Banjir di Dayeuhkolot Akibat Luapan Sungai Cipalasari
Ratusan rumah di 8 RW Desa Dayeuhkolot, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, Jawa Barat terendam banjir akibat luapan sungai Cipalasari, anak Sungai Citarum. Peristiwa ini terjadi pada tanggal 24 Oktober 2025. Sungai Citarum adalah sungai terpanjang dan terbesar di wilayah Tatar Pasundan, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai ini pernah dijuluki sebagai sungai terkotor di dunia.
Berdasarkan data yang diperoleh dari Badan Pembangunan PBB (UNDP) Indonesia, Sungai Citarum pernah masuk dalam kategori 10 sungai paling tercemar di dunia. Dalam peristiwa banjir kali ini, debit air mendadak naik sebelum menggenangi permukiman warga. Air mulai datang pada pukul 18.00 WIB dan terus meningkat hingga pukul 03.00 WIB dini hari.
"Memang enggak langsung besar, pelan-pelan, namanya juga air kiriman jadi enggak datang sekaligus," kata Wawan Hermawan, Ketua RT 06 RW 14, dikutip dari Kompas.com, Sabtu (25/10/2025).
Menurut data yang ada, luapan Sungai Citarum merendam RW 1, 2, 3, 4, 5, 9, 10, dan 11. Sebagai solusi, warga bersama perangkat desa dan kecamatan telah mengajukan pembangunan folder air di wilayah Dayeuhkolot. Namun saat ini, folder air hanya ada di Kampung Ciputat yang tidak cukup untuk menampung volume air dari Citarum yang tinggi.
"Kami sudah ngusulin folder ke Bupati, katanya iya akan dibangun. Tapi sampai sekarang belum dibangun," ungkapnya.

Tentang Sungai Citarum
Sungai Citarum tidak hanya menjadi sungai terpanjang dan terbesar di wilayah Tatar Pasundan, Provinsi Jawa Barat, Indonesia. Sungai ini memiliki nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang sangat penting karena mendukung kehidupan sekitar 25 juta orang yang bergantung pada airnya untuk pertanian, perikanan, industri, penyediaan listrik, dan juga pembuangan limbah.
Sungai ini bermuara di Laut Jawa dan mengalir dari selatan ke utara melalui daerah yang topografinya bervariasi mulai dari cekungan pegunungan di hulu hingga dataran rendah di hilir. Topografi wilayah Sungai Citarum dibagi menjadi tiga bagian utama: bagian hulu yang berupa cekungan Bandung dikelilingi oleh pegunungan seperti Gunung Tangkuban Perahu dan Gunung Malabar; bagian tengah yang terdiri dari dataran dan perbukitan; serta bagian hilir yang didominasi dataran dan perbukitan bergelombang.
Sungai Citarum juga penting untuk kawasan metropolitan Jabodetabek dan Cekungan Bandung. Meski memiliki peran yang vital, sejak tahun 2007 Sungai Citarum dikenal sebagai salah satu sungai dengan tingkat pencemaran tertinggi di dunia, yang menjadi perhatian besar pemerintah dan masyarakat untuk melakukan upaya pemulihan dan pengelolaan sungai secara terpadu dengan prinsip "one river, one plan, one management" agar keberlanjutan fungsi ekologis dan sosial ekonomi sungai ini terjaga.

Penyebab Utama Pencemaran Sungai Citarum
Penyebab utama pencemaran Sungai Citarum adalah kombinasi dari beberapa faktor utama yang berasal dari aktivitas manusia yang tidak terkendali. Mulai dari masalah kebiasaan buang sampah sembarangan, hingga soal limbah pabrik.
Pada Februari 2025 kemarin, Sungai Citarum itu kembali dipenuhi sampah. Kepala Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum Mochammad Dian Al Ma'ruf mengatakan, sampah kembali menumpuk di Oxbow Cicukang, Mekarrahayu, Margaasih, Kabupaten Bandung.
Awal tahun ini, Sungai Citarum sempat dibersihkan dari tanggal 25 Januari sampai 2 Februari 2025. Akan tetapi, beberapa hari kemudian, sungai tersebut kembali diliputi sampah.
Inilah penyebab utama pencemaran di Sungai Citarum:
- Limbah industri: Di sekitar DAS (Daerah Aliran Sungai) Citarum terdapat sekitar 1.900 industri, dan sekitar 90 persen dari industri tersebut tidak memiliki instalasi pengolahan air limbah (IPAL) yang memadai. Banyak limbah berbahaya dan beracun dari industri dibuang langsung ke sungai tanpa pengolahan terlebih dahulu. Limbah industri ini mengandung logam berat dan bahan kimia beracun yang sangat merusak kualitas air sungai.
- Limbah domestik: Sampah rumah tangga dan limbah domestik seperti kotoran manusia dan hewan juga menjadi penyumbang besar pencemaran. Sebanyak 20.462 ton sampah rumah tangga di daerah aliran sungai tidak terangkut ke tempat pembuangan akhir, dan sampah ini dibuang langsung ke sungai. Limbah domestik ini menyebabkan sungai menjadi sangat tercemar secara biologis.
- Alih fungsi lahan dan erosi: Di bagian hulu Sungai Citarum terjadi alih fungsi lahan hutan lindung menjadi lahan pertanian secara masif. Hal ini menimbulkan erosi tanah yang menyebabkan sedimentasi di sepanjang aliran sungai, menghambat aliran air dan memicu banjir.
- Peningkatan jumlah penduduk dan pertumbuhan pesat industri: Meningkatnya jumlah penduduk dan industri di wilayah ini meningkatkan beban limbah cair domestik dan industri ke sungai, sehingga pencemaran semakin parah.
Dampak dari pencemaran ini menyebabkan tingkat bakteri E. coli yang sangat tinggi, penurunan kualitas air secara drastis, dan sungai menjadi tidak layak digunakan untuk air minum maupun perikanan, meskipun masih digunakan untuk pertanian.
Secara singkat, penyebab utama pencemaran Sungai Citarum adalah limbah industri yang tidak terkelola, limbah domestik yang dibuang sembarangan, alih fungsi lahan dan erosi, serta tekanan dari pertumbuhan penduduk dan industri yang tidak diimbangi dengan pengelolaan lingkungan yang baik.
Komentar
Kirim Komentar