Potret Pembicaraan Hangat Ceu Popong dan Teh Aanya: Dinamika Wewenang Senator Indonesia

Potret Pembicaraan Hangat Ceu Popong dan Teh Aanya: Dinamika Wewenang Senator Indonesia

Potret Pembicaraan Hangat Ceu Popong dan Teh Aanya: Dinamika Wewenang Senator Indonesia

Perjumpaan Bersejarah Dua Generasi Perempuan Politisi di Bandung

Di tengah hujan yang perlahan turun di Jalan Cipaganti, sore itu menjadi saksi dari sebuah pertemuan yang penuh makna. Pertemuan antara Aanya Rina Casmayanti, anggota Komite I DPD RI, dengan Popong Otje Djundjunan, tokoh senior dalam dunia politik Jawa Barat.

Advertisement

Pertemuan ini tidak hanya sekadar kunjungan silaturahmi biasa, tetapi juga momen sarat nilai-nilai perjuangan dan kebijaksanaan. Ceu Popong, demikian sapaan akrabnya, menerima Teh Aanya dengan senyum yang tulus dan hangat. Di ruang tamu yang penuh jejak perjalanan intelektualnya, dialog mendalam antara dua generasi pun berlangsung, menghadirkan refleksi dan inspirasi.

Dengan gaya bicaranya yang khas dan penuh ketajaman, Ceu Popong menyampaikan analisis tentang sistem politik Indonesia. Ia menyoroti ketimpangan struktur ketatanegaraan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar. Menurutnya, DPD di Indonesia memiliki kewenangan yang jauh lebih terbatas dibandingkan senator di negara lain.

Di Indonesia lain dari yang lain. DPD kalau di negara lain adalah Senator. Senator di negara lain jauh lebih berkuasa, ujarnya. Ia menjelaskan bahwa DPR sering kali menjadi last decision maker dalam proses legislasi, sehingga DPD sering kali berada dalam posisi lemah.

Dari pengalamannya sebagai anggota DPR RI, ia mengakui bahwa banyak Rancangan Undang-Undang yang diinisiasi DPD akhirnya terhenti tanpa hasil konkret. Hal ini menunjukkan asimetri kewenangan antara DPD dan DPR yang sangat jelas.

Ceu Popong menekankan pentingnya memperkuat kewenangan lembaga DPD agar tak sekadar simbol. Kesannya puraga tamba kadenda, cuma syarat saja, katanya dengan nada kritik yang tajam namun konstruktif. Ia bahkan mengaku pernah ingin maju sebagai anggota DPD, tetapi memilih mundur setelah memahami terbatasnya ruang gerak lembaga tersebut.

Sesi pertemuan itu juga menjadi ajang transfer ilmu dan pengalaman yang bernilai tinggi. Ceu Popong tidak hanya berbagi cerita, tetapi juga membukakan pintu pada khazanah literasinya. Ia menyarankan agar para politisi selalu membaca, dengan menunjuk beberapa bukunya seperti Menjalani Fungsi Representasi Secara Adaptif Melintas Perubahan Zaman serta kumpulan tulisan reflektif miliknya yang telah dibukukan.

Selain itu, ia juga bercerita tentang kisah unik saat kehilangan palu sidang dalam rapat paripurna DPR untuk menetapkan pimpinan periode 20142019. Cerita sederhana itu bahkan sampai terdengar oleh anaknya yang kala itu menjabat Wakil Dubes di Thailand. Kisah tersebut menjadi gambaran betapa cepatnya perkembangan teknologi turut memengaruhi ruang komunikasi politik masa kini.

Di penghujung pertemuan, Ceu Popong menyampaikan pesan mendalam yang mengandung filosofi perjuangan. Keterbatasan wewenang jangan jadi alasan mengatakan tidak mampu jika ada masyarakat yang minta aspirasinya diperjuangkan, ucapnya, menegaskan tanggung jawab moral yang seharusnya diemban setiap wakil rakyat.

Teh Aanya tampak terharu mendengar wejangan itu. Beliau adalah guru saya, orang tua saya dan idola saya. Beliau tak pernah pelit ilmu, katanya penuh penghormatan, menggambarkan kedekatan personal sekaligus rasa hormatnya terhadap sosok panutan yang telah membuka jalan bagi banyak perempuan di dunia politik.

Pertemuan dua generasi politisi perempuan ini menjadi simbol regenerasi yang sesungguhnya, bukan sekadar pergantian tongkat estafet, melainkan proses pewarisan nilai, gagasan, dan semangat membangun bangsa. Ceu Popong berulang kali menekankan pentingnya konsistensi, kemampuan menulis, serta literasi politik yang kuat sebagai modal untuk memperkuat tatanan demokrasi yang sehat.

Di atmosfer Bandung yang diselimuti gerimis sore, dua sosok perempuan tangguh itu seolah merajut kembali benang-benang perjuangan yang menyatukan masa lalu dan masa depan politik Indonesia. Di antara percakapan dan tawa ringan mereka, terselip tekad untuk terus menjaga bara semangat demokrasi agar tetap menyala, bahkan di tengah derasnya perubahan zaman.



Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar