
Peran Akuifer dalam Sumber Air dan Kepatuhan Lingkungan
Produksi air minum kemasan AQUA memberikan penjelasan bahwa air yang digunakan berasal dari akuifer, yaitu bagian dari sistem hidrogeologi pegunungan. Namun, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyampaikan ancaman serius jika Aqua terus mengambil air dari akuifer tersebut.
"Pemanfaatan air tanah dalam (akuifer) harus menjadi perhatian serius mengingat proses recharge air tanah dalam sangat lambat, bisa membutuhkan waktu ratusan tahun," ujar Menteri saat berbicara pada Minggu 26 Oktober 2025. "Kerusakan fungsi air tanah dalam (akuifer) sangat sulit untuk dipulihkan."
Oleh karena itu, Menteri menekankan pentingnya pemanfaatan air tanah dalam di daerah hulu dilakukan secara hati-hati dan dengan memperhatikan cadangan ketersediaannya agar tetap berkelanjutan. Untuk meminimalkan dampak lingkungan dari pengambilan air tanah dalam oleh produsen air kemasan, para produsen diminta untuk mulai mengoptimalkan pemanfaatan air permukaan.
Selain itu, tantangan dalam pemanfaatan sumber air tanah dalam (akuifer) sebagai air minum atau kemasan adalah terjadinya penurunan permukaan tanah. Hal ini berdampak serius terhadap kondisi wilayah hilir. Contohnya, pengambilan air tanah dalam di daerah hulu dapat menyebabkan penurunan permukaan tanah yang berpotensi meningkatkan risiko banjir serta mengganggu struktur bangunan.
"Selain itu, pemanfaatan air tanah dalam oleh produsen air kemasan tanpa kendali di hulu akan menghilangkan potensi pemanfaatan air tanah bagi pihak lainnya di bagian hulu," tambah Menteri.
Untuk mengoptimalkan pemanfaatan air permukaan, upaya intensif peningkatan kualitas dan kuantitas air permukaan harus dilakukan secara berkelanjutan. Langkah peningkatan ini harus menjadi prioritas bersama, dengan mengedepankan pemanfaatan secara lestari.
"Terhadap pemanfaatan air tanah dalam yang dilakukan oleh produsen air kemasan saat ini, harus dilakukan secara lestari dengan memperhatikan dampak pengambilan air tanah terhadap lingkungan. Untuk memastikan pengambilan dan pemanfaatan air tanah dalam secara lestari, maka perlu dilakukan pengawasan kepatuhan terhadap semua para produsen air kemasan yang menggunakan air tanah dalam (akuifer)," tegas Menteri.
Tantangan dan Solusi dalam Pengelolaan Akuifer
Penggunaan akuifer sebagai sumber air minum memang memiliki manfaat besar, namun juga membawa tantangan yang cukup kompleks. Salah satu masalah utamanya adalah penurunan permukaan tanah akibat pengambilan air yang berlebihan. Dampak ini tidak hanya merugikan lingkungan tetapi juga berpotensi merusak infrastruktur yang ada di wilayah hilir.
Selain itu, pengambilan air tanah dalam yang tidak terkendali dapat mengurangi ketersediaan air bagi masyarakat sekitar, terutama di daerah hulu. Ini menciptakan ketimpangan dalam akses terhadap sumber daya air yang sangat vital.
Untuk mengatasi hal ini, diperlukan langkah-langkah konkret seperti:
- Peningkatan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga keseimbangan ekosistem.
- Penerapan regulasi yang lebih ketat terhadap pengambilan air tanah.
- Pengembangan teknologi dan metode pengelolaan air yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, produsen air kemasan, dan masyarakat sangat penting dalam menjaga keberlanjutan penggunaan akuifer. Dengan pendekatan yang komprehensif, diharapkan dapat tercapai keseimbangan antara kebutuhan manusia dan perlindungan lingkungan.
Keberlanjutan Penggunaan Air Tanah
Penggunaan air tanah dalam (akuifer) yang berkelanjutan adalah kunci untuk menjaga keseimbangan ekologis dan kebutuhan masyarakat. Oleh karena itu, perlu adanya pengawasan yang ketat terhadap para produsen air kemasan yang menggunakan air tanah. Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa pengambilan air tidak melebihi kapasitas alami dan tidak merusak fungsi akuifer.
Dalam konteks ini, peran pemerintah sangat penting. Selain melakukan pengawasan, pemerintah juga perlu memberikan edukasi kepada masyarakat tentang pentingnya menjaga sumber daya air. Selain itu, diperlukan investasi dalam pengembangan teknologi pengelolaan air yang lebih inovatif dan efisien.
Komentar
Kirim Komentar