Kopi Sido Mulia: Kenangan yang Tak Pernah Pudar

Kopi Sido Mulia: Kenangan yang Tak Pernah Pudar

Advertisement

Aroma Kopi yang Membawa Kenangan

Aroma kopi selalu memiliki cara tersendiri untuk membawa ingatan kembali ke masa lalu. Ada sesuatu yang menenangkan di setiap uap panasnya, sesuatu yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata, hanya bisa dirasakan.

Bagi keluargaku, terutama aku dan almarhum Bapak, kopi bukan sekadar minuman pengusir kantuk, ia adalah bagian dari hidup, dari keseharian yang sederhana namun penuh kesan mendalam.

Harumnya Kopi Sido Mulia

Sejak kecil aku sudah akrab dengan kopi Sido Mulia khas Malang. Biji kopi yang digiling di Toko Hwie di Pasar Klojen itu telah menjadi bagian dari aroma rumah kami. Harumnya selalu memenuhi dapur setiap pagi, menandai awal hari yang baru.

Kopi tubruk kesukaan Bapak ini sudah ada sejak tahun 1953. Ibu selalu membeli fresh dan baru di Pasar Klojen di toko milik keluarga Hwie, Toko Sido Mulia yang masih eksis hingga saat ini.

Kopi Sido Mulia merupakan kopi Arabika dan Robusta yang berasal dari Dampit, kabupaten Malang. Ada beragam kopi Sido Mulia di tempat ini. Mulai dari yang biasa, spesial, dan premium.

Bapak, dengan kebiasaannya yang tak pernah lepas dari secangkir kopi hitam, seakan punya ritual yang tak bisa diganggu: menunggu air mendidih, menakar bubuk kopi tubruk, lalu menyeduhnya dengan penuh perhitungan. Ada kesakralan kecil dalam caranya menyapa pagi.

Di masa mudanya, Bapak adalah seorang perokok. Asap rokok dan aroma kopi menjadi dua hal yang tak terpisahkan darinya. Namun yang paling kuingat bukan tentang rokoknya, melainkan tentang kopi Sido Mulia yang selalu menemaninya di setiap waktu senggang. Mungkin, dari situlah aku belajar bahwa mencintai sesuatu bisa berarti menemukan ketenangan di tengah kesibukan hidup.

Bapak punya keyakinan yang unik. Ia berkata bahwa memberi anak kecil minum kopi bisa menghindarkan dari step, kejang akibat demam tinggi. Entah benar atau tidak, aku tak tahu. Tapi sejak aku berumur satu tahun, Bapak sudah mengenalkanku dengan kopi hitam Sidomulyo itu. Bukan hanya sekali dua kali aku mencicipinya.

Saat Bapak berbincang dengan tamu, aku sering dibiarkan menyeruput sedikit dari gelasnya. Lama-kelamaan aku malah menikmatinya. Ada kehangatan, ada rasa kedekatan yang sulit diganti dengan apa pun.

Kebiasaan yang Menjadi Kecintaan

Kebiasaan kecil itulah yang tumbuh menjadi kecintaan. Kopi Sido Mulia seolah menjadi teman setia di setiap masa hidupku. Ia menemaniku belajar saat sekolah, bergadang saat ujian, hingga mengisi waktu-waktu tenang ketika menulis atau bekerja.

Aromanya tak hanya membangkitkan semangat, tetapi juga menghadirkan bayangan wajah Bapak, duduk di kursi depan, menatap daun-daun jambu biji yang diterpa angin sambil menyeruput kopi tubruk panas.

Pindah ke Lain Kopi

Namun waktu terus berjalan. Dunia berubah, begitu juga selera manusia. Ketika kopi sachet mulai menjamur di pasaran, aku mulai mencicipinya. Ada sensasi baru, lebih praktis, lebih manis.

Aku pun jatuh cinta pada Indocaf plus krimer. Dua toples beling sepasang kopi dan krimernya saat ini masih kami gunakan untuk menyimpan gula dan krimer masih setia di rak dapur, saksi bisu perubahan seleraku dari kopi tubruk ke kopi instan.

