Menguak Keterampilan Penenun di Kampung Tenun Sulaa Baubau, Warisan Turun Temurun

Menguak Keterampilan Penenun di Kampung Tenun Sulaa Baubau, Warisan Turun Temurun

Menguak Keterampilan Penenun di Kampung Tenun Sulaa Baubau, Warisan Turun Temurun

Kampung Tenun Sulaa, Wisata Budaya yang Menyimpan Warisan Leluhur

Kampung Tenun Sulaa terletak di Kecamatan Betoambari, Kota Baubau, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra). Lokasinya berada di dalam lorong dekat Dermaga Topa, tempat kapal penyeberangan menuju Siompu dan Kadatua. Jarak dari Pelabuhan Murhum sekitar 10,1 kilometer dengan waktu tempuh sekitar 24 menit jika berkendara menggunakan motor atau mobil.

Advertisement

Galeri tenun ini berdiri di atas pantai berpasir putih, sehingga pengunjung tidak hanya bisa menikmati keindahan kain tenun tetapi juga pemandangan laut yang biru kehijauan. Saat air pasang, galeri ini berada tepat di atas air, sedangkan saat surut, ia berada di atas hamparan pasir putih yang menawan.

Para penenun di kampung ini adalah para ibu-ibu dari Kelurahan Sulaa yang telah mewarisi keahlian menenun secara turun temurun. Salah satu penenun, Musida, mengungkapkan bahwa ia belajar menenun dari ibunya. Saya bisa menenun karena mama dulu menenun jadi saya belajar dari dia, ujarnya.

Aktivitas menenun di Galeri Tenun Sulaa dilakukan setiap hari dan dibagi dalam giliran kelompok. Kami dikelompokkan dalam Kelompok Pesona Nirwana. Anggota kami masih utuh, produksi lancar, dan aktivitas menenun dimulai pukul 8 pagi hingga 4 sore, tambahnya.

Kunjungan ke Kampung Tenun Sulaa memberikan pengalaman langsung bagi wisatawan untuk menyaksikan proses pembuatan tenun secara tradisional. Meskipun ada pengembangan motif, cara tradisional masih digunakan oleh para penenun.

Motif tenun sudah mengalami perkembangan. Dulu hanya motif lurik, sekarang ada motif ikan dole dan lainnya, ujar Musida. Ia juga menjelaskan bahwa mereka masih menyediakan motif tradisional seperti Akhirina Ashara, Baralu, Bhuncana Kaluku, Bulamalaka, Buruna Gola, Dalima Mabongko, Jempaka Biru, dan lainnya. Secara total, ada sekitar 40 macam motif tradisional yang sudah turun-temurun disampaikan, katanya.

Dalam sarung tradisi, terdapat perbedaan motif antara laki-laki dan perempuan. Untuk laki-laki, motif lurik biasanya berupa garis mendatar, sedangkan perempuan menggunakan motif kotak-kotak.

Selain sebagai destinasi wisata, Kampung Tenun Sulaa juga menyediakan sarung yang bisa dibeli dengan harga mulai dari Rp800 ribu untuk bahan bukan katun, sementara bahan katun dijual mulai dari Rp1,5 juta. Bahan katun lebih mahal karena kami menggunakan pewarna alami. Sementara untuk bahan lain, kami menggunakan pewarna dari toko, jelas Musida.

Untuk pemesanan, pengunjung dapat memesan jauh-jauh hari sebelum pemakaian. Jika motif pesanan cukup rumit, proses pengerjaan bisa memakan waktu sekitar 12 hingga 15 hari.

Musida juga menyampaikan bahwa profesi penenun semakin jarang diminati oleh generasi muda. Sekarang, banyak anak muda yang tidak tertarik belajar menenun. Rata-rata yang menenun usia di atas 30 tahun, ujarnya.

Ia berharap, di masa depan, tenun dapat terus mendapatkan dukungan penuh serta minat dari kalangan muda untuk belajar menenun.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar