Untuk Diriku, Janjikan Tidak Tua Dengan Rasa Bersalah

Untuk Diriku, Janjikan Tidak Tua Dengan Rasa Bersalah

Ada masa ketika kita merasa hidup ini berjalan di bawah bayang-bayang yang tak pernah pergi. Bayangan itu bukan milik orang lain, melainkan berasal dari diri sendiri. Bayangan yang tercipta dari kesalahan yang dulu pernah kita buat, dari keputusan yang tak lagi bisa diubah, dari kata-kata yang seharusnya tak pernah diucapkan. Kita berjalan, tumbuh, dan menua, tapi kadang rasa bersalah itu tetap mengikuti, menempel di hati seperti noda yang tak bisa hilang walau sudah dicuci berkali-kali oleh waktu.

Advertisement

Dalam beberapa waktu, hati tanpa sadar bertanya "Sudahkah aku menjadi diriku yang seharusnya?" Bukan karena gagal, bukan pula karena kehilangan, tapi karena beban kecil yang bernama "penyesalan dan perasaan bersalah". Kita hidup dari satu keputusan ke keputusan lain, dan entah sejak kapan, kita mulai takut menua bukan karena rambut yang memutih, melainkan karena pikiran yang terus mengingat hal-hal yang tak bisa diubah.

Rasa bersalah memang aneh, karena perasaan ini terkadang muncul secara tiba-tiba saja. Perasaan itu selalu muncul dan membuat kita ragu untuk bahagia, seolah kebahagiaan adalah bentuk pengkhianatan kita terhadap masa lalu. Padahal waktu tidak pernah meminta kita untuk terus menyesali, tapi entah kenapa hati selalu merasa gelisah memikirkannya.

Ada masa ketika kita selalu berpikir, bahwa penyesalan adalah bentuk tanggung jawab. Jadi jika kita berhenti merasa bersalah, itu artinya kita sudah melupakan kesalahan yang telah kita lakukan. Ada bagian dalam diri kita yang tak henti-hentinya menuntut, entah untuk selalu benar, selalu baik, ataupun untuk selalu kuat.

Setiap manusia punya titik lemah, yaitu masa lalu. Ada yang menghindarinya, ada yang menertawakannya, tapi tidak sedikit pula yang diam-diam tenggelam di dalamnya. Kita pasti pernah berada di titik itu, saat satu kesalahan kecil saja bisa menghancurkan kepercayaan diri kita. Bahkan ironisnya, kita terkadang terlalu keras, terlalu kaku, dan terlalu cepat memvonis bahwa kita tidak pantas untuk dimaafkan.

Tidak ada pengadilan yang berhak menuntut untuk kesalahan pribadi kita, selain hati dan pikiran kita sendiri. Dan sering kali, hati yang lelah dengan rasa bersalah justru menjadi hakim yang paling kejam kepada diri kita sendiri. Setiap kegagalan kita sidang, setiap penyesalan kita hukum, dan setiap ketidaksempurnaan kita nilai dengan standar yang kejam.

Tidak dapat dipungkiri, bahawa kita sering kali terlalu keras pada diri kita sendiri. Kita menghakimi diri seolah harus selalu benar, harus selalu kuat, dan harus selalu tahu apa yang dilakukan. Kita tentukan sendiri arahnya, kita sesali sendiri kesalahannya, dan kita hakimi sendiri. Padahal kita tahu, bahwa setiap orang tidak ada yang lahir dengan arah yang sempurna untuk menuju kebahagiaan.

Rasa bersalah memang mudah tumbuh di hati yang lembut, terkadang rasa itu muncul dari kepedulian ataupun dari keinginan untuk menjadi lebih baik. Tapi jika tidak dijaga, rasa itu bisa berubah menjadi rantai yang menahan langkah kita untuk tumbuh.

Anehnya, kita justru lebih mudah memaafkan orang lain dibanding diri sendiri. Kita terbiasa bilang, "Tak apa, manusiawi kok, lets try again" kepada teman yang gagal, tapi saat diri kita sendiri yang jatuh, kita tidak jarang mengutuk diri kita sendiri "Kenapa aku begitu bodoh?". Jadi jika ditarik garis lurus, luka yang tidak terlihat berupa rasa bersalah itu justru lahir dari ketidaksanggupan kita memaafkan diri sendiri.

Itulah sebabnya, luka akibat rasa bersalah lebih sering menetap dan menjadi kerak di hati kita. Karena luka itu bukanlah luka yang datang dari orang lain, melainkan dari ekspektasi yang kita ciptakan sendiri. Luka yang kita ciptakan di antara langkah-langkah yang terburu-buru, dan menghasilkan perasaan bersalah yang tak pernah benar-benar selesai.

Ada masa ketika kita begitu yakin bahwa hidup akan berjalan lurus seperti garis yang ditarik dengan penggaris, rapi, pasti, dan lurus tidak bergelombang. Namun tidak sadar ternyata ada yang berjalan tanpa sadar, yang membuat segala hal berbelok dan bergelombang tanpa aba-aba. Di tengah perjalanan garis itu, kita sering menoleh ke belakang dan merasa bersalah. Bersalah karena tidak menjadi seperti yang kita harapkan, bersalah karena terlalu sering lelah.

