Ketika Anak Benci Ayah Karena Sibuk, Ini yang Bisa Dilakukan Ibu

Ketika Anak Benci Ayah Karena Sibuk, Ini yang Bisa Dilakukan Ibu

Advertisement

Perasaan Benci Anak terhadap Ayah: Bagaimana Orang Tua Menanggapinya?

Kehadiran ayah dalam kehidupan anak tidak hanya sekadar sebagai figur yang menyediakan kebutuhan fisik, tetapi juga sebagai sumber dukungan emosional. Namun, ketidakhadiran ayahbaik secara fisik maupun emosionalsering kali menimbulkan perasaan kecewa hingga benci pada diri anak. Hal ini bisa terjadi karena berbagai alasan, seperti ayah yang terlalu sibuk bekerja, tidak ada di rumah, atau bahkan sudah tidak lagi menjadi bagian dari kehidupan anak.

Masalah ini sering dikenal dengan istilah fatherless, yaitu situasi di mana seorang anak tumbuh tanpa kehadiran figur ayah. Kondisi ini bisa terjadi karena ayah meninggal, bercerai, atau hanya hadir secara fisik namun tidak memberikan perhatian emosional yang cukup. Ketika anak merasa diabaikan atau tidak diperhatikan oleh ayahnya, mereka bisa mengembangkan perasaan negatif terhadap orang tua tersebut.

Validasi Emosi Anak sebagai Langkah Awal

Menurut psikolog klinis Widya S. Sari, M.Psi, langkah pertama yang harus dilakukan oleh ibu dan orang dewasa lainnya adalah memvalidasi perasaan anak. Dengan memvalidasi, anak akan merasa didengar dan dipahami, sehingga bisa membantu mereka mengelola emosi yang muncul.

Anak merasakan seperti itu, apa sih yang anak alami. Jadi perlu digali bagaimana anak memaknai peristiwa yang dialami, ujarnya. Memahami perasaan anak merupakan kunci penting agar proses penyembuhan dapat terjadi. Dengan cara ini, anak bisa belajar untuk mengeluarkan emosinya secara sehat, bukan justru menyimpannya hingga memicu masalah lebih lanjut.

Beberapa cara yang bisa dilakukan ibu untuk membantu anak mengekspresikan perasaannya antara lain:

  • Menulis diary atau melakukan journaling
  • Bermain musik
  • Menggambar atau melukis

Pilihan-pilihan ini bisa menjadi sarana bagi anak untuk menyalurkan perasaan negatifnya secara positif.

Respons yang Bijak dalam Menanggapi Kebencian Anak

Meskipun anak menunjukkan rasa benci terhadap ayahnya, respons yang diberikan oleh lingkungan sekitar sangat penting. Ibu dan orang dewasa lainnya perlu bersikap bijak dalam menanggapi hal ini. Jangan sampai kebencian anak disalurkan dalam bentuk yang destruktif, misalnya dengan mengompori anak untuk membenci ayahnya secara berlebihan.

Ketika anak mengungkapkan bahwa dia punya rasa benci dan kecewa terhadap ayahnya, lingkungan perlu bijak supaya anak tidak menjadikan perasaan itu sebagai hal yang destruktif buat dia, jelas Widya. Mengompori anak dengan ucapan negatif tentang ayah bisa membuat persepsi anak menjadi salah, terutama jika ayah memiliki alasan tertentu untuk tidak bisa hadir sepenuhnya.

Tidak semua ayah memiliki waktu yang cukup untuk bermain dan menemani anak. Beberapa dari mereka mungkin bekerja keras demi mencari nafkah, sehingga tidak bisa selalu hadir. Namun, ini tidak berarti ayah bisa lepas tangan dari tanggung jawabnya. Yang penting adalah adanya komunikasi dan pengertian antara ayah dan anak.

Bahaya Generalisasi dan Pengaruhnya terhadap Anak

Salah satu risiko dari kebencian anak terhadap ayah adalah kemungkinan anak melakukan generalisasi. Misalnya, anak bisa menganggap semua laki-laki memiliki sifat negatif seperti ayahnya, hanya karena pengaruh lingkungan. Hal ini bisa berdampak buruk pada perkembangan sosial dan emosional anak di masa depan.

Oleh karena itu, pendampingan emosional dari ibu dan orang dewasa lainnya sangat penting. Dengan dukungan yang tepat, anak bisa belajar untuk mengelola perasaan benci secara sehat, serta tidak terjebak dalam sikap negatif yang bisa menghambat pertumbuhannya.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar