
Perluasan Sistem Peringatan Cuaca Ekstrem dan Tantangan yang Dihadapi
Meskipun Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) telah memperluas sistem peringatan cuaca ekstrem dalam beberapa tahun terakhir, data terbaru menunjukkan bahwa sekitar 45% negara di dunia masih belum memiliki sistem peringatan dini multi bahaya (Multi Hazard Early Warning Systems/MHEWS) yang memadai. Hal ini menunjukkan adanya ketimpangan yang signifikan dalam kesiapan berbagai negara menghadapi bencana alam.
Berdasarkan laporan WMO, negara-negara tanpa sistem peringatan dini mencatat angka kematian enam kali lebih tinggi akibat bencana dibandingkan negara dengan sistem lengkap. Selain itu, jumlah orang yang terdampak bencana juga empat kali lebih banyak. Ini menunjukkan betapa pentingnya sistem peringatan dini dalam melindungi nyawa manusia dan mencegah kerugian yang lebih besar.
Sejak 2022, WMO bekerja sama dengan badan PBB lainnya untuk meluncurkan inisiatif Early Warnings for All, dengan target agar setiap orang di dunia terlindungi dari bencana alam paling lambat pada tahun 2027. Namun, tantangan utama tetap ada, terutama dalam hal infrastruktur dan pendanaan. Negara berkembang dan wilayah kepulauan kecil yang rawan bencana seringkali mengalami kesulitan dalam membangun sistem peringatan dini yang efektif.
Untuk mengatasi kesenjangan ini, WMO berencana membentuk gugus tugas global mulai Januari 2026. Gugus tugas ini akan meninjau kembali prioritas kerja berdasarkan kondisi finansial dan peluang baru, seperti pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) dalam pemodelan cuaca dan sistem peringatan dini. Meski demikian, organisasi ini menegaskan bahwa inovasi teknologi saja tidak cukup tanpa dukungan politik dan pendanaan jangka panjang dari negara anggota dan lembaga donor.
Tidak seorang pun seharusnya kehilangan nyawa karena kurangnya peringatan dini, ujar Sekretaris Jenderal WMO, Celeste Saulo. Kami membutuhkan kolaborasi global, bukan hanya komitmen di atas kertas.
Dalam lima dekade terakhir, WMO mencatat lebih dari dua juta orang meninggal dunia akibat bencana cuaca, air, dan iklim. Sebanyak 90% korban berasal dari negara berkembang, di mana sistem peringatan dini dan mitigasi masih terbatas. WMO menyebut bahwa setiap 1 dollar AS investasi dalam sistem peringatan dini dapat menghemat hingga 15 kerugian ekonomi di masa depan. Karena itu, organisasi ini mendesak negara-negara maju untuk memperkuat kontribusi finansial, bukan hanya untuk memperbaiki sistem nasional, tetapi juga membantu negara lain yang masih tertinggal.
Meski menghadapi keterbatasan anggaran, WMO menegaskan akan tetap memprioritaskan program inti seperti pemantauan iklim, pemodelan cuaca ekstrem, serta pertukaran data meteorologi global. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap fenomena cuaca ekstrem yang semakin sering terjadi, mulai dari gelombang panas di Eropa, badai tropis di Pasifik, hingga kekeringan ekstrem di Afrika Timur.
Perubahan iklim tidak menunggu kita. Maka, sistem peringatan dini harus menjadi tameng pertama yang berfungsi di setiap negara, ujar Saulo.
WMO memperingatkan adanya krisis pendanaan yang mengancam program global Early Warnings for All, di tengah meningkatnya ancaman bencana akibat perubahan iklim. Hingga akhir Agustus 2025, WMO mencatat tunggakan iuran dari negara anggota mencapai 48 juta franc Swiss atau sekitar 60 juta dollar AS, yang setara dengan dua pertiga anggaran tahunan lembaga itu. Amerika Serikat menjadi salah satu negara dengan tunggakan terbesar, mencapai lebih dari 30 juta franc Swiss.
Kondisi ini memaksa WMO melakukan restrukturisasi internal, termasuk pemangkasan 26 posisi pegawai dan pembatasan biaya operasional, seperti perjalanan dinas internasional. Situasi keuangan yang tidak stabil ini berisiko memperlambat upaya penyelamatan nyawa melalui sistem peringatan dini global, kata Saulo.
Komentar
Kirim Komentar