Tanggapan Bahlil Lahadalia terhadap Meme dan Ejekan di Media Sosial
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Republik Indonesia, Bahlil Lahadalia, memberikan respons terkait maraknya meme dan ejekan yang menyinggung dirinya di media sosial. Dalam wawancara dengan media, ia mengungkapkan bahwa ia sudah terbiasa menerima kritik dan hinaan sejak masa kecil.
Bahlil mengatakan bahwa ia tidak merasa terganggu oleh serangan personal yang beredar di dunia maya. Ia mengaku telah ditempa oleh kerasnya kehidupan sejak kecil, sehingga cibiran publik hanyalah hal kecil dibandingkan perjuangannya dahulu. Menurutnya, pengalaman hidup yang pahit membuatnya lebih kuat dan mampu menghadapi kritik dengan sikap tenang.
Saya jujur mengatakan begini ya, kalau meme ke pribadi saya, yang sudah mengarah ke pribadi, saya itu memang sudah biasa dihina sejak masih kecil. Karena saya kan bukan anak pejabat, saya kan anak orang dari kampung. Ibu saya kan memang hanya buruh cuci di rumah orang. Ayah saya buruh bangunan. Jadi hinaan itu terjadi sejak saya SD, masih kecil. Jadi menurut saya itu nggak apa-apalah, ujarnya.
Meski memilih memaafkan, Bahlil tetap menekankan pentingnya etika dalam menyampaikan kritik. Ia berpendapat bahwa kritik publik seharusnya diarahkan pada kebijakan, bukan kepada hal-hal pribadi seperti fisik, ras, atau asal-usul seseorang.
Sebenarnya kalau kritisi kebijakan itu nggak apa-apa. Tapi kalau sudah pribadi, sudah mengarah ke rasis, itu menurut saya nggak bagus lah, katanya.

Bahlil juga mengingatkan bahwa ruang publik, termasuk media sosial, harus menjadi tempat diskusi yang sehat, bukan arena untuk menjatuhkan martabat orang lain. Sebagai Menteri ESDM, ia menyindir perilaku sebagian masyarakat yang gemar menilai seseorang hanya dari penampilan luarnya.
Ia menegaskan bahwa kecerdasan dan integritas tidak bisa diukur dari wajah atau bentuk tubuh seseorang. Belum tentu orang ganteng itu cerdas pikirannya. Belum tentu orang yang tidak sempurna tubuhnya itu jelek pikirannya, kata Bahlil dengan tegas.
Baginya, penampilan hanyalah kulit luar yang tidak mencerminkan nilai sejati dari manusia. Lebih jauh, Bahlil menegaskan bahwa kemuliaan seseorang tidak dapat diukur dengan standar duniawi seperti rupa, jabatan, atau kekayaan. Menurutnya, ukuran sejati kemuliaan manusia terletak pada moral dan tindakan yang baik dalam kehidupan sehari-hari.
Yang bisa membedakan kemuliaan orang, manusia di muka bumi, hanyalah dia dengan Tuhan. Kita gak boleh menilai, melebihi batas kemampuan kita. Biarlah Allah yang akan melakukan itu semua, ucapnya.
Di akhir pernyataannya, Bahlil berharap masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dan menjaga etika dalam berekspresi, terutama di tengah derasnya arus digitalisasi yang membuat informasi mudah menyebar. Ia juga mengaitkan pesannya dengan momen menjelang peringatan Hari Sumpah Pemuda, yang memiliki makna penting bagi persatuan bangsa.
Kita ini kan sumpah pemuda kan, 28 Oktober tahun 28 kan sudah, ini masih dalam suasana menjelang sumpah pemuda. Kita kan sudah mengikrarkan diri. Kita berbeda-beda, tetap satu. Satu bahasa, satu tanah air, satu nusa, satu bangsa, pungkasnya.
Pernyataan Bahlil itu menjadi pengingat bahwa di tengah perbedaan dan dinamika sosial, sikap saling menghormati tetap harus dijaga. Ia mencontohkan bagaimana menghadapi kritik dengan kepala dingin dan hati lapang, tanpa harus membalas dengan kebencian.

Laporan atas Penyerangan terhadap Martabat Bahlil Lahadalia
Adapun pada Senin (20/10/2025), Asosiasi Masyarakat Peduli Golkar (AMPG) mendatangi Direktorat Reserse Siber Polda Metro Jaya untuk berkonsultasi sekaligus melaporkan beberapa akun media sosial yang dianggap menyerang kehormatan dan martabat Bahlil.
Wakil Ketua Umum AMPG, Sedek Bahta, menegaskan ihwal laporan ini akibat pemilik akun media sosial yang tidak disebutkan namanya telah merendahkan martabat Bahlil. Kami melaporkan beberapa akun media sosial yang secara terstruktur dan masif belakangan ini menyerang pribadi, marwah, dan martabat Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia, kata Sedek di Polda Metro Jaya.
Sedek membawa sejumlah barang bukti berupa tangkapan layar konten yang menyerang Bahlil. Para pemilik akun tersebut disangkakan melanggar Pasal 27 dan 28 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), serta Pasal 310 KUHP tentang pencemaran nama baik dan penghinaan.
Pihaknya, kata Sedek, juga sudah memberikan somasi sebelum membawa kasus tersebut ke ranah hukum. Sebelum kami melakukan laporan ini, terhadap konten-konten itu kami sudah melakukan somasi, beberapa akun yang kooperatif dan sudah men-take down unggahannya, ujarnya.
Namun, masih ada beberapa akun yang belum menarik gambar meme tersebut. Sedikitnya ada lima hingga tujuh akun yang dilaporkan dalam tahap awal ini. Jumlah itu masih bisa bertambah sebab pihaknya masih menelusuri akun-akun lain yang turut menyebarkan konten serupa.
Ada yang menulis 'wudhu pakai bensin', ada yang melempar jumrah dengan batu bara, ada juga yang membenarkan penyerangan secara fisik terhadap beliau, ucap Sedek.
Sedek tidak menyampaikan nama akun-akun dan siapa pemiliknya kepada publik. Hal itu sepenuhnya diserahkan kepada penyidik Ditressiber Polda Metro Jaya. Semuanya sudah kami serahkan secara resmi ke penyidik dalam bentuk bukti tangkapan layar, identitas akun, dan sebagainya, ucapnya.
Sementara itu, laporan serupa juga disampaikan oleh kader DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI) ke Bareskrim Polri di hari yang sama.
Komentar
Kirim Komentar