
Simulasi Bencana Gempa dan Tsunami di SMP Negeri 17 Palu
Pada Jumat pagi, 24 Oktober 2025, suasana di SMP Negeri 17 Palu tiba-tiba berubah. Bel panjang terdengar selama 40 detik, menandakan simulasi gempa bumi yang sedang berlangsung. Para siswa yang sedang mengikuti pelajaran langsung menunduk di bawah meja, sementara guru-guru segera mengarahkan mereka ke titik kumpul aman. Tidak lama setelah itu, bel kembali berbunyi tanda bahaya tsunami telah diumumkan.
Simulasi ini adalah bagian dari kegiatan mitigasi bencana yang rutin dilakukan oleh SMPN 17 Palu. Kegiatan tahunan ini digelar dengan penuh keseriusan, mengingat kota Palu pernah mengalami bencana yang sangat mematikan pada 2018. Tujuan utamanya adalah untuk membangun budaya tanggap bencana di lingkungan sekolah.
Kepala Sekolah SMPN 17 Palu, Hadijah Muchsen, S.Pd., M.Pd., menjelaskan bahwa simulasi ini diinisiasi oleh Tim Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB) sekolah bekerja sama dengan BPBD Kota Palu, Kelurahan Pantoloan, serta Puskesmas Pantoloan. Kami ingin menanamkan kesadaran sejak dini kepada seluruh siswa dan tenaga pendidik, bahwa kesiapsiagaan adalah kunci keselamatan, ujarnya.
Simulasi melibatkan seluruh komponen sekolah, termasuk siswa, guru, dan organisasi siswa seperti OSIS, Palang Merah Remaja (PMR), serta Pramuka. Setiap kelompok memiliki peran masing-masing dalam skenario darurat, seperti mengevakuasi korban, memberi pertolongan pertama, hingga mengatur jalur evakuasi ke area aman di halaman sekolah.
Tujuan utama kami bukan hanya melatih reaksi cepat, tetapi juga mengurangi kepanikan saat bencana benar-benar terjadi, jelas Hadijah. Kesiapan psikologis sama pentingnya dengan kesiapan fisik.
Menurutnya, latihan semacam ini bukan sekadar formalitas. Dengan wilayah Palu yang rawan gempa dan tsunami, kemampuan untuk merespons dengan cepat bisa menentukan hidup dan mati. Sekolah berperan besar dalam menanamkan kebiasaan tanggap bencana sejak dini sebelum anak-anak menghadapi situasi nyata di luar lingkungan belajar.
Dari pantauan di lokasi, simulasi berlangsung realistis dan tertib. Siswa-siswa berlari menuju titik kumpul sesuai jalur yang telah ditentukan, beberapa membawa korban untuk latihan evakuasi. Petugas kesehatan sekolah yang dibantu tenaga medis dari Puskesmas Pantoloan segera memberikan pertolongan darurat di pos kesehatan sementara.
Kegiatan ini juga menjadi sarana evaluasi bagi tim tanggap darurat sekolah untuk menilai efektivitas rencana evakuasi yang telah disusun. Kami ingin memastikan setiap orang tahu apa yang harus dilakukan dan ke mana harus pergi. Tidak boleh ada kebingungan, kata salah satu anggota SPAB SMPN 17 Palu.
Selain pelatihan teknis, simulasi ini juga memuat aspek edukasi sosial membangun empati, solidaritas, dan gotong royong dalam menghadapi bencana. Para siswa didorong untuk saling membantu, tidak saling mendahului, serta menjaga ketertiban dalam proses evakuasi.
Menutup kegiatan, Kepala Sekolah Hadijah berharap simulasi ini bisa menjadi contoh bagi sekolah-sekolah lain di Palu. Bencana tidak bisa diprediksi, tapi kesiapsiagaan bisa dipersiapkan. Dengan pengetahuan dan latihan rutin, kita bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa, tutupnya dengan nada tegas namun penuh harapan.
Komentar
Kirim Komentar