Bupati Aceh Timur Menunjukkan Kepedulian terhadap Warga yang Mengalami Kesulitan
Bupati Aceh Timur, Iskandar Usman Al Farlaky, kembali menjadi sorotan karena tindakan nyata yang ia lakukan untuk membantu warga yang sedang menghadapi kesulitan. Dalam beberapa waktu terakhir, Iskandar menunjukkan kepeduliannya dengan langsung mendatangi dua keluarga yang sedang mengalami kondisi sulit.
Cerita Pilu Melda Safitri yang Viral

Cerita pilu Melda Safitri mencuri perhatian publik. Perempuan asal Kampung Siti Ambia, Kecamatan Singkil, itu diceraikan suaminya tak lama setelah sang suami dilantik sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di Satpol PP/WH Aceh Singkil. Selama ini, Fitri membantu suaminya mencari nafkah dengan berjualan sayur untuk menghidupi keluarga.
Namun pada 15 Agustus 2025, Fitri diceraikan, sementara pelantikan suaminya berlangsung dua hari kemudian, pada 17 Agustus 2025. Usai dilantik jadi PPPK, sang suami menceraikan Fitri tanpa sebab jelas. Dari video yang beredar, Fitri bersama dua anaknya meninggalkan rumah kontrakannya di Desa Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Kabupaten Aceh Utara. Suasana saat itu berlangsung pilu. Fitri bersama anak-anaknya diantar oleh tetangga yang terdengar memberikan semangat dan bahkan menangisi kepergiannya.
Saat ini, Fitri dan anak-anaknya telah pindah dan tinggal bersama orang tuanya di Mukek, Kabupaten Aceh Selatan. Demi menghidupi anak-anaknya, Fitri kini berjualan gorengan. Kasus ini mendapat perhatian Bupati Aceh Timur Iskandar Usman Al Farlaky. Ia menyambangi rumah Imelda Safitri di Kampung Siti Ambia, Kecamatan Singkil, Kamis (23/10/2025). Kedatangannya untuk mengetahui informasi lebih lanjut terkait kasus tersebut.
Dalam kesempatan itu, Iskandar yang mengenakan pakaian dinas sempat berbincang dengan Safitri di rumah kayunya. Kehadirannya menjadi bentuk dukungan moral dan bantuan nyata bagi keluarga yang sedang mengalami kesulitan.
Siswa Nyaris Putus Sekolah Dibantu Bupati

Tak lama berselang, kisah lain juga menarik perhatian Bupati Iskandar. Seorang siswa SMA di Idi Timur, Kabupaten Aceh Timur, bernama Muhammad, nyaris putus sekolah karena tak memiliki biaya. Muhammad tinggal di Desa Buket Kuta bersama ibunya, Salami, yang bekerja sebagai buruh harian pengutip brondolan sawit di kebun warga. Meski sekolah negeri di Aceh digratiskan, Muhammad tetap kesulitan karena tak memiliki uang jajan untuk berangkat ke sekolah.
Karena banyak libur, teman-teman saya memberi tahu bahwa guru sudah mencoret nama saya, kata Muhammad tertunduk. Jarak rumahnya ke sekolah sekitar 5 kilometer, harus ditempuh dengan berjalan kaki setiap hari. Kondisi rumahnya pun sederhana, berukuran 3 x 6 meter, berdinding triplek dan anyaman bambu. Saat hujan, air menetes masuk ke dalam rumah.
Kisah itu membuat Iskandar turun tangan. Ia datang langsung ke rumah Muhammad yang berada di atas bukit dan hanya bisa diakses lewat jembatan sederhana dari dua batang pohon pinang. Kamu datang saja ke sekolah. Tak akan dikeluarkan dari sekolah. Jangan bolos-bolos lagi, kata Iskandar. Politisi Partai Aceh itu juga memberikan uang jajan serta menjanjikan pembangunan rumah baru untuk Muhammad dan ibunya.
Tahun depan, beberapa bulan lagi ini segera kita berikan bantuan rumah, ujarnya. Giat belajar, jangan bolos. Masa depan itu milik orang yang berusaha, pesan Iskandar.
Kepedulian Sosial Seorang Pemimpin
Dua kunjungan tersebut memperlihatkan kepedulian Iskandar Bupati Aceh Timur terhadap warganya. Ia hadir langsung di tengah masyarakat yang sedang menghadapi kesulitan hidup. Langkah cepat dan empati yang ditunjukkan Iskandar menjadi contoh kepemimpinan yang dekat dengan rakyat.
Bagi Imelda dan Muhammad, kedatangan sang bupati bukan sekadar kunjungan pejabat, melainkan bentuk nyata bahwa pemerintah benar-benar hadir di tengah derita warganya. Tindakan Iskandar menunjukkan bahwa kepemimpinan yang baik adalah yang selalu memperhatikan dan merespons kebutuhan masyarakat secara langsung.
Komentar
Kirim Komentar