
Perubahan Kepemilikan Saham di PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS)
Pemegang saham minoritas PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), yaitu PT Elias Aldana Manajemen, mengumumkan perubahan kepemilikan saham perusahaan kepada pihak ketiga. Dalam pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh perusahaan, manajemen Elias Aldana Manajemen menyatakan bahwa investor awal perseroan akan melakukan pengalihan sebagian besar kepemilikan saham.
"Pengalihan saham adalah proses pengambilalihan saham secara langsung dari pemegang saham," jelas Direksi dalam pernyataannya. Pengumuman ini dilakukan pada Jumat (3/10/2025).
Manajemen perusahaan memberikan waktu selama 14 hari bagi kreditor untuk mengajukan keberatan terhadap rencana bisnis tersebut. Hal ini menjadi langkah penting untuk memastikan transparansi dan keadilan dalam proses pengalihan saham.
Elias Aldana Manajemen merupakan salah satu investor minoritas di EMAS. Pada tahun 2022, perusahaan memiliki 1.002 lembar saham EMAS atau setara dengan 1% melalui peleburan PT Andalan Bersama Investama (ABI).
Perubahan nominal saham EMAS dari Rp19.524.750 menjadi Rp150 pada 2025 menjelang IPO membuat kepemilikan Elias Aldana Manajemen meningkat menjadi 130,42 juta lembar. Jumlah ini setara dengan 0,9% saham EMAS.
Meski telah mengkonfirmasi aksi korporasi ini kepada Merdeka Group, hingga berita ini diturunkan, belum ada respons yang diterima. Sementara itu, harga saham EMAS pada penutupan perdagangan hari ini berada pada level Rp4.540 per helai. Dengan asumsi hanya memiliki investasi EMAS, pembeli Elias Aldana Manajemen membutuhkan sedikitnya Rp592,13 miliar untuk membeli seluruh perusahaan ini di harga pasar. Namun, nilai akuisisi final tidak diumumkan karena bukan merupakan perusahaan publik.
Proyek Emas Pani: Langkah Awal Penambangan
Pada awal bulan ini, Merdeka Gold mengumumkan dimulainya penambangan pertama di Proyek Emas Pani, Gorontalo. Aksi ini ditandai dengan pengupasan lapisan tanah dan pengambilan bijih awal. Proyek ini merupakan salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia dengan sumber daya lebih dari 7 juta ons emas. Umur tambang diproyeksikan berlangsung selama beberapa dekade dengan tahap awal menggunakan metode heap leach berkapasitas 7 juta ton bijih per tahun.
Perusahaan berencana membangun fasilitas carbon-in-leach (CIL) berkapasitas awal 7,5 juta ton per tahun yang ditingkatkan menjadi 12 juta ton per tahun pada 2030. Dengan ekspansi tersebut, produksi puncak ditargetkan mencapai 500 ribu ons emas per tahun.
Boyke Poerbaya Abidin, Presiden Direktur EMAS, menyebut dimulainya penambangan ini sebagai tonggak penting bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan. Setelah tahap penambangan awal, kegiatan akan berlanjut ke proses pelindihan, pengolahan, hingga produksi emas perdana. Aktivitas tambang diharapkan menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Boyke menegaskan komitmen perusahaan menjalankan operasi sesuai prinsip Good Mining Practices (GMP) dan standar ESG agar manfaat proyek dirasakan secara berkelanjutan.
Tahap Selanjutnya dan Target Produksi
Tahap selanjutnya mencakup penumpukan bijih dan produksi emas perdana yang ditargetkan pada kuartal pertama 2026. EMAS menargetkan produksi 75 ribu hingga 85 ribu ons pada tahun tersebut, dengan metode heap leaching sebagai tahap awal. Setelahnya, fasilitas CIL akan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan produksi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2029.
Komentar
Kirim Komentar