Tentang Misi Militer RI ke Gaza

Tentang Misi Militer RI ke Gaza


aiotrade.CO.ID, JAKARTA --

Advertisement

Peran Pasukan Stabilisasi Internasional dalam Gencatan Senjata Palestina-Israel

Salah satu tindak lanjut dari kesepakatan gencatan senjata yang diusulkan oleh Amerika Serikat adalah pengiriman pasukan dalam program yang dikenal dengan International Stabilization Force (ISF). Pengiriman pasukan ini berada di bawah mandat PBB dan sangat penting untuk memastikan bahwa setelah gencatan senjata antara Palestina dan Israel, tidak ada serangan dari pihak mana pun serta tidak terjadi kontak bersenjata antara kedua belah pihak.

Namun, pada kenyataannya, Israel masih melakukan serangan terhadap penduduk sipil dalam beberapa hari terakhir. Tindakan ini dianggap sebagai pengkhianatan yang terus-menerus dilakukan oleh Israel. Hal ini menjadi salah satu masalah utama yang muncul pasca-gencatan senjata, yaitu ketidakpatuhan Israel terhadap perjanjian yang telah disepakati.

Pengiriman pasukan di bawah mandat PBB belum sepenuhnya jelas. Beberapa negara telah menyampaikan komitmen atau pernyataan politik untuk mengirimkan tentaranya, seperti Indonesia dan Turki. Indonesia memiliki pengalaman panjang dalam pengiriman pasukan perdamaian. Menurut pernyataan langsung Presiden Prabowo Subianto, Indonesia akan mengirimkan 20.000 tentara untuk misi ini.

Kesiapan ini diberlakukan dengan syarat bahwa pasukan tersebut berada di bawah mandat PBB dan mendapatkan persetujuan politik nasional. Rekomendasi ini juga sudah diambil melalui Keputusan MUI melalui Ijtima Ulama Fatwa MUI tahun lalu. Oleh karena itu, MUI mendukung rencana pemerintah Indonesia dalam hal ini.

Keberadaan Indonesia dalam misi stabilisasi internasional PBB sangat penting. Namun, pengiriman pasukan perdamaian ini juga memiliki berbagai risiko dan implikasi yang seharusnya telah diselesaikan dalam kesepakatan nasional di Indonesia.

Sikap Turki dalam Misi Stabilisasi

Turki juga memiliki sikap yang sama dalam mengirimkan pasukan untuk misi perdamaian ini. Bahkan, Presiden Donald Trump sendiri telah mendorong keterlibatan Turki dalam proses ini. Namun, Israel menolak penunjukan Turki untuk ikut ambil bagian dalam misi stabilisasi.

Menurut catatan, Turki memiliki cadangan personel militer yang lebih besar dibandingkan Israel. Selain itu, persenjataan Turki juga lebih lengkap. Jika terjadi kontak bersenjata, Israel akan kewalahan. Karena alasan ini, Israel cenderung menolak kehadiran Turki dalam menjaga perdamaian.

Seperti Indonesia, Turki juga akan benar-benar mengirimkan tentaranya jika diberi mandat oleh PBB.

Partisipasi Negara Lain dalam Misi Stabilisasi

Selain Indonesia dan Turki, Azerbaijan juga disebut siap mengirimkan pasukannya. Namun, kapasitas mereka tidak sekuat Indonesia dan Turki. Sementara itu, Saudi Arabia dan Emirat Arab belum secara tegas menyatakan apakah mereka akan mengirimkan pasukannya atau tidak. Meskipun begitu, mereka lebih cenderung memberikan perhatian pada aspek kemanusiaan dan pemulihan Gaza.

Hamas memberikan apresiasi atas dukungan yang diberikan oleh Saudi dan Emirat Arab. Hingga saat ini, yang benar-benar berkomitmen mengirimkan pasukannya adalah Indonesia dan Turki, yang berada di bawah mandat PBB.

Langkah-Langkah yang Diperlukan

Menurut pandangan pribadi, pilihan ini dianggap tepat. Namun, sebelum mandat PBB dikeluarkan, proses negosiasi politik dan diplomatik harus terus dilanjutkan. Salah satu tujuannya adalah mendorong Amerika Serikat untuk memaksa Israel tidak mengkhianati perjanjian, menghentikan serangan, dan menghindari genosida.

Jika Amerika tidak mampu mengontrol dan menghentikan Israel, maka hal ini akan menjadi malu secara global. Upaya-upaya untuk meyakinkan Amerika sangat penting dilakukan oleh kekuatan-kekuatan pro kemerdekaan Palestina.

Langkah lainnya adalah mendorong negara-negara lain untuk ikut serta dalam misi stabilisasi PBB bersama Indonesia dan Turki. Dengan demikian, keberhasilan gencatan senjata dapat lebih dipastikan dan stabilitas di kawasan dapat tercapai.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar