Mental Pemain Timnas Indonesia Hancur Akibat Bullying Media Sosial

Mental Pemain Timnas Indonesia Hancur Akibat Bullying Media Sosial

Advertisement

Peran Media Sosial dalam Membangun Citra Sepak Bola Indonesia

Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyerukan ajakan tegas kepada netizen di media sosial untuk ikut menjaga ekosistem sepak bola Indonesia. Sebagai seorang yang juga menjabat sebagai Menpora, ia mengingatkan agar tidak ada lagi praktik bullying dan pemberitaan yang tidak berimbang terhadap pemain timnas Indonesia.

Erick Thohir menekankan bahwa media sosial memiliki peran penting dalam membangun citra positif sepak bola nasional. Menurutnya, media sosial tidak hanya bertugas menyampaikan informasi, tetapi juga melindungi para pemain dari dampak psikologis akibat sorotan yang berlebihan.

Saya minta tolong kepada rekan-rekan media. Bantu kami membangun sepak bola Indonesia dengan benar. Kritik boleh, tapi jangan sampai jadi bullying yang berlebihan, ujarnya kepada awak media termasuk aiotrade.

Dampak Bullying terhadap Pemain Muda

Pria asal Lampung ini menyoroti maraknya serangan verbal dan komentar ekstrem terhadap pemain, baik dalam pemberitaan di media sosial maupun di forum-forum online. Fenomena ini, menurutnya, bisa menjadi racun bagi perkembangan para pemain muda yang tengah meniti karier profesional.

Ia menyebutkan beberapa pemain timnas Indonesia seperti Rizky Ridho dan Marselino Ferdinan yang sempat terkena semprotan dari netizen. Seharusnya netizen bersikap lebih baik dan tetap memberikan dukungan positif.

Kita punya banyak pemain muda luar biasa, ada Rizky Ridho, Marselino Ferdinan, dan generasi di U-23, U-20, bahkan U-17 yang akan main di Piala Dunia U-17 2025. Mereka aset bangsa. Kalau terus diserang dan dibully, bagaimana mereka bisa berkembang? tambah Erick Thohir.

Isu Diskriminasi di Sepak Bola Nasional

Tidak hanya soal bullying, Erick Thohir juga menyentuh isu diskriminasi yang masih menghantui sepak bola nasional. Ia mengaku prihatin melihat masih adanya perlakuan tidak adil terhadap pemain dari wilayah tertentu, khususnya dari Indonesia timur.

Beberapa pemain timnas Indonesia dari timur, seperti Yakob Sayuri, disorot karena performa yang kurang memuaskan saat timnas Indonesia melawan Arab Saudi. Pemain Malut United itu juga diserang di media sosial karena bermain jelek.

Saya tegaskan, tidak ada tempat bagi diskriminasi di sepak bola kita. Saudara-saudara kita dari timur adalah bagian penting dari bangsa ini. Jangan beri label buruk hanya karena asal atau latar belakang, tegas Erick Thohir.

Harapan untuk Masa Depan Sepak Bola Indonesia

Erick Thohir menutup dengan harapan agar semua pihak, terutama media dan publik sepak bola, bisa ikut menjaga semangat sportivitas dan rasa saling menghargai. Ia berharap dapat membangun sepak bola yang sehat dan berintegritas.

Kita sedang membangun sepak bola yang sehat dan berintegritas. Mari sama-sama jadi bagian dari solusi, bukan sumber luka bagi pemain kita, pungkasnya.

Langkah Bersama untuk Masa Depan yang Lebih Baik

Dalam rangka menciptakan lingkungan yang sehat bagi pemain sepak bola Indonesia, Erick Thohir menekankan pentingnya kolaborasi antara media, penggemar, dan institusi sepak bola. Setiap pihak harus sadar bahwa dukungan positif dan kritik konstruktif sangat diperlukan untuk pertumbuhan olahraga ini.

  • Dukungan dari masyarakat dan media sosial bisa menjadi benteng bagi pemain muda.
  • Penyebaran informasi yang benar dan seimbang perlu ditegakkan.
  • Tidak ada ruang bagi diskriminasi atau bullying dalam dunia sepak bola.

Dengan kesadaran bersama, sepak bola Indonesia bisa menjadi contoh yang baik bagi negara-negara lain. Pemain-pemain muda akan merasa aman dan didukung untuk berkembang, sehingga masa depan sepak bola Indonesia semakin cerah.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar