Rabies: Penyakit Mematikan yang Bisa Dicegah dengan 4 Langkah Ini

Rabies: Penyakit Mematikan yang Bisa Dicegah dengan 4 Langkah Ini

Advertisement

Memahami Bahaya Rabies dan Cara Mencegahnya

Memelihara hewan bisa menjadi kegiatan yang menyenangkan dan membantu melepas penat. Namun, kita perlu tetap waspada terhadap berbagai risiko yang mungkin muncul, salah satunya adalah rabies. Penyakit ini bisa menyebar melalui gigitan atau cakaran hewan yang terinfeksi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami langkah-langkah pencegahan serta tindakan awal yang harus diambil jika terjadi kontak dengan hewan yang mencurigakan.

Rabies masih menjadi ancaman nyata di banyak negara, termasuk Indonesia. Menurut World Health Organization (WHO), penyakit ini menyebabkan puluhan ribu kematian setiap tahun, sebagian besar akibat gigitan anjing yang terinfeksi. Meskipun penyakit ini sebenarnya dapat dicegah sepenuhnya dengan vaksinasi dan penanganan cepat, banyak orang masih kurang memahami bahayanya.

Apa Itu Rabies dan Bagaimana Penularannya?

Rabies adalah penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Lyssavirus, yang menyerang sistem saraf pusat dan pada akhirnya menyebabkan peradangan otak (ensefalitis). Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), penularan biasanya terjadi melalui air liur hewan yang terinfeksi, seperti melalui gigitan, cakaran, atau ketika air liur mengenai luka terbuka atau membran mukosa manusia.

Di Indonesia, anjing menjadi sumber utama infeksi rabies, sedangkan di beberapa negara lain, sumbernya bisa berasal dari kelelawar, rakun, atau rubah. WHO menegaskan bahwa rabies tidak hanya berbahaya bagi manusia, tetapi juga bagi hewan peliharaan. Oleh karena itu, pengendalian pada hewan sangat penting untuk melindungi manusia.

Gejala dan Perkembangan Penyakit

Menurut Mayo Clinic, masa inkubasi rabies biasanya antara dua minggu hingga tiga bulan, tergantung lokasi gigitan dan jumlah virus yang masuk ke tubuh. Pada tahap awal, gejalanya sering kali mirip flu ringan, seperti demam, lemas, atau sakit kepala ringan, diikuti rasa nyeri, gatal, atau sensasi terbakar di area bekas gigitan.

Namun, dalam beberapa hari, gejala bisa berkembang menjadi lebih serius. CDC menjelaskan bahwa setelah virus mencapai sistem saraf pusat, pasien dapat mengalami kegelisahan, kebingungan, halusinasi, kesulitan menelan, serta produksi air liur berlebihan. Dalam beberapa kasus, pasien menunjukkan hidrofobia atau ketakutan ekstrem terhadap air karena kontraksi otot tenggorokan saat menelan cairan.

WHO menegaskan bahwa setelah gejala klinis muncul, rabies hampir selalu berakibat fatal. Oleh karena itu, penanganan cepat setelah gigitan menjadi faktor penentu keselamatan.

Langkah Antisipasi: Pencegahan Rabies sejak Dini

Pencegahan rabies jauh lebih mudah dibanding pengobatannya. WHO dan CDC menekankan pentingnya tindakan cepat sesaat setelah terjadi gigitan atau kontak dengan hewan yang dicurigai rabies. Berikut langkah-langkah pencegahan yang disarankan:

  1. Segera Bersihkan Luka
    Mencuci luka gigitan dengan sabun dan air mengalir selama setidaknya 15 menit dapat secara signifikan mengurangi risiko infeksi. Tindakan sederhana ini bisa menyelamatkan nyawa.

  2. Dapatkan Penanganan Medis Segera
    Setelah luka dibersihkan, segera kunjungi fasilitas kesehatan. Petugas medis akan menilai apakah kamu perlu mendapatkan vaksin pasca-paparan (Post-Exposure Prophylaxis / PEP) yang terdiri atas kombinasi vaksin rabies dan imunoglobulin yang diberikan untuk mencegah virus berkembang.

  3. Lindungi Hewan Peliharaan
    WHO menyarankan agar semua anjing dan kucing mendapat vaksin rabies secara rutin. Hewan yang divaksinasi tidak hanya melindungi dirinya, tetapi juga menjadi "tameng pertama" bagi manusia di sekitarnya.

  4. Hindari Kontak dengan Hewan Liar
    Jangan pernah menyentuh hewan liar atau hewan peliharaan yang menunjukkan perilaku tidak biasa (agresif, mengeluarkan air liur berlebihan, atau tampak bingung). Jika terjadi kontak, segera laporkan ke dinas kesehatan atau petugas hewan setempat.

WHO juga menyoroti bahwa sebagian besar kasus rabies terjadi karena kurangnya kesadaran masyarakat terhadap bahaya dan pentingnya vaksinasi. Di daerah pedesaan, anak-anak menjadi kelompok paling rentan karena lebih sering bermain dengan hewan tanpa pengawasan.

Mayo Clinic menambahkan bahwa rabies tidak bisa didiagnosa secara pasti hanya dengan melihat luka gigitan, sehingga penanganan medis setelah gigitan tidak boleh ditunda, bahkan jika hewan tampak sehat. Virus rabies bisa berdiam di tubuh hewan tanpa gejala selama berminggu-minggu sebelum menjadi aktif.

Kesimpulan

Rabies memang terdengar menakutkan, tetapi juga menjadi contoh jelas bahwa pengetahuan bisa menyelamatkan nyawa. Dengan menjaga hewan peliharaan tetap di vaksin, menghindari kontak dengan hewan liar, dan segera mencuci luka setelah gigitan, risiko infeksi bisa ditekan hingga nol. Kesadaran, vaksinasi, dan tindakan cepat adalah kunci utama agar penyakit mematikan ini tidak lagi menjadi ancaman di sekitar kita.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar