
Produksi Garam di Madura Terganggu Hujan Deras
Hujan deras yang terus mengguyur wilayah Madura sejak awal Oktober 2025 berdampak signifikan pada produksi garam milik PT Garam (Persero). Kondisi cuaca yang tidak bersahabat ini menyebabkan penurunan drastis dalam target produksi perusahaan. Dari target 150 ribu ton, realisasi produksi hingga saat ini baru mencapai 81 ribu ton atau sekitar 54 persen. Angka tersebut bahkan belum mencapai 60 persen dari total target tahunan.
Pengaruh hujan yang terus-menerus membuat proses penguapan di tambak garam hampir tidak maksimal. Air asin tidak sempat mengering menjadi kristal, sehingga memengaruhi kualitas dan kuantitas produksi. Hal ini menyebabkan hasil produksi yang timpang di empat lokasi pegaraman di Madura.
Distribusi Produksi yang Timpang
Berdasarkan data PT Garam, dua wilayah di Kabupaten Sumenep hanya mampu menyumbang 34,5 ribu ton, sedangkan Pamekasan memberikan kontribusi sebesar 38,6 ribu ton. Sementara itu, Sampang hanya mampu menghasilkan 7,8 ribu ton. Wilayah lainnya juga mengalami penurunan produksi yang signifikan.
Menurut Humas PT Garam, Miftahol Arifin, kondisi ini memaksa perusahaan untuk melakukan penyesuaian strategi produksi. "Tahun ini hasilnya memang tidak sebaik tahun lalu. Kami tetap berproduksi, tetapi intensitas hujan tinggi membuat kristalisasi garam terganggu," ujarnya.
Perusahaan pelat merah tersebut berharap cuaca segera membaik agar sisa lahan yang masih bisa digunakan dapat dioptimalkan. Jika hujan terus turun, produksi akan berhenti total. "Kalau hujan terus turun, produksi otomatis berhenti total," tambahnya.
Dampak pada Pasokan Garam Nasional
Penurunan produksi garam di Madura tidak hanya berdampak pada hasil produksi nasional, tetapi juga dikhawatirkan memengaruhi pasokan garam konsumsi dan industri dalam negeri. Madura selama ini menjadi salah satu pusat produksi garam terbesar di Indonesia. Oleh karena itu, kestabilan produksi sangat penting untuk menjaga ketersediaan garam di pasar.
PT Garam berupaya menyusun langkah mitigasi untuk mencegah kerugian lebih besar. Langkah-langkah ini meliputi pengoptimalan penggunaan lahan yang tersisa dan peningkatan koordinasi dengan pihak terkait. Perusahaan juga terus memantau perkembangan cuaca dan menyiapkan rencana darurat jika kondisi cuaca semakin memburuk.
Harapan Cuaca Membaik
Dalam upaya menghadapi tantangan ini, PT Garam berharap cuaca segera membaik. "Kami berharap cuaca berpihak agar produksi bisa kembali stabil," pungkas Miftahol Arifin.
Selain itu, perusahaan juga berkomitmen untuk terus meningkatkan efisiensi dan efektivitas produksi, meskipun dalam kondisi cuaca yang tidak ideal. Dengan strategi yang tepat dan kolaborasi yang baik, PT Garam berharap dapat segera kembali memenuhi target produksi yang telah ditetapkan.
Tantangan dan Strategi Ke depan
Untuk menghadapi tantangan cuaca yang tidak menentu, PT Garam terus melakukan evaluasi dan penyesuaian terhadap strategi produksi. Salah satu fokus utama adalah meningkatkan kapasitas pengelolaan air dan mengoptimalkan penggunaan lahan yang tersedia. Selain itu, perusahaan juga berencana untuk memperkuat sistem peramalan cuaca guna memprediksi kondisi yang akan datang dan mengambil tindakan preventif.
Perusahaan juga berupaya meningkatkan kualitas garam yang dihasilkan, meskipun dalam kondisi cuaca yang kurang mendukung. Ini dilakukan dengan memperbaiki proses kristalisasi dan pengeringan garam agar tetap memenuhi standar mutu.
Komentar
Kirim Komentar