
Jakarta Rencana Danantara untuk mengirimkan tim negosiasi ke Tiongkok terkait restrukturisasi utang Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) atau Whoosh dinilai sangat penting dalam menjaga kesehatan keuangan proyek tersebut. Langkah ini menjadi fokus utama agar skema pembayaran baru dapat disesuaikan dengan kemampuan arus kas (cashflow) yang dimiliki oleh Whoosh.
Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menyoroti pentingnya memastikan bahwa skema angsuran baru tidak memberatkan APBN maupun Danantara sebagai induk BUMN. Ia menekankan, meskipun masih membutuhkan subsidi, skema tersebut harus dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menyebabkan beban berlebihan bagi pemerintah dan perusahaan.
"Skema yang sesuai dengan kemampuan cashflow Whoosh adalah hal yang sangat penting. Jika ada subsidi, maka harus didesain agar tidak memberatkan APBN atau Danantara," ujarnya.
Wijayanto menjelaskan bahwa dalam proses restrukturisasi utang, terdapat lima komponen utama yang bisa menjadi bahan negosiasi, yaitu grace period, tenor, suku bunga, nilai pokok, dan debt to equity swap. Namun, dari kelima komponen tersebut, ia melihat hanya dua opsi yang paling realistis untuk diajukan dalam konteks utang Whoosh saat ini.
Opsi pertama adalah perpanjangan masa tenggang (grace period), sedangkan opsi kedua adalah perpanjangan tenor pinjaman. Menurutnya, solusi yang paling mungkin diterapkan adalah perpanjangan grace period dari 10 tahun menjadi 20 tahun, serta perpanjangan tenor dari 40 tahun menjadi 60-80 tahun.
"Solusi yang paling memungkinkan adalah grace period diperpanjang dari 10 tahun menjadi 20 tahun, dan tenor dari 40 tahun menjadi 60-80 tahun," jelasnya.
Sementara itu, untuk opsi penurunan suku bunga, Wijayanto mengatakan bahwa meski mungkin dilakukan, peluangnya cukup kecil. Sedangkan untuk opsi pemotongan nilai pokok utang (haircut), ia menilai hal ini akan sangat sulit disetujui oleh pihak kreditur.
"Pemotongan nilai pokok (haircut) akan sangat sulit disetujui. Opsi ini hanya mungkin dalam situasi default (gagal bayar)," tegasnya.
Selain itu, Wijayanto menyarankan alternatif lain untuk menurunkan beban utang, yaitu skema debt to equity swap, yakni menukar utang dengan saham. Ia menilai opsi ini bisa ditawarkan kepada lender (Tiongkok) atau pihak lain. Meski demikian, ia juga menyatakan bahwa opsi ini tidak mudah ditempuh.
Sebelumnya, Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria menyampaikan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap rencana restrukturisasi utang Whoosh yang diklaim bakal dilakukan selama 60 tahun. Ia menegaskan bahwa operasional Whoosh dinilai positif, terlihat dari jumlah penumpang harian yang cukup besar.
"Kita terus bernegosiasi, tetapi yang perlu dikomunikasikan kepada masyarakat, tidak usah khawatir bahwa whoosh ini memberikan manfaat banyak terutama sekali transportasi. Sehari itu sekarang kurang lebih 20-30 ribu penumpang yang kita layani," ujarnya saat ditemui di Kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, Kamis (23/10).
Dony menambahkan bahwa penyelesaian masalah keuangan Whoosh terkait restrukturisasi utang hingga 60 tahun ini merupakan salah satu pilihan. Ia menyatakan bahwa pihaknya masih akan melakukan negosiasi terkait hal ini.
"Mengenai penyelesaian keuangan, menurut saya itu kan hanya opsi saja. Tetapi yang paling penting kita sampaikan kepada masyarakat bahwa secara operasional, KCIC itu sudah membukukan positif secara operasional. Sehingga tidak khawatir terhadap proses operasional karena EBITDA-nya juga positif. KCIC itu tinggal masalah utang pembangunan yang lalu, yang ini tentu ada opsi, beberapa opsi. Dan kita pastikan tentu ini opsi yang terbaik," ungkapnya.
Lebih lanjut, Dony menyatakan bahwa pihaknya akan memberangkatkan tim ke Tiongkok untuk melakukan negosiasi utang Whoosh tersebut.
"Kami akan berangkat lagi juga untuk bernegosiasikan mengenai term daripada pinjamannya. Ini menjadi poin of negosiasi kita, berkaitan sama jangka waktu pinjaman, suku bunga, kemudian juga ada beberapa mata uang yang juga akan kita diskusikan dengan mereka," tandasnya.
Komentar
Kirim Komentar