
Perubahan Kepemilikan Saham di PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS)
Pemegang saham minoritas PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS), yaitu PT Elias Aldana Manajemen, mengumumkan pengalihan kepemilikan perusahaan kepada pihak ketiga. Dalam pengumuman resmi yang dikeluarkan oleh manajemen, disebutkan bahwa investor awal perseroan akan melakukan pengalihan sebagian besar kepemilikan saham.
"Pengalihan saham adalah proses pengambilalihan saham secara langsung dari pemegang saham," jelas Direksi EMAS dalam pernyataannya. Proses ini dilakukan dengan memberikan waktu selama 14 hari bagi kreditor untuk mengajukan keberatan terhadap rencana bisnis tersebut.
PT Elias Aldana Manajemen merupakan salah satu investor minoritas di EMAS. Pada tahun 2022, perusahaan memiliki 1.002 lembar saham EMAS atau setara dengan 1% melalui peleburan PT Andalan Bersama Investama (ABI). Namun, setelah perubahan nominal saham EMAS dari Rp19.524.750 menjadi Rp150 pada 2025 menjelang IPO, kepemilikan Elias Aldana Manajemen meningkat menjadi 130,42 juta lembar saham, yang setara dengan 0,9% dari total saham EMAS.
Meskipun bisnis telah mengonfirmasi aksi korporasi ini kepada Merdeka Group, hingga berita ini diturunkan, belum ada respons yang diterima dari pihak terkait. Sementara itu, harga saham EMAS pada penutupan perdagangan hari ini berada pada level Rp4.540 per lembar. Jika asumsi hanya memiliki investasi EMAS, pembeli Elias Aldana Manajemen membutuhkan sedikitnya Rp592,13 miliar untuk membeli seluruh perusahaan ini di harga pasar. Namun, nilai akuisisi akhir tidak diumumkan karena EMAS bukanlah perusahaan publik.
Proyek Emas Pani: Mulai Penambangan Pertama
Pada awal bulan ini, Merdeka Gold mengumumkan dimulainya penambangan pertama di Proyek Emas Pani, Gorontalo. Aksi ini ditandai dengan pengupasan lapisan tanah dan pengambilan bijih awal. Proyek ini merupakan salah satu tambang emas primer terbesar di Indonesia dengan sumber daya lebih dari 7 juta ons emas. Umur tambang diproyeksikan berlangsung selama beberapa dekade dengan tahap awal menggunakan metode heap leach berkapasitas 7 juta ton bijih per tahun.
Perusahaan berencana membangun fasilitas carbon-in-leach (CIL) berkapasitas awal 7,5 juta ton per tahun yang akan ditingkatkan menjadi 12 juta ton per tahun pada 2030. Dengan ekspansi tersebut, produksi puncak ditargetkan mencapai 500 ribu ons emas per tahun.
Boyke Poerbaya Abidin, Presiden Direktur EMAS, menyebut dimulainya penambangan ini sebagai tonggak penting bagi perusahaan dan seluruh pemangku kepentingan. Setelah tahap penambangan awal, kegiatan akan berlanjut ke proses pelindihan, pengolahan, hingga produksi emas perdana.
Aktivitas tambang diharapkan dapat menciptakan lapangan kerja, menggerakkan ekonomi daerah, dan memberi nilai tambah bagi masyarakat. Boyke menegaskan komitmen perusahaan menjalankan operasi sesuai prinsip Good Mining Practices (GMP) dan standar ESG agar manfaat proyek dirasakan secara berkelanjutan.
Tahap Berikutnya dan Target Produksi
Tahap selanjutnya mencakup penumpukan bijih dan produksi emas perdana yang ditargetkan pada kuartal pertama 2026. EMAS menargetkan produksi 75 ribu hingga 85 ribu ons pada tahun tersebut, dengan metode heap leaching sebagai tahap awal. Setelahnya, fasilitas CIL akan dikembangkan untuk meningkatkan efisiensi dan produksi yang diperkirakan mencapai puncaknya pada 2029.
Komentar
Kirim Komentar