
Industri petrokimia dan plastik di Indonesia kini mulai melihat kondisi pasokan gas yang kembali normal setelah sempat terganggu akibat insiden ledakan di Stasiun Pengukuran Subang Citarik milik Pertamina pada awal Agustus 2025. Meski demikian, beberapa pembatasan masih diberlakukan untuk sejumlah kuota tertentu.
Sekretaris Jenderal Indonesia Olefin, Aromatic and Plastic Industry Association (Inaplas), Fajar Budiono menyampaikan bahwa pasokan gas ke sektor industri tersebut sudah kembali lancar sejak pertengahan September 2025. Ia menjelaskan bahwa meskipun pasokan kini stabil, kuota Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) masih belum naik dan tetap dibatasi. Sementara itu, kuota non-HGBT telah kembali normal.
Fajar menambahkan bahwa pembatasan pasokan berlangsung sejak pertengahan Agustus hingga pertengahan September 2025. Meskipun ada gangguan, industri petrokimia dan plastik tidak mengalami kerugian besar karena permintaan pasar sedang melambat akibat banjir produk impor. Pada masa tersebut, utilitas pabrik dikurangi antara 5% hingga 10% sebagai respons terhadap gangguan pasokan. Namun, kini produksi kembali cenderung normal.
Ia juga menegaskan bahwa saat ini kondisi pasokan gas masih aman. Namun, Inaplas berharap pemerintah dapat meningkatkan kuota HGBT untuk industri agar beban biaya energi tidak meningkat. Mudah-mudahan kuota HGBT bisa naik, karena jika sampai impor CNG terjadi, harganya bisa di atas US$ 14 per MMBTU. Itu sangat berat bagi industri, ujar Fajar.
Selain masalah pasokan gas, Fajar juga menyampaikan pentingnya perlindungan terhadap pelaku industri dalam negeri, terutama UMKM yang legal, dari serbuan barang impor ilegal yang dinilai mengancam kinerja industri plastik lokal. Ia berharap daya beli masyarakat akan meningkat di akhir tahun dan bisa dipenuhi oleh produk dalam negeri.
Dengan kondisi pasokan gas yang telah pulih, pelaku industri berharap tidak ada lagi gangguan distribusi di sisi hulu. Jangan sampai produksi terganggu karena pasokan gas, tegas Fajar.
Pasca insiden ledakan di Stasiun Pengukuran Subang milik Pertamina yang terjadi pada 5 Agustus 2025 lalu, penyaluran gas terganggu. PT Migas Hilir Jabar (MRJ), salah satu perusahaan penyalur compressed natural gas (CNG), turut membatasi alur dan pasokan gas kepada pelanggannya.
Insiden tersebut telah berdampak terhadap sistem penyaluran gas dari hulu Pertamina ke Mother Station Migas Hilir Jabar, sebut Komisaris MRJ Surya Yudi Wirman dalam keterangannya pada 13 Agustus lalu. Dalam keterangan tersebut, periode pembatasan disebutkan dimulai sejak 6 Agustus 2025 sampai pemberitahuan lebih lanjut.
Perusahaan mencoba memperbarui informasi pasokan gas MRJ. Rupanya, hingga kini pembatasan tersebut masih berlangsung. Pembatasan masih berlangsung. Karena customer perusahaan sebagian besar adalah FOB (free on board), kami menerapkan kuota kepada pelanggan sesuai antrian, jelas pihak perusahaan kepada aiotrade, Minggu (26/10/2025).
Akibat situasi ini, perusahaan mengaku terjadi penurunan penjualan kisaran 30% dari sebelum terjadinya insiden. Menurut perusahaan, saat ini upaya penanggulangan dari Pertamina masih dalam tahap perbaikan fasilitas pemurnian gas (CO2 removal unit).
Komentar
Kirim Komentar