
Penurunan Produksi Kopi Bajawa dan Tantangan Petani
Produksi kopi di wilayah Bajawa, Nusa Tenggara Timur (NTT), mengalami penurunan sejak awal tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh kondisi tanaman kopi yang rata-rata sudah berumur tua dan merupakan warisan dari nenek moyang. Menurut Dr. Leta Rafael Levis, akademisi Fakultas Pertanian Universitas Nusa Cendana (Undana), hal ini menjadi salah satu faktor utama menurunnya hasil panen.
"Benar, hasil survei ke beberapa desa di wilayah produksi menunjukkan bahwa produksi kopi memang menurun karena tanaman kopi yang sudah tua," ujarnya.
Selain itu, banyak petani telah beralih menggunakan lahan untuk tanaman lain, terutama tanaman hortikultura. Alasan utamanya adalah karena tanaman kopi yang tua membutuhkan waktu lama untuk diperemajaan, sementara dengan beralih ke tanaman hortikultura, para petani bisa mendapatkan penghasilan lebih cepat.
"Petani lebih memilih tanaman hortikultura karena mereka ingin mendapatkan keuntungan lebih cepat. Jika mereka melakukan peremajaan kopi, mereka harus menunggu cukup lama sebelum hasilnya bisa dirasakan," katanya.
Solusi yang Diharapkan
Menurut Levis, pemerintah seharusnya memberikan insentif bagi petani yang ingin melakukan peremajaan tanaman kopi. Karena saat melakukan peremajaan, petani sering menghadapi kesulitan finansial dan ketiadaan penghasilan sementara.
Selain itu, ia juga menyarankan agar petani diberikan ruang untuk melakukan peremajaan secara bertahap atau trap. Tujuannya adalah agar tidak semua tanaman kopi diganti dengan tanaman hortikultura, sehingga keberlanjutan produksi kopi tetap terjaga.
Levis mengkhawatirkan jika pemerintah dan petani tidak segera mencari solusi yang tepat, maka kopi Bajawa akan menjadi cerita masa lalu. Ia menekankan pentingnya adanya solusi win-win yang dapat menjaga keharuman kopi Bajawa agar dapat dinikmati oleh generasi mendatang.
Pola Hidup Petani Subsisten
Meski produksi kopi menurun, Levis menyampaikan bahwa para petani tetap merasa puas dengan situasi yang ada. Banyak petani di NTT, termasuk petani kopi, memiliki orientasi subsisten, yaitu puas dengan apa yang ada dan produksi cukup untuk konsumsi sendiri.
Selain itu, mereka enggan melakukan peremajaan atau mengganti tanaman kopi dengan anakan baru karena takut terhadap risiko kegagalan. Hal ini menjadi ciri khas dari petani subsisten yang umum ditemui di daerah NTT.
Keterbatasan Modal dan Pengetahuan
Levis menjelaskan bahwa petani seperti ini biasanya memiliki keterbatasan modal, keterampilan, dan pengetahuan untuk mengubah pola pertanian secara fundamental. Bahkan meskipun pemerintah terus memberikan bantuan, kondisi petani tidak banyak berubah.
Dalam ilmu keinovatifan, petani di NTT termasuk dalam kategori late majority, yaitu kelompok yang sulit menerima teknologi baru. Mereka biasanya menunggu bantuan pemerintah sebelum bergerak. Namun, setelah bantuan berhenti, mereka cenderung kembali ke pola awal.
Peran Petani Milenial
Untuk mengatasi masalah ini, Levis mengajak pemerintah untuk terus mendorong partisipasi petani milenial. Mereka diharapkan menjadi inovator atau pelopor yang mampu membawa transformasi perilaku dan perubahan struktural dalam bertani.
Ia menilai, dengan adanya petani milenial yang memiliki tingkat keinovatifan yang baik, masyarakat bisa lebih mudah beradaptasi dengan perubahan dan teknologi modern.
Komentar
Kirim Komentar