Kisah Pengrajin Mainan Bantul yang Bertahan di Tengah Persaingan Impor

Kisah Pengrajin Mainan Bantul yang Bertahan di Tengah Persaingan Impor

Kisah Pengrajin Mainan Bantul yang Bertahan di Tengah Persaingan Impor

Permainan Edukasi Lokal yang Bertahan di Tengah Persaingan

Di tengah gempuran produk permainan impor, seorang warga Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil mempertahankan bisnisnya dengan memproduksi dan menjual ratusan jenis permainan edukasi. Bisnis ini dipimpin oleh Siti Rachma Yuliati, yang dikenal sebagai pemilik dari Yungki Edutoys. Di bawah usaha ini, ia menghasilkan lebih dari 200 jenis permainan untuk anak-anak yang dirancang agar bisa membantu proses belajar.

Advertisement

Perusahaan ini berada di Jalan Ahmad Wahid Nomor 4, Ngentak, Kalurahan Baturetno, Kapanewon Banguntapan, Kabupaten Bantul. Siti, yang berusia 61 tahun, mengatakan bahwa menjalankan bisnis ini bukanlah hal mudah. Ia harus memastikan setiap produk aman dan berguna bagi anak-anak.

"Kami juga menghadapi persaingan yang ketat karena banyak UMKM yang bermunculan dan produk permainan impor yang tersedia di pasaran. Namun, kualitas tetap menjadi prioritas utama," ujarnya.

Selama pandemi Covid-19, bisnis Siti juga sempat terganggu. Sebelumnya, omzet per tahun bisa mencapai Rp100 juta hingga Rp200 juta, namun setelah pandemi, angka tersebut turun di bawah Rp100 juta per tahun. Meskipun begitu, ia tetap berupaya memperkenalkan produknya baik secara online maupun offline.

"Saat ini, pemasaran kami lebih banyak dilakukan melalui online. Kami melayani pengiriman ke seluruh Indonesia. Ini penting karena ada sekitar 13 karyawan yang membutuhkan pendapatan untuk kebutuhan sehari-hari. Jadi, kami harus tetap berkembang dan bertahan," tambahnya.

Awal Mula Ide Usaha

Ide bisnis ini telah berjalan sejak tahun 2010. Sebelumnya, Siti sering membantu ibunya yang bekerja sebagai guru TK. Saat mengajar, ibu Siti sering menggunakan alat peraga agar materi lebih mudah dipahami oleh anak-anak.

Setelah menikah, ia akhirnya memberanikan diri untuk meminta izin kepada suaminya untuk memulai bisnis membuat permainan edukasi. Tujuannya adalah untuk membantu perkembangan fisik dan kognitif anak melalui permainan yang menyenangkan.

Jenis Permainan Edukasi yang Dibuat

Siti menjelaskan bahwa di tempatnya terdapat lebih dari 200 bentuk permainan edukasi. Salah satu contohnya adalah puzzle metamorfosis. Dalam permainan ini, anak-anak dapat belajar tentang proses perkembangan hidup makhluk hidup. Misalnya, mereka bisa belajar tentang metamorfosis hewan dengan menyusun potongan puzzle.

Dengan begitu, daya ingat anak dapat terasah dan meningkat. Seluruh mainan yang dibuat Siti berasal dari kayu MDF dan menggunakan cat non-toxic. Hal ini membuat anak merasa aman saat bermain dan tidak menimbulkan bau menyengat atau risiko keracunan.

Proses Pembuatan Mainan

Proses pembuatan mainan puzzle metamorfosis dimulai dengan membentuk kayu MDF sesuai pola. Selanjutnya, dilakukan pengeboran dan pemotongan. Karena ini adalah puzzle metamorfosis, ada lapisan tambahan di bagian bawah dengan teknik yang sama. Setelah itu, semua bagian ditempel atau dilem dengan alas dan kayu digosok hingga halus. Potongan kayu kemudian dicat sesuai dengan pembagian warna.

Setelah itu, langkah berikutnya adalah pengeringan cat, pengemasan, hingga pemasaran ke konsumen. Harga jual produk permainan edukasi ini cukup beragam, mulai dari Rp10.000 hingga Rp400.000 per item. "Harga jual produk kami bervariasi sesuai dengan bentuknya," tutup Siti.



Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar