
Sejarah Kota Palembang yang Terkait dengan Sungai
Kota Palembang dikenal dengan julukan sebagai Kota Air karena sejarahnya yang erat kaitannya dengan sungai dan rawa. Namun, kondisi saat ini jauh berbeda dari masa lalu. Sungai-sungai yang dahulu mengalir di atas rumah-rumah kayu khas Palembang kini telah berubah menjadi daratan perumahan masyarakat, taman kota hingga gedung-gedung besar.
Robby Sunata, salah satu penggiat sejarah yang tergabung dalam komunitas Sahabat Cagar Budaya, menjelaskan bahwa selama era penjajahan Belanda, banyak sekali sungai yang akhirnya hilang karena pembangunan. Ia menyebutkan bahwa pada tahun 1890-an, terdapat sekitar 700 sungai yang merupakan anak-anak Sungai Musi. Saat ini, jumlah sungai di Palembang hanya sekitar 90 sungai. Perubahan ini dipengaruhi oleh era kolonialisme Belanda.
Aspek perdagangan pada masa itu juga memengaruhi luasan daratan yang dibangun oleh pihak Belanda. Hal ini menyebabkan peradaban Kota Palembang meluas. Robby menjelaskan bahwa dulu Palembang dipenuhi oleh rawa. Karena adanya banyak komoditas yang jatuh ke sungai, Belanda membangun daratan untuk akses perdagangan. Akibatnya, jumlah anak-anak sungai di Palembang mulai berkurang.
Masalah Pembuangan Sampah di Sungai
Masalah lain yang juga menjadi fokus diskusi adalah pembuangan sampah di sungai. Menurut temuan Robby, tidak ada regulasi pasti tentang menjaga kelestarian sungai di Palembang sejak dulu. "Kami belum menemukan regulasi terkait menjaga kelestarian sungai," ujarnya.
Di zaman dahulu, masyarakat lokal Palembang sering kali membuang sampah ke sungai. Namun, sampah yang dibuang tersebut adalah sampah organik. Meskipun demikian, di masa kini masyarakat harus lebih sadar akan pentingnya tidak membuang sampah ke sungai. Hal ini tidak hanya berbahaya bagi kesehatan, tetapi juga merusak citra Kota Palembang.
Zine Darihulu Volume 2: Lebih Banyak Informasi Tentang Sungai Palembang
Dalam pembahasan mengenai sungai di Palembang, Zine Darihulu Volume 2 akan membahas lebih banyak lagi hal-hal terkait. Zine ini dapat diperoleh di Palembang HARUM, yang terletak di Jalan Merdeka, Kota Palembang.
Perubahan Lingkungan dan Pengaruhnya terhadap Masyarakat
Perubahan lingkungan yang terjadi di Palembang tidak hanya terlihat dari hilangnya sungai, tetapi juga dari pergeseran fungsi lahan. Dulu, lahan yang berupa rawa dan sungai digunakan sebagai jalur transportasi dan sumber kehidupan. Sekarang, lahan tersebut berubah menjadi area permukiman dan infrastruktur modern.
Perubahan ini memiliki dampak signifikan terhadap masyarakat. Dulu, penduduk Palembang hidup berdampingan dengan alam, khususnya sungai dan rawa. Kini, mereka tinggal di tengah perkotaan yang semakin padat dan kurang terhubung dengan lingkungan aslinya.
Upaya Melestarikan Warisan Alam
Pentingnya melestarikan warisan alam dan budaya Palembang kini semakin disadari. Komunitas seperti Sahabat Cagar Budaya berupaya untuk menjaga nilai-nilai sejarah dan lingkungan. Mereka juga mencoba mengedukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga kebersihan sungai dan menghindari pembuangan sampah secara sembarangan.
Selain itu, partisipasi masyarakat dalam pelestarian lingkungan juga sangat diperlukan. Dengan kesadaran yang meningkat, masyarakat dapat berkontribusi dalam menjaga kebersihan sungai dan menjaga citra kota yang indah.
Kesimpulan
Palembang yang dulu dikenal sebagai Kota Air kini mengalami perubahan drastis. Sungai-sungai yang dahulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari kini berubah menjadi daratan. Perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk pembangunan dan perubahan pola hidup masyarakat.
Namun, meskipun situasi telah berubah, penting untuk tetap melestarikan warisan alam dan budaya kota. Dengan kesadaran dan upaya bersama, Palembang dapat tetap menjaga identitasnya sebagai Kota Air yang kaya akan sejarah dan keindahan alam.
Komentar
Kirim Komentar