Penjelasan PT Pertamina Mengenai Pembangunan Kilang Minyak

PT Pertamina (Persero) memberikan respons terkait pernyataan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengenai pembangunan kilang minyak yang selama ini tertunda. Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono, menjelaskan bahwa sektor kilang merupakan bidang dengan kebutuhan investasi besar sekaligus risiko tinggi. Ia juga membenarkan bahwa bisnis kilang saat ini menghadapi tekanan akibat over supply.
“Saat ini kondisi dunia tidak baik-baik saja, kondisi bisnis kilang ini memang sedang dalam pressure. Makin banyak kilang di dunia ini selesai dibangun dan kilang-kilang ini semakin efisien,” kata Agung saat ditemui di sela acara Switzerland Global Conference di Jakarta Selatan, Jumat (3/10).
Agung menambahkan, karena banyak kilang baru yang selesai dibangun dengan teknologi lebih efisien, maka biaya produksinya lebih kompetitif. Akibatnya, kilang lama menjadi kurang kompetitif dan bahkan terancam tutup.
“Nah untuk itu, melakukan investasi di kilang harus dilakukan dengan sangat hati-hati,” tambahnya.
Proses Pembangunan Kilang oleh Pertamina
Meskipun begitu, Agung menyatakan bahwa Pertamina masih menjalankan pembangunan kilang, salah satunya di Balikpapan yang kini sedang dikebut penyelesaiannya.
Ia menambahkan, Pertamina juga tengah mengintegrasikan bisnis kilang dengan penyaluran bahan bakar di Pertamina Patra Niaga serta bisnis perkapalan.
“Dengan ini kita harapkan akan terjadi penguatan perbaikan layanan yang lebih efisien ke masyarakat dan penguatan keuangan sehingga kekuatan bisnis dari kilang kita juga akan lebih baik,” tutur Agung.
Biaya Besar dan Tantangan Ekonomi Global

Lebih lanjut, Agung memaparkan apa yang menjadi kendala Pertamina dalam membangun kilang. Ia menyebut, dibutuhkan biaya sebesar USD 7,8 miliar untuk membangun satu kilang. Jika pemerintah mengharuskan Pertamina untuk membangun kisaran tujuh hingga delapan kilang, maka dibutuhkan biaya yang cukup besar.
Selain persoalan biaya, Agung pun menjelaskan masalah pembangunan kilang bukan terletak pada pihak Pertamina, melainkan juga pada kondisi ekonomi global. Saat ini, banyak kilang di dunia yang baru selesai dibangun sehingga menjadi lebih efisien dan kompetitif. Kondisi ini disebut membuat margin bisnis kilang sangat kecil. Belum lagi permintaan energi justru menurun.
“Karena apa? Mungkin salah satunya sekarang banyak yang pakai kendaraan listrik. Ini kan mengurangi demand bahan bakar, atau juga kondisi konflik dunia. Sehingga margin bisnis kilang itu tipis banget,” tutur Agung.
Peran Pemerintah dalam Pembangunan Kilang

Sebelumnya, Menkeu Purbaya menyinggung pembangunan kilang minyak yang sudah lama tak dilakukan Indonesia. Untuk itu, ia meminta Pertamina untuk mempercepat pembangunan jika memiliki rencana pembangunan kilang minyak.
Sebelumnya, ia menyoroti persoalan energi di Indonesia yang hingga kini masih bergantung pada impor produk minyak dari luar negeri, terutama Singapura. Ia menyinggung Indonesia tidak pernah lagi membangun kilang minyak baru sejak terakhir kali pada tahun 1988 yaitu Kilang Balongan.
“Jadi, enggak ada silang pendapat. Hanya memastikan kalau mereka punya rencana (bangun kilang), dijalankan dengan cepat. Supaya kita bisa menghemat subsidi kan,” kata Purbaya usai makan siang di kantin Ditjen DJP, dikutip Jumat (3/10).
Dengan begitu, menurut Purbaya nantinya Indonesia tak perlu bergantung pada impor produk minyak dari luar negeri utamanya Singapura.
Tantangan dan Strategi di Masa Depan

Pertamina menghadapi berbagai tantangan dalam membangun kilang minyak, mulai dari biaya besar hingga persaingan global yang ketat. Namun, perusahaan tetap berkomitmen untuk mempercepat pembangunan kilang agar dapat meningkatkan kemandirian energi nasional.
Agung menekankan pentingnya pengambilan keputusan yang matang dalam investasi kilang, mengingat risiko yang besar. Di samping itu, integrasi bisnis antara kilang dan distribusi bahan bakar juga menjadi strategi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing.
Dengan mempertimbangkan kondisi ekonomi global yang dinamis, Pertamina terus mencari solusi inovatif agar bisa bertahan di tengah persaingan yang semakin ketat. Hal ini juga menjadi langkah penting untuk mendukung visi pemerintah dalam mengurangi ketergantungan pada impor energi.
Komentar
Kirim Komentar