsung diuji di unit pembangkit, kata Prof. Sanggono.

Ia juga menambahkan bahwa ITB siap mendukung program transisi energi pemerintah melalui pengembangan riset di bidang carbon capture and storage (CCS), co-firing biomass, green ammonia, serta gasifikasi batu bara menjadi hidrogen.

Dekarbonisasi PLN: Menuju Net Zero Emission 2060

PLN sendiri telah menyusun peta jalan atau roadmap menuju Net Zero Emission (NZE) 2060, sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia. Dalam roadmap tersebut, PLN menargetkan pengurangan emisi secara bertahap melalui kombinasi strategi teknologi, regulasi, dan pengembangan sumber energi baru terbarukan (EBT).

PLN sudah mulai menerapkan teknologi co-firing biomassa di sejumlah PLTU, serta uji coba co-firing ammonia di beberapa unit pembangkit besar. Selain itu, program penelitian carbon capture dan storage juga terus dikembangkan bersama ITB dan mitra industri lainnya, kata Bangun.

Hingga kini, kontribusi program co-firing biomassa terhadap pengurangan emisi karbon di lingkungan PLN Group telah mencapai sekitar 3 persen, dan terus meningkat seiring diversifikasi bahan bakar alternatif.

Testimoni Lulusan: Dari Muara Tawar hingga Tanjung Jati B

Selain Bangun, beberapa lulusan lain juga meneliti topik-topik strategis yang relevan dengan dekarbonisasi sektor energi.

Andrisky Muhammad, pegawai PLN Nusantara Power Unit Pembangkitan Muara Tawar di Bekasi, meneliti Evaluasi Teknoekonomi Integrasi CCS dengan PLTGU (Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap).

Harapan saya, hasil riset ini dapat diterapkan di lingkungan PLN, khususnya di pembangkit berbasis gas. Integrasi CCS dengan PLTGU dapat mengurangi emisi CO tanpa menurunkan efisiensi energi, ujarnya.

Ilmu yang kami peroleh di ITB sangat aplikatif. Semoga bisa menjadi kontribusi nyata dalam program Energy Transition Mechanism (ETM) di Indonesia, tambahnya.

Sementara itu, Reza Wahid Prasetyo dari Unit Pembangkitan Tanjung Jati B, Jepara, mengangkat penelitian Evaluasi Teknoekonomi Penerapan Co-Firing Green Ammonia di PLTU Tanjung Jati B.

Co-firing amonia merupakan salah satu strategi kunci dalam pengurangan emisi sektor kelistrikan. Amonia tidak menghasilkan karbon ketika dibakar, sehingga potensial menjadi pengganti parsial batu bara. Diharapkan ke depan teknologi ini bisa diterapkan di lebih banyak PLTU, jelas Reza.

Ia juga menekankan pentingnya dukungan riset jangka panjang dan regulasi insentif untuk mempercepat adopsi teknologi hijau di Indonesia.

Kita tidak bisa langsung beralih ke energi bersih sepenuhnya. Tetapi langkah-langkah seperti co-firing dan CCS adalah jembatan menuju pembangkit rendah emisi, ujarnya.

Dari Gasifikasi hingga Smart Grid: Inovasi yang Muncul dari Kampus

Lulusan lain, Ulul Azmi, dari Energi Prima Indonesia, meneliti topik Gasifikasi Batu Bara menjadi Hidrogen.

Transisi energi tidak berarti meninggalkan batu bara sepenuhnya. Melalui gasifikasi, batu bara bisa dikonversi menjadi hidrogen, yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar bersih, jelasnya.

Ini menjadi alternatif untuk memanfaatkan sumber daya domestik secara efisien sekaligus mendukung target bauran energi nasional.

Sedangkan Ferry Hidrayawan dari PLN Nusantara Power Unit Maintenance Supervision Overhaul, mengkaji CCS (Carbon Capture System) di PLTU JawaBali dari sisi keekonomian dan integrasi sistem kelistrikan cerdas.

Riset saya fokus pada analisis keekonomian CCS, termasuk bagaimana integrasi panas (heat integration) dan pengaruhnya terhadap sistem smart grid. Tantangannya adalah menemukan keseimbangan antara efisiensi dan biaya, jelas Ferry yang telah 7 tahun berkarier di PLN.

Membentuk SDM Unggul untuk Energi Masa Depan

Program kerja sama PLNITB ini bukan sekadar upaya pendidikan, tetapi juga investasi jangka panjang dalam membentuk insinyur unggul yang memahami dinamika teknologi energi bersih dan kebijakan lingkungan.

Dengan bekal ilmu yang diperoleh di kampus, para lulusan magister teknik kimia ini akan menjadi agen perubahan di unit-unit PLN. Mereka membawa semangat inovasi, kolaborasi, dan tanggung jawab terhadap keberlanjutan energi nasional, tutur Prof. Sanggono.

Bangun Sugito menutup dengan optimisme serupa:

Kami siap berkontribusi dalam upaya dekarbonisasi PLN. Dengan kolaborasi antara akademisi, praktisi, dan pemerintah, saya yakin Indonesia dapat mempercepat langkah menuju sistem energi yang bersih, berkelanjutan, dan berkeadilan.

Tentang Program Kerja Sama PLNITB

Program Magister Teknik Kimia kerja sama PLNITB merupakan bagian dari komitmen PLN dalam Human Capital Development for Energy Transition. Program ini menitikberatkan pada penelitian terapan di bidang energi bersih, efisiensi pembangkit, dekarbonisasi, serta teknologi hijau.

Sejak dimulai pada awal 2020-an, program ini telah meluluskan puluhan insinyur PLN yang kini tersebar di berbagai unit pembangkitan dari Sabang hingga Merauke. ITB berperan sebagai mitra akademik dalam pengembangan kurikulum, riset, dan bimbingan tesis, sementara PLN memberikan dukungan penuh melalui beasiswa, fasilitas riset, dan studi kasus industri.

Kami percaya bahwa masa depan energi Indonesia akan ditentukan oleh kualitas sumber daya manusianya, ujar Prof. Sanggono.

Kolaborasi semacam ini harus terus diperluas, agar riset kampus tidak berhenti di laboratorium, tapi bisa menjelma menjadi solusi nyata bagi bangsa.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar