
Festival Gandrung Sewu 2025: Semangat Generasi Muda Melestarikan Budaya
Ribuan pelajar di Banyuwangi menunjukkan semangat luar biasa dalam melestarikan budaya daerah melalui penyelenggaraan Festival Gandrung Sewu 2025. Acara yang digelar di Pantai Marina Boom pada hari Sabtu (25/10/2025) menampilkan pertunjukan kolosal dengan tema Payung Agung: The Diversity of Culture. Pertunjukan ini menggambarkan pentingnya perlindungan dan kebersamaan dalam keberagaman budaya Nusantara.
Sebanyak 1.350 penari muda dari berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Taman Kanak-Kanak hingga Sekolah Menengah Atas, tampil dalam pertunjukan ini. Mereka terpilih melalui proses seleksi ketat dan telah berlatih selama beberapa bulan untuk menampilkan tari Gandrung, yang merupakan ikon budaya Bumi Blambangan. Tari ini telah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia.
Bagi sebagian peserta, Gandrung Sewu bukan hanya sekadar panggung seni, tetapi juga bentuk tanggung jawab generasi muda dalam menjaga identitas daerah. Salah satu penari, Andini Masayu, yang berasal dari SMA di Banyuwangi, mengatakan bahwa ia sudah ikut dalam festival ini sejak tahun 2018.
Meskipun latihan sangat berat, saya bangga bisa melanjutkan tradisi yang dulu juga dilakukan oleh ibu saya, ujarnya. Ia berharap regenerasi penari Gandrung akan terus berjalan agar kesenian khas Banyuwangi tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga warisan yang hidup di hati masyarakat muda.
Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kementerian Pariwisata, Dwi Marhen Yono, menilai keterlibatan generasi muda menjadi kekuatan utama dalam menjaga kelestarian seni tradisi di tengah arus modernisasi. Ia menyebutkan bahwa Festival Gandrung Sewu bukan hanya atraksi wisata, tetapi juga simbol keberhasilan Banyuwangi dalam melakukan regenerasi pelaku seni.
Anak-anak muda terlibat langsung, dan itu sangat penting untuk keberlanjutan budaya, ujar Dwi. Menurutnya, sinergi antara pelajar, seniman lokal, dan pemerintah daerah telah menjadikan Gandrung Sewu sebagai model pelestarian budaya berbasis masyarakat yang berdaya ekonomi.
Festival yang masuk dalam program Kharisma Event Nusantara (KEN) ini tidak hanya menarik wisatawan domestik dan mancanegara, tetapi juga membuka ruang bagi generasi muda Banyuwangi untuk meneguhkan jati diri sebagai penerus warisan seni dan budaya daerahnya.
Peran Penting Generasi Muda dalam Pelestarian Budaya
- Pembelajaran Tradisional: Pelajar dari berbagai tingkatan pendidikan terlibat langsung dalam pembelajaran tari Gandrung, yang memperkuat pemahaman mereka tentang nilai-nilai budaya lokal.
- Kolaborasi dengan Seniman Lokal: Keterlibatan seniman lokal dalam proses latihan dan pertunjukan memastikan bahwa tari Gandrung tetap hidup dan berkembang.
- Dukungan Pemerintah Daerah: Pemerintah setempat memberikan dukungan baik secara finansial maupun logistik untuk memastikan keberlangsungan festival ini.
Tantangan dan Peluang
Meskipun festival ini sukses, ada tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah perubahan perilaku masyarakat yang cenderung lebih tertarik pada budaya modern. Namun, melalui inisiatif seperti Gandrung Sewu, generasi muda dapat menjadi penggerak utama dalam menjaga keberlanjutan budaya daerah.
Selain itu, festival ini juga membuka peluang ekonomi bagi masyarakat setempat. Wisatawan yang datang tidak hanya menikmati pertunjukan, tetapi juga membeli produk lokal, sehingga meningkatkan perekonomian masyarakat.
Kesimpulan
Festival Gandrung Sewu 2025 menjadi contoh nyata bagaimana generasi muda dapat berkontribusi dalam melestarikan budaya daerah. Melalui partisipasi aktif dan kerja sama dengan berbagai pihak, budaya Banyuwangi tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang dan dikenal oleh banyak orang.
Komentar
Kirim Komentar