
Pameran Warisan Jiwa: Melestarikan Seni Lukis Tradisional
Di tengah maraknya tren seni digital berbasis AI, sekelompok anak muda justru memilih kembali ke akar dengan memperkenalkan kekayaan seni lukis tradisional melalui pameran bertajuk Warisan Jiwa. Pameran ini menawarkan wadah bagi generasi muda untuk berkreasi sambil berbuat sosial.
Pameran yang diselenggarakan di Ciputra Artpreneur, Jakarta, menampilkan 110 karya lukis bernilai total sekitar Rp 2,5 miliar. Tidak hanya sebagai ajang pameran seni, Warisan Jiwa juga menjadi gerakan solidaritas dari generasi Z. Hasil penjualan karya seni dalam acara ini sebagian besar akan disumbangkan untuk membangun klinik kesehatan gratis di Cengkareng, Tangerang. Hingga hari pembukaan, beberapa lukisan sudah terjual dengan nilai mencapai Rp 200 juta.
Natalie Airlangga Hartarto, pendiri Yayasan Cahaya Cita, menjelaskan bahwa tujuan dari pameran ini adalah memperkenalkan kembali budaya dan warisan Indonesia kepada anak muda tanpa campur tangan AI. Menurutnya, seni memiliki kekuatan untuk menyatukan berbagai latar belakang manusia.
"Kami ingin memperkenalkan kembali budaya dan warisan Indonesia kepada anak muda tanpa campur tangan AI. Seni punya kekuatan untuk menyatukan berbagai latar belakang manusia," ujarnya.
Keterlibatan Generasi Muda dalam Seni Lukis
Tidak ada batasan usia bagi para pelukis yang ingin berpartisipasi dalam pameran ini. Beberapa di antaranya bahkan masih berusia 15 tahun. Keberagaman usia dan gaya lukisan menjadi cermin semangat inklusif yang ingin ditonjolkan oleh Warisan Jiwa.
Hasil penjualan karya akan digunakan untuk membangun klinik dengan berbagai fasilitas seperti sunatan massal, operasi katarak, dan perawatan bibir sumbing. Natalie menekankan bahwa karya seni ini tidak hanya indah dipandang, tetapi juga memiliki makna nyata yang bisa menyembuhkan.
Barindra Surjaudaja, pendiri Cahaya Cita lainnya, menegaskan bahwa gerakan ini juga menjadi ruang apresiasi bagi para seniman lokal. Banyak pelukis di Indonesia yang memiliki karya luar biasa namun belum mendapatkan ruang untuk dikenal publik.
"Pameran seperti ini membantu mereka mendapat eksposur yang layak," ujarnya.
Dukungan dari Ciputra Artpreneur
Presiden Direktur Ciputra Artpreneur Rina Ciputra yang turut membuka acara tersebut menyambut positif semangat muda. Dia memperpanjang masa pameran hingga 28 Oktober 2025 agar lebih banyak pengunjung dapat menikmati karya yang dipajang.
"Saya terharu melihat anak muda membawa semangat sosial lewat seni. Inilah cita-cita ayah saya, almarhum Pak Ciputra agar tempat ini menjadi rumah bagi seniman Indonesia," tutur Rina.
Dia berharap Warisan Jiwa menjadi inspirasi lahirnya lebih banyak gerakan seni yang membawa dampak sosial positif di masa depan.
Kesimpulan
Pameran Warisan Jiwa akan berlangsung hingga Selasa (28/10/2025) di Ciputra Artpreneur, Jakarta. Sebuah langkah nyata dari generasi Z yang memilih melestarikan jiwa seni manusia bukan menggantinya dengan algoritma. Dengan menggabungkan seni, sosial, dan kepedulian terhadap sesama, pameran ini menjadi contoh bagaimana seni bisa menjadi alat perubahan positif.
Komentar
Kirim Komentar