Perang Mesin Slot di Warung Kopi Pagi Hari

Perang Mesin Slot di Warung Kopi Pagi Hari

Advertisement

Dunia yang Terputar di Balik Layar Ponsel

Pada sore hari, sebuah warung kopi terlihat ramai. Tidak ada suara percakapan antar pengunjung. Setiap orang sibuk dengan ponsel pintar mereka sendiri. Mereka bermain game, menantikan spin gratis, bonus harian, dan jackpot besar. Dunia mereka berputar hanya melalui layar ponsel masing-masing.

Khalil, seorang pemuda yang tampak menarik seperti aktor Korea, duduk di sudut paling sunyi dari warung kopi tersebut. Ia tertidur, mungkin sudah lama duduk di sana sejak pagi. Sementara itu, ponselnya terus berputar tanpa henti. Spin, spin, spin. Proses ini terus berlangsung tanpa lelah. Bahkan ponsel murah merah itu sudah mulai panas karena terlalu lama digunakan. Kabel pengisi daya terhubung tanpa henti ke sumber listrik.

Khalil akan terbangun jika proses spin berhenti. Namun, ia lebih memilih untuk terlelap seperti "bobok ayam" saat game seru di ponselnya terus berjalan, mencoba menangkap mangsa. Sejak pagi, Khalil yang malas pergi ke kampus belum berhasil mendapatkan "ikan" pun tidak. Ting tong dari ponselnya terdengar nyaring, mirip dengan suara ponsel lain di sekitar warung kopi. Asap rokok menyebar di seluruh ruangan, baik di dalam maupun luar.

Mereka semua menikmati proses ini. Bagi mereka, setiap proses adalah kesabaran seperti orang yang sedang memancing ikan. Meskipun belum ada ikan kecil pun, asalkan terus memancing, pasti akan mendapatkan ikan besar nanti.

Khalil belum makan pagi. Hanya secangkir kopi hitam. Makan siang juga terlewat. Ia hanya memesan sepotong kue dengan harga Rp1000. Ia memesan kopi lagi karena waktu magrib sudah dekat. Panggilan dari ibunya masuk, tetapi Khalil menolaknya karena sedang dalam proses spin yang cepat. Mungkin saja, ia akan mendapatkan ikan besar.

Satu, dua, tiga... Lepas lagi. Khalil mendengus. Ia mencoba lagi memancing. Spin terus berjalan. Pokoknya, spin saja dulu. Urusan terpancing atau tidak, pasti akan terpancing dengan sendirinya.

Sebuah pesan WhatsApp masuk, terlihat di layar ponsel Khalil:

Yang, udah bilang sama Ibu kalau bulan depan kita lamaran?

Cinta yang sedang menunggu di sana sampai azan magrib belum mendapatkan balasan dari Khalil. Yang jelas, Khalil sudah membacanya. Tapi, mau balas apa?

Ikan belum satupun terpancing. Spin terus dan terus.

Emas sudah Rp7 Jutaan, Bro! Andi, yang tadi menepuk pundak Khalil sebelum kembali ke kursinya di sudut lain warung kopi itu, mengingatkan Khalil pada kenyataan pahit itu.

Rp7 Juta lebih untuk 3,3 gram emas. Jika 10 mayam (1 mayam = 3,3 gram) saja maharnya dengan Cinta, bisa sampai Rp70 Juta lebih.

Rp70 Juta? pekik Khalil sampai membuat orang lain ikut terkejut. Beberapa menyelutuk.

10 mayam itu Rp77 Juta lebihlah,
Minimal 12 mayam,
Mana ada anak gadis Aceh 10 mayam,
Ada,
Rata-rata 12 mayam,
Ada yang 15 mayam,
Tetangga saya 25 mayam!

Khalil terbelalak. 25 mayam? Mau balas apa pesan Cinta. Tidak ada 1 mayam pun emas di tangannya. Kenapa pula bermain cinta kemarin kalau harus begini. Tabungan terkuras untuk spin-spin. Tapi spin belum ada yang berbuah hasil.

Khalil memengkik. Oh hidup yang susah. Kenapa harus main spin kalau tahu sebentar lagi ia akan bertunangan. Minimal 2 mayam untuk cincin tanda jadi sudah terpasang di jari manis Cinta. Tapi untuk 2 mayam emas itu sudah lenyap dari pagi ke malam ini. Habis sudah untuk spin. Spin yang menggoda itu.

Khalil mengarahkan jari telunjuknya ke "game" seru di ponsel miliknya yang masih ting tong dalam spin-spin. Tapi, tunggu dulu. Kadang, bisa dapat!

Khalil merebahkan tubuhnya. Tidur sebentar. Dan...

Ia bangun di azan Subuh. Warung kopi sudah berganti orang. Dan ponselnya padam. Pancingannya? Entahlah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar