
KKP Dorong Nelayan Cirebon Adaptasi Standar Internasional
Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus mendorong nelayan di Cirebon, Jawa Barat, untuk mulai beradaptasi dengan standar internasional dalam praktik penangkapan ikan. Langkah ini dilakukan guna menjaga keberlanjutan sumber daya laut serta meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar global.
Direktur Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) KKP, Lotharia Latif, menyampaikan bahwa adaptasi tersebut sangat penting karena negara-negara tujuan ekspor kini semakin ketat dalam menuntut legalitas dan keberlanjutan hasil tangkapan ikan. Negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat telah mewajibkan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, kapal yang terdata, dan spesifikasi yang jelas. Hal ini menjadi fokus utama KKP dalam upaya memperkuat sektor perikanan nasional.
Negara-negara maju seperti Eropa dan Amerika Serikat sudah mensyaratkan penggunaan alat tangkap ramah lingkungan, kapal harus terdata, dan spesifikasinya jelas. Ini yang saat ini terus kita dorong, ujarnya di Cirebon, Minggu, 26 Oktober 2015.
Menurut Lotharia, adaptasi ini sangat penting agar nelayan Indonesia tidak tertinggal dari negara lain yang lebih dulu menyesuaikan diri dengan aturan global. Untuk itu, KKP terus memberikan pelatihan dan sertifikasi kepada nelayan agar mereka dapat bertransformasi menuju praktik penangkapan ikan yang berstandar internasional.
Sekarang, kapal-kapal sudah memiliki tanda identifikasi, rincian gross tonnage (GT), dan spesifikasinya, jelasnya.
Produksi Ikan Nasional dan Pasar Ekspor
Lotharia menyebutkan bahwa produksi hasil tangkapan ikan nasional pada 2024 mencapai sekitar 7 juta ton. Sedangkan pada Oktober 2025, angkanya mencapai sekitar 5 juta ton. Seluruh hasil tangkapan diarahkan untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik maupun ekspor.
Amerika Serikat, misalnya, sangat besar permintaannya untuk rajungan dari Indonesia. Nilai ekspornya tinggi, sayang jika ikan kita hanya dikonsumsi domestik, tuturnya.
Ia menambahkan, sektor perikanan tangkap nasional saat ini masih dalam tahap peralihan dari sistem konvensional menuju praktik modern. Meski belum sempurna, pembenahan terus dilakukan agar nelayan dapat menyesuaikan diri dengan skema aturan yang ada.
Kita pelan-pelan mentransformasi para nelayan supaya mereka bisa mengikuti aturan ini, kata Lotharia.
Fokus pada Konservasi dan Pengelolaan Sumber Daya Laut
Selain itu, pihaknya mendorong nelayan dan pemerintah daerah untuk memperhatikan aspek konservasi demi menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Konservasi kita perbaiki, mangrove kita benahi. Ke depan, program penangkapan ikan akan semakin dikendalikan, sedangkan budi daya akan ditingkatkan, ujarnya.
Upaya Peningkatan Kapasitas Nelayan
Untuk mendukung transformasi ini, KKP juga melakukan berbagai program pelatihan dan pendidikan bagi nelayan. Pelatihan ini mencakup penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan, pengelolaan data kapal, serta penerapan prinsip keberlanjutan dalam operasi penangkapan ikan. Tujuannya adalah memastikan nelayan mampu memenuhi standar internasional tanpa mengorbankan keberlanjutan ekosistem laut.
Tantangan dan Solusi
Meskipun banyak progres yang telah dicapai, tantangan tetap ada. Beberapa nelayan masih kesulitan dalam mengadopsi teknologi baru atau mematuhi regulasi yang lebih ketat. Namun, KKP terus berupaya memberikan dukungan melalui pelatihan, bimbingan teknis, dan penyediaan akses ke pasar ekspor yang lebih luas.
Dengan langkah-langkah ini, diharapkan sektor perikanan tangkap Indonesia dapat terus berkembang, menjaga keberlanjutan sumber daya laut, serta meningkatkan kesejahteraan para nelayan.
Komentar
Kirim Komentar