Untuk cappuccino, pilihanku jatuh pada Good Day dan Indocaf, sementara untuk kopi hitam tanpa gula, aku mulai akrab dengan Nescaf Classic. Perlahan, aku beralih dari kopi tubruk Sidomulyo ke kopi tanpa ampas. Mungkin karena aku mulai menyukai kepraktisan, atau mungkin karena ingin menikmati rasa pahit kopi yang lebih halus. Meski begitu, setiap kali aku kembali mencicipi Sidomulyo, ada perasaan yang berbeda, seolah aku sedang kembali ke masa lalu yang lama tak kusapa.

Sido Mulia Sang Kopi Kenangan

Kopi Sido Mulia bukan sekadar minuman warisan keluarga, melainkan pengikat kenangan dengan Bapak.

Ia menyimpan cerita tentang masa muda beliau, tentang tawa yang dulu sering mengisi rumah, tentang kesederhanaan hidup di Malang tempo dulu. Sampai pada akhirnya, di tahun 1988, Bapak mulai berhenti minum kopi.

Kesehatannya menurun. Jantung dan tekanan darah tinggi membuatnya perlahan meninggalkan dua hal yang paling ia sukai: kopi dan rokok.

Sejak itu, aroma kopi tubruk di rumah kami tak lagi sekuat dulu. Tapi sesekali, aku tetap menyeduhnya diam-diam, bukan karena ingin melanggar anjuran, melainkan karena tak sanggup melepaskan kenangan yang tertinggal di setiap serbuknya.

Kini, setiap kali aku berjalan melewati Pasar Klojen, langkahku seperti otomatis berhenti di depan Toko Hwie "Sido Mulia", tempat kopi Sidomulyo digiling dan dijual sejak dulu. Toko itu masih berdiri, menjadi saksi perubahan zaman dan kini dikelola oleh generasi ketiga keluarga Hwie. Aroma kopi segar masih menyeruak dari balik mesin gilingnya, sama seperti puluhan tahun lalu. Setiap kali mencium aromanya, aku merasa seperti pulang ke rumah, ke masa di mana segalanya terasa sederhana dan hangat.

Sejarah Panjang Kopi Sido Mulia

Kopi Sido Mulia sendiri memiliki sejarah panjang di Malang. Dari penggilingan sederhana di pasar tradisional, kini ia menjadi bagian dari identitas lokal yang jarang diketahui banyak orang.

Di balik secangkir kopi itu, tersimpan kerja keras, tradisi, dan cinta yang diwariskan lintas generasi. Mungkin itulah yang membuatnya terasa berbeda: bukan sekadar karena rasanya, tapi karena kisah yang menempel di setiap tegukan.

Kopi Punya Ceritanya Sendiri

Kini, aku tak lagi mencari kesempurnaan rasa dari kopi. Bagiku, setiap jenis kopi punya ceritanya sendiri. Kopi sachet yang manis membawa kenangan masa kuliah dan pekerjaan; kopi tanpa gula mengajarkan ketegasan; sementara kopi Sidomulyo adalah bilik bagi semua kenangan masa kecilku.

Kadang, aku masih menyeduh Sido Mulia tanpa gula, menatap uapnya yang naik perlahan dari gelas, dan membiarkan ingatan mengalir. Di sana, selalu ada Bapak. Ada tawa yang samar, ada aroma pagi yang akrab, ada keheningan yang lembut. Semua hadir dalam secangkir kopi hitam yang pekat.

Kopi Sido Mulia telah menemaniku melewati berbagai fase hidup: masa belajar, masa kehilangan, hingga masa kini yang serba cepat. Ia adalah jembatan yang menghubungkan masa lalu dengan masa kini, juga doa diam yang terselip di antara aroma pahit dan harum yang menenangkan.

Bagi banyak orang, kopi hanyalah minuman. Tapi bagiku, ia sang penjaga kenangan yang mengajarkan bahwa sesuatu yang sederhana bisa punya makna mendalam bila diseduh dengan cinta.

Dan setiap kali aku menyesapnya, aku tahu: Bapak masih di sini, dalam setiap aroma yang menguar dari secangkir kopi hangat di tanganku.

Kopi memang bisa dingin. Tapi kenangan, selalu tetap hangat.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar