Tidak Ada Sang Kuda Jingkrak, Pertahanan AC Milan Loyo dan Kebobolan

Tidak Ada Sang Kuda Jingkrak, Pertahanan AC Milan Loyo dan Kebobolan


aiotradeKehadiran Adrien Rabiot, yang dikenal sebagai "Si Kuda Jingkrak", telah menjadi faktor penting dalam menjaga keseimbangan dan kekuatan lini tengah AC Milan. Namun, absensinya dalam beberapa pertandingan terakhir membuat pertahanan tim semakin rapuh dan rentan terhadap serangan lawan.

Advertisement


AC Milan nyaris dipermalukan oleh Pisa, sebuah tim yang berada di posisi terbawah klasemen Liga Italia 2025-2026. Dalam pertandingan yang digelar di San Siro pada Jumat (24/10/2025) atau Sabtu dini hari WIB, I Rossoneri harus puas dengan hasil imbang 2-2 setelah sebelumnya unggul 1-0 melalui gol Rafael Leao di menit ke-7.

Namun, Pisa mampu membalikkan situasi dengan mencetak dua gol. Gol pertama datang dari penalti Juan Cuadrado di menit ke-60, sedangkan gol kedua berasal dari M'bala Nzola di menit ke-86. Akhirnya, AC Milan bisa menyelamatkan diri dari kekalahan berkat gol penyelamat dari Zachary Athekame di menit ke-90+3.

Pertandingan ini menjadi sorotan karena adanya absensi Adrien Rabiot yang berdampak signifikan pada performa tim. Ketika Christian Pulisic cedera dan digantikan oleh Rafael Leao, justru ketiadaan Rabiot menjadi masalah besar bagi lini pertahanan Milan.

Menurut laporan Tuttomercatoweb, kehilangan Rabiot membuat benteng pertahanan AC Milan menjadi lebih lemah. Celah yang ditinggalkannya sangat mengkhawatirkan, terutama di sisi defensif. Pemain yang memiliki julukan "Si Kuda Jingkrak" ini mengalami cedera betis saat membela Timnas Prancis. Hasil tes medis menunjukkan bahwa ia butuh waktu satu bulan untuk pulih.

Akibatnya, Rabiot melewatkan pertandingan kontra Fiorentina dan terbaru melawan Pisa. Hingga saat ini, AC Milan sudah kebobolan enam gol di Liga Italia. Lima dari total enam gol tersebut terjadi saat Rabiot tidak bermain, dan semua gol itu tercipta di kandang sendiri.

Dua laga awal di Liga Italia juga dilewati oleh Rabiot saat Milan menghadapi Cremonese dan Lecce. Di San Siro, mereka kalah 0-1 dari Cremonese, namun bisa bangkit dengan kemenangan 2-0 atas Lecce. Kedua laga tersebut berlangsung di bulan Agustus, sementara Rabiot baru kembali pada awal September 2025.

Ia debut dalam laga kontra Bologna di giornata ke-3 dan berhasil mendapatkan posisi starter dalam empat laga pertamanya. Selama masa itu, AC Milan hanya kebobolan satu gol, yaitu saat menghadapi Napoli. Meski sempat kebobolan, Milan akhirnya menang 2-1.

Namun, setelah absennya Rabiot, lini tengah Milan mulai kehilangan kohesi dan keseimbangan. Bahkan, tiga gol segera bersarang saat menjamu Fiorentina (2-1) dan terbaru melawan Pisa (2-2). San Siro, yang biasanya menjadi tempat kuat bagi Milan, justru menjadi tempat yang menguntungkan lawan.

Tanpa Rabiot, AC Milan kehilangan identitas taktis dan penghalang utama di lini tengah. Meskipun Samuele Ricci mencoba menggantikan perannya, belum ada indikasi bahwa ia bisa menggantikan peran Rabiot secara penuh. Massimiliano Allegri masih belum memberikan kepercayaan penuh kepada Ricci sebagai suksesor Rabiot.

Evaluasi perlu dilakukan oleh sang pelatih mengingat Rabiot diprediksi akan kembali bermain dalam laga Derby della Madonina kontra Inter Milan pada 23 November mendatang. Kembalinya pemain berusia 30 tahun ini diharapkan dapat memperbaiki kinerja lini tengah dan menjaga stabilitas pertahanan AC Milan.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar