Miris: 7,8 Juta Warga Miskin Pilih Rokok Daripada Makanan Bergizi

Miris: 7,8 Juta Warga Miskin Pilih Rokok Daripada Makanan Bergizi

Miris: 7,8 Juta Warga Miskin Pilih Rokok Daripada Makanan Bergizi

Fenomena Merokok di Kalangan Ekonomi Rendah yang Mengkhawatirkan

Di tengah berbagai tantangan ekonomi dan kesehatan, fenomena merokok di kalangan masyarakat ekonomi rendah di Indonesia semakin memprihatinkan. Berdasarkan laporan terbaru, sekitar 7,8 juta orang dari kelompok ekonomi bawah lebih memilih membeli rokok daripada mengonsumsi makanan sehat. Hal ini menunjukkan pola konsumsi yang tidak sehat dan dapat berdampak buruk bagi kesehatan serta kondisi ekonomi keluarga.

Advertisement

Indonesia kini menjadi negara ketiga dengan konsumsi tembakau terbesar di dunia, setelah China dan India. Dengan jumlah perokok yang mencapai lebih dari 65 juta orang, budaya merokok sangat melekat dalam kehidupan masyarakat, termasuk di kalangan masyarakat yang sebenarnya rentan terhadap masalah kesehatan dan gizi.

Kebiasaan merokok di kalangan masyarakat miskin bukan hanya membahayakan kesehatan individu, tetapi juga memberikan dampak ekonomi besar bagi rumah tangga. Pengeluaran untuk rokok bahkan menjadi pos pengeluaran terbesar kedua setelah beras, yang menunjukkan bahwa banyak keluarga memandang rokok sebagai kebutuhan utama.

Masyarakat Berpenghasilan Rendah Lebih Memprioritaskan Rokok

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pengeluaran untuk rokok mencapai sekitar 11,9 persen di wilayah perkotaan dan 11,2 persen di pedesaan. Angka ini menggambarkan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah lebih memprioritaskan rokok dibandingkan makanan bergizi seperti sayur, buah, atau sumber protein.

Padahal, kebiasaan merokok setiap hari bisa berdampak negatif bagi tubuh, seperti meningkatkan risiko penyakit jantung, kanker, hingga gangguan pernapasan. Selain itu, konsumsi makanan sehat yang diabaikan dapat menyebabkan kekurangan gizi dan penurunan daya tahan tubuh, terutama bagi anak-anak di keluarga tersebut.

Menambah Kerugian Ekonomi Nasional

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) juga mengungkapkan bahwa kebiasaan merokok di kalangan masyarakat ekonomi rendah turut menambah kerugian ekonomi nasional. Kerugian akibat konsumsi rokok diperkirakan mencapai Rp17,9 triliun hingga Rp20 triliun per tahun. Angka ini seharusnya bisa dialokasikan untuk sektor kesehatan dan gizi masyarakat.

Masalah prioritas konsumsi antara rokok dan makanan sehat ini menjadi tantangan besar bagi pemerintah dalam meningkatkan kesadaran masyarakat tentang gaya hidup sehat. Diperlukan edukasi dan regulasi ketat agar masyarakat mulai memahami bahaya rokok serta pentingnya asupan bergizi dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadaran Masyarakat untuk Mengurangi Konsumsi Rokok

Kesadaran masyarakat untuk mengurangi konsumsi rokok dan beralih ke pola makan sehat menjadi langkah penting dalam menciptakan generasi yang lebih produktif dan sehat. Dengan dukungan pemerintah serta peran aktif masyarakat, diharapkan kebiasaan merokok bisa ditekan dan kesejahteraan keluarga ekonomi rendah di Indonesia dapat meningkat.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar