Jejak yang Hilang: Bone dalam Kekacauan Budaya

Jejak yang Hilang: Bone dalam Kekacauan Budaya

Advertisement

Di masa lalu, Bone dikenal sebagai kota beradat, sebuah julukan yang tak sekadar romantik, tetapi merepresentasikan peradaban Bugis yang menjunjung tinggi tata nilai, sopan santun, dan tatanan sosial yang berakar kuat pada adat. Kini, ketika modernitas menembus ruang-ruang sosial hingga pelosok desa, identitas budaya Bone seperti mengalami disorientasi. Jejak-jejak yang dulu menjadi sumber kebanggaan dan identitas mulai memudar di tengah gemuruh pembangunan dan politik yang kian pragmatis.

Budaya yang Ditinggalkan oleh Zaman

Budaya Bugis Bone selama berabad-abad membentuk karakter masyarakatnya. Nilai-nilai seperti lempu (kejujuran), getteng (keteguhan), tongeng (berkata benar), dan siri (harga diri) bukan sekadar ajaran moral, melainkan kerangka etik dalam kehidupan sosial dan politik. Dulu, nilai-nilai itu menjadi dasar dalam mengatur perilaku sosial dan hubungan kekuasaan di tingkat lokal. Namun kini, budaya seperti itu kehilangan tempat dalam ruang publik. Politik dan pembangunan yang seharusnya berakar pada kearifan lokal justru lebih banyak digerakkan oleh kepentingan praktis dan orientasi jangka pendek.

Budaya yang dulu hidup dalam keseharian masyarakat kini lebih sering hadir sebagai ornamen dalam upacara atau seremoni resmi. Tari tradisional, busana adat, atau rumah panggung yang megah masih dipertahankan, tetapi hanya sebagai simbol. Di luar itu, budaya jarang diperlakukan sebagai kerangka berpikir atau sumber nilai yang menuntun arah pembangunan. Fenomena ini menggambarkan pelemahan akar: tradisi dihadirkan, tetapi tidak lagi dihidupi.

Dalam kajian Dialektika Tradisi dan Modernitas (Arsitektur Regionalisme Bone, 2021) dijelaskan bahwa kebudayaan Bone kini berada pada fase tarik-menarik antara dua arus: mempertahankan keaslian lokal atau menyesuaikan diri dengan arus modernisasi. Pergeseran ini tidak sekadar soal bentuk fisik, tetapi menunjukkan perubahan cara pandang masyarakat terhadap makna ruang dan nilai-nilai simboliknya.

Di sisi lain, upaya pemerintah membangun kembali Bola Soba (rumah adat Bone) yang terbakar pada 2021 justru menjadi contoh paradoks. Alih-alih menjadi simbol kebangkitan budaya, proyek itu terseret polemik anggaran dan sengketa lahan. Pembangunan rumah adat yang seharusnya menjadi monumen kultural berubah menjadi wacana politis. Ironisnya, warisan budaya yang mestinya dijaga bersama justru menjadi sumber ketegangan antara pemerintah, masyarakat, dan budayawan.

"Budaya tidak mati karena waktu, tetapi karena manusia berhenti memaknai"

Krisis Identitas dan Politisasi Budaya

Krisis identitas yang dialami Bone bukan sekadar akibat perubahan zaman, melainkan juga hasil dari politisasi budaya yang berlebihan. Seperti diungkap dalam jurnal Transformasi Nilai Budaya Bugis Bone (Nur, 2019), modernisasi tanpa basis nilai mengakibatkan terjadinya dislokasi makna, yakni ketika simbol budaya tetap hadir, tetapi kehilangan substansi etisnya. Tradisi dipertahankan di permukaan, tetapi nilai-nilai yang melandasinya tak lagi dihidupi.

Fenomena ini dapat dilihat dalam banyak aspek kehidupan sosial. Bahasa Bugis perlahan ditinggalkan oleh generasi muda yang lebih fasih berbahasa Indonesia, bahkan slang digital. Upacara adat yang dulu sakral kini lebih sering diperlakukan sebagai tontonan wisata. Sementara itu, perhatian pemerintah terhadap revitalisasi kebudayaan masih parsial: lebih menekankan pada festival atau pameran budaya ketimbang pendidikan dan internalisasi nilai (keduanya tentu sama-sama penting, tetapi akan lebih baik jika beriringan).

Politisasi budaya juga memperparah keadaan. Dalam banyak konteks, budaya sering digunakan untuk kepentingan pencitraan, bukan untuk pembelajaran. Festival budaya diselenggarakan, tetapi maknanya berhenti di panggung. Program pelestarian digalakkan, tetapi hanya untuk memenuhi laporan. Dalam situasi seperti itu, budaya kehilangan otoritas moralnya dan berubah menjadi alat legitimasi politik semata.

Menemukan Kembali Jejak yang Terlupakan

Krisis identitas budaya Bone sejatinya bukan akhir dari segalanya. Ia justru menjadi panggilan untuk melakukan refleksi dan pembaruan. Dalam perspektif kebudayaan, kehilangan adalah peluang untuk menemukan kembali. Bone masih memiliki komunitas adat, budayawan, dan akademisi yang berjuang menjaga kearifan lokal, meski kerap tanpa dukungan memadai. Upaya revitalisasi budaya harus dimulai dari pendidikan dan kesadaran masyarakat. Sekolah-sekolah hingga media lokal juga perlu memberi ruang lebih besar bagi sejarah dan sastra Bugis Bone agar generasi muda memahami akar mereka sendiri.

Bone hari ini berada di persimpangan. Jejak budaya yang terlupakan bukanlah sekadar kehilangan artefak, melainkan kehilangan arah. Jika pembangunan tidak berpijak pada nilai, semua kemajuan hanya akan meninggalkan ruang kosong di tengah masyarakat. Bone bisa tumbuh menjadi daerah yang modern tanpa kehilangan jati dirinya, asalkan pembangunan diarahkan untuk menumbuhkan kesadaran terhadap nilai, bukan sekadar menambah bangunan.

Karena pada akhirnya, budaya bukan soal masa lalu, melainkan tentang bagaimana kita memaknai masa kini. Bone tidak harus menjadi museum adat, tetapi juga tidak boleh menjadi kota yang lupa asalnya. Identitas budaya tidak hidup dari batu dan kayu, tetapi dari kesadaran kolektif masyarakat yang mau menjaga dan meneruskannya.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar