
Mengubah Kebiasaan Buruk Anak Menjadi Sikap yang Menghargai Lingkungan Sekolah
Setiap anak pasti pernah mengalami fase di mana mereka menunjukkan perilaku yang kurang pantas di sekolah. Perilaku seperti mengganggu teman, menyela guru, tidak mau berbagi, atau menunjukkan sikap acuh tak acuh bisa saja terjadi. Jika dibiarkan, kebiasaan-kebiasaan ini dapat menghambat proses belajar anak dan merusak hubungannya dengan guru serta teman sebaya.
Kabar baiknya adalah bahwa perilaku bisa diajarkan dan dibentuk. Dengan pendekatan yang strategis dan konsisten dari orang tua, kebiasaan buruk dapat diubah menjadi sikap hormat dan santun, sehingga menjadikan anak sebagai murid yang teladan. Berikut adalah beberapa strategi praktis untuk membantu mengubah kebiasaan buruk anak menjadi sikap yang menghargai lingkungan sekolah.
Memahami Akar Masalah Kebiasaan Buruk
Kebiasaan buruk sering kali merupakan ekspresi dari kebutuhan yang belum terpenuhi atau keterampilan yang belum dikuasai anak. Mengatasi gejalanya saja tidak akan berhasil. Contohnya, jika anak sering menyela guru saat menjelaskan, mungkin akar masalahnya adalah karena ia merasa kurang mendapat perhatian di rumah, atau ia belum menguasai keterampilan menunggu giliran berbicara.
Tindakan Orang Tua: Alih-alih hanya menghukum, ajak anak bicara mengenai perasaannya. Latih keterampilan menunggu di rumah, misalnya saat makan malam atau saat Anda berbicara di telepon. Jelaskan, "Semua orang ingin didengar, dan kita menghormati guru dengan sabar menunggu giliran."
Pentingnya Bahasa Tubuh dalam Menunjukkan Sikap Hormat
Sikap hormat 80% terlihat dari bahasa tubuh, bukan hanya kata-kata. Kebiasaan seperti duduk dengan malas, memalingkan muka, atau memainkan benda saat guru berbicara menunjukkan ketidakpedulian.
- Latihan Kontak Mata: Latih anak untuk selalu melakukan kontak mata saat orang dewasa (atau teman) berbicara. Jelaskan bahwa kontak mata adalah tanda bahwa ia sedang mendengarkan dengan serius dan menghargai pembicara.
- Postur Tubuh: Latih postur "Siap Belajar" atau "Siap Mendengar" di rumah. Berdiri tegak dan duduk rapi saat ditegur atau saat ada sesi belajar bersama. Postur yang rapi secara psikologis membantu meningkatkan fokus.
- Tangan Terbuka: Ajarkan anak untuk tidak menyilangkan tangan di dada atau memasukkan tangan ke saku saat berkomunikasi di sekolah, karena ini dapat diartikan sebagai sikap defensif atau tertutup.
Mengalihkan Perhatian pada Perilaku Teladan
Alih-alih fokus pada kebiasaan buruk, alihkan perhatian dan motivasi anak pada perilaku teladan yang Anda inginkan.
- Ganti Kalimat: Jangan katakan: "Jangan ganggu temanmu saat mengerjakan tugas." Ubah menjadi: "Kita harus menunjukkan sikap peduli dengan membiarkan teman fokus pada tugasnya."
- Soroti Karakter: Beri label pada perilaku positif. Saat anak berbagi, puji: "Itu adalah tindakan murid yang murah hati!" Ketika ia sabar menunggu giliran, katakan: "Kamu menunjukkan sikap sabar yang luar biasa!"
Kerja Sama antara Rumah dan Sekolah
Kerja sama yang erat antara rumah dan sekolah memastikan bahwa anak menerima pesan yang konsisten mengenai perilaku yang diharapkan.
- Komunikasi Terbuka: Jika guru melaporkan perilaku buruk, dengarkan tanpa defensif dan tanyakan: "Bagaimana kami bisa mendukung upaya Bapak/Ibu di rumah?"
- Sistem Poin atau Reward Bersama: Jika anak perlu memperbaiki perilaku, buatlah sistem reward sederhana yang diakui di rumah dan di sekolah (misalnya, jika guru memberi catatan positif tentang kerajinan, anak mendapat poin di rumah). Ini memotivasi anak untuk tampil teladan di semua lingkungan.
Kesimpulan
Mengubah kebiasaan membutuhkan waktu, tetapi dengan kesabaran, pemodelan yang baik, dan konsistensi, Anda dapat membantu anak beralih dari sekadar mematuhi aturan menjadi menghargai guru, teman, dan lingkungan sekolah, menjadikannya murid teladan yang sesungguhnya.
Komentar
Kirim Komentar