Dan di sinilah kita harus belajar, penyesalan kepada rasa bersalah tanpa henti bukanlah hal positif dalam kesehatan mental dan emosional kita. Rasa bersalah bukan untuk dipelihara, melainkan untuk dipahami. Agar kita tahu kapan harus berhenti menghakimi diri, dan mulai memahami bahwa manusia sejak awal memang tidak diciptakan untuk sempurna. Rasa bersalah hanyalah bentuk penyiksaan diri yang halus, berjalan perlahan, dan memunculkan kerusakan pikiran yang nyata.

Jeratan Yang Tak Terlihat

Ada saat-saat dalam hidup ketika kita merasa dunia baik-baik saja di luar, tetapi di dalam dada ada hati yang terus bergejolak seperti luka yang belum sembuh. Banyak dialog berkecimpung dalam suasana batin kita, dan mungkin di saat itu pula kita menemukan suara yang selama ini kita bungkam. Suara yang berkata, "Aku takut saat itu. Aku bingung. Aku tidak tahu harus bagaimana. Aku hanya berusaha bertahan".

Di situlah rasa bersalah sering menjadi penjara batin yang sunyi, kita hidup, tertawa, bekerja, menjalani hari seperti biasa, tetapi ada tembok pembatas yang membatasi kebahagiaan kita. Rasa bersalah menjadi jerat yang tidak terlihat, bedanya jeratan itu tidak berbentuk tali tetapi kita tetap merasa terbelit-belit. Jeratan yang tidak terlihat itu mengikat kita pada masa lalu yang sudah tidak bisa kita ubah, tetapi terus kita hukum berulang-ulang di dalam kepala.

Rasa bersalah memang memiliki fungsi dasar, karena muncul untuk memberi sinyal bahwa kita peduli, bahwa kita punya empati, bahwa kita ingin menjadi pribadi yang lebih baik. Namun, ketika rasa bersalah berkembang tanpa kendali, hal itu berubah menjadi beban psikis yang menjerat kita dari berbagai sisi. Kita mulai mempertanyakan harga diri, memelintir kenangan, dan menjadikan diri sendiri sebagai terdakwa, hakim, sekaligus algojo dalam ruang sidang yang hanya ada di dalam pikiran.

Kita kembali mengingat kesalahan-kesalahan lama, lalu menggali ulang luka yang sebenarnya sudah cukup dalam. Kalimat seperti "Seandainya dulu aku tidak melakukan itu", "Harusnya aku bisa lebih baik", atau "Aku tidak pantas bahagia" mulai menjadi gumaman yang kita anggap sebagai kebenaran. Padahal, tidak semua kesalahan harus berubah menjadi hukuman seumur hidup.

Padahal, kita berhak untuk sembuh. Masa lalu memang bagian dari diri kita, tetapi masa lalu tidak harus menjadi jeratan penjara permanen. Rasa bersalah hanya perlu dipahami, bukan dipelihara. Jika kita terus membiarkan diri kita hidup dalam penyesalan rasa bersalah, ada risiko lain yang diam-diam membesar, yaitu ketika kita akan menua dengan batin yang penuh penyangkalan terhadap rasa kebahagiaan.

Inilah alasan mengapa kita perlu berjanji pada diri sendiri, bahwa kita tidak boleh menua dengan perasaan bersalah. Bukan karena kita ingin melupakan kesalahan, tetapi karena kita ingin berdamai dengan diri yang pernah salah. Kita ingin tumbuh, bukan terperosok dalam penyesalan. Kita ingin sampai di masa tua dengan hati yang lebih lapang, bukan dengan pundak yang semakin sakit oleh beban yang seharusnya bisa kita letakkan.

Berjanji untuk tidak menua dengan perasaan bersalah bukanlah bentuk pelarian, melainkan bentuk keberanian emosional. Keberanian untuk berkata pada diri sendiri, bahwa "Aku berhak tumbuh. Aku berhak pulih. Aku berhak merasakan hidup tanpa terus menjeratkan diri pada masa lalu".

Langkah Kecil untuk Berdamai dan Bertumbuh

Perjalanan berdamai adalah perjalanan pulang, dimana kita pulang kepada diri yang utuh, damai, dan penuh kasih sayang. Tidak perlu terburu-buru, karena hal paling berani yang bisa kita lakukan hanyalah tetap bertahan dan tidak menyerah pada diri sendiri. Berdamai bukan keputusan instan, tapi proses panjang yang pelan-pelan mengikis luka lama.

Berikut beberapa langkah kecil yang dapat menjadi bagian dari langkah kecil untuk berdamai dan bertumbuh, antara lain :

  1. Rayakan Hal-hal Kecil
    Merayakan hal-hal kecil berarti menghormati proses, bukan menuntut hasil instan. Bentuknya bisa sangat sederhana, entah itu saat kita berhasil berbicara lebih lembut pada diri sendiri, saat kita mencoba tidur tanpa memutar ulang kesalahan lama, saat kita memilih diam daripada menyalahkan diri tanpa henti, atau saat kita hanya mampu bertahan melalui hari yang terasa berat. Semua itu layak diberikan penghargaan, sekecil apa pun langkahnya.

Ketika kita mulai mengakui pencapaian kecil, otak kita perlahan membangun rute emosional baru. Rute yang mengatakan bahwa kita masih mungkin berubah, bahwa kita masih punya kesempatan menjadi versi diri yang lebih sehat. Penghargaan kecil, perlahan akan bertumbuh menjadi kekuatan emosional. Kekuatan yang membuat kita berani melanjutkan hari berikutnya tanpa dihantui rasa bersalah yang beratnya membuat kesehatan mental kita terguncang.

  1. Berhenti Mencari Kesempurnaan
    Ada titik dalam hidup ketika kita merasa, bahwa satu-satunya cara untuk menebus kesalahan adalah dengan menjadi sempurna. Namun tanpa disadari, tuntutan untuk menjadi sempurna justru menjadi jeratan batin yang melelahkan. Alih-alih menyembuhkan, dorongan untuk sempurna sering kali membuat kita terus merasa kurang, terus waspada, dan terus menghukum diri atas kekurangan yang sebenarnya manusiawi.

Berhenti mencari kesempurnaan bukan berarti berhenti bertanggung jawab atau berhenti menjadi lebih baik. Berhenti mengejar kesempurnaan juga berarti memberi diri kesempatan untuk bernapas sejenak, secara emosional, mental, dan spiritual.

Pada akhirnya, membebaskan diri dari tuntutan kesempurnaan adalah langkah penting agar kita tidak menua dengan perasaan bersalah. Sebab orang yang terus mengejar sempurna hanya akan bertemu dengan rasa kecewa, tetapi orang yang menerima dirinya apa adanya akan bertemu dengan kedamaian.

  1. Belajar Berkata Lembut Kepada Diri Sendiri
    Kadang tanpa kita sadari, bahasa yang kita gunakan untuk berbicara kepada diri sendiri jauh lebih kejam daripada perkataan orang lain. "Aku bodoh sekali" adalah contoh dari penghakiman pada diri sendiri, jelas kalimat itu jauh dari kata lembut. Padahal, kita masih bertumbuh. Karena itu, kenapa tidak mencoba menggantinya dengan kalimat yang lebih manusiawi seperti "Aku masih belajar".

Begitu juga saat kita menghadapi kegagalan yang berulang, suasana hati yang lelah sering berbisik "Aku gagal lagi". Kalimat ini menanamkan keyakinan, bahwa kita memang ditakdirkan untuk jatuh. Padahal bertumbuh adalah fase yang memang penuh dengan lika-liku, melelahkan, dan membutuhkan waktu. Karena itu, jauh lebih lembut jika kita mengubahnya menjadi "Aku sedang berproses".

  1. Janji untuk Tidak Menyesal Lagi
    "Aku berjanji untuk tidak menua dengan perasaan bersalah". Artinya, kita akan berhenti menghukum diri atas hal-hal yang sudah lewat. Kita akan belajar menerima bahwa kita pernah tidak tahu, pernah ragu, pernah salah arah, tetapi kita tetap berjalan melewatinya. Kita akan terus mencintai hidup, sekacau apa pun bentuknya, karena di dalam kekacauan itu ada versi terbaik dari diri kita yang sedang tumbuh.

Janji ini bukan tentang melupakan masa lalu, tapi tentang menatap masa depan dengan hati yang lebih ringan. Tentang menerima bahwa setiap langkah yang bahkan salah sekalipun, telah membawa kita sampai di titik dan tempat di mana kita pada akhirnya nanti bisa berkata "Aku cukup".

Jika suatu hari nanti kita menoleh ke belakang, kita pasti ingin melihat seseorang yang sudah berdamai dengan dirinya. Bukan karena hidup kita selalu mudah, tapi karena kita tak lagi membiarkan luka-luka lama menjadi jeratan yang sama seperti penjara.

Jika suatu hari kita merasa salah, kalah, dan gagal lagi, ingatlah bahwa itu tidak mengapa. Kita hanya manusia yang sedang belajar, dengan segala proses dan fasenya. Jangan biarkan perasaan bersalah menjadi bayangan yang menua bersama kita. Namun, biarkan hal itu tetap menjadi cermin yang mengingatkan kita untuk hidup lebih jujur, lebih lembut, dan lebih penuh kasih.

Karena pada akhirnya, hidup bukan tentang menjadi sempurna, melainkan tentang berani berdamai dan bertumbuh dengan semua versi diri dalam diri kita, baik yang dulu, yang sekarang, dan yang akan datang. Jadi teruntuk diriku dan diri kita, berjanjilah untuk tidak menua dengan perasaan bersalah. Berjanjilah untuk menua dengan hati yang lapang dan dengan cinta yang tak lagi menuntut apa-apa, selain keikhlasan untuk terus hidup berproses dan bertumbuh.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar