Kinerja Saham COIN Saat Harga Kripto Rekor, Bagaimana Masa Depannya?

Kinerja Saham COIN Saat Harga Kripto Rekor, Bagaimana Masa Depannya?

Harga saham PT Indokripto Koin Semesta Tbk (COIN) mengalami peningkatan yang signifikan dalam beberapa waktu terakhir, meskipun pada hari ini terpantau mengalami koreksi. Sejak melantai di Bursa Efek Indonesia pada 9 Juni lalu, harga saham COIN telah meningkat lebih dari 3.500%.

Advertisement

Loncatan harga saham tersebut terjadi seiring dengan meningkatnya ketertarikan pasar terhadap aset kripto. Salah satu indikatornya adalah naiknya harga saham Bitcoin (BTC) ke level US$120.000, yang merupakan rekor tertinggi sejak Agustus lalu saat BTC mencapai US$124.514.

Menurut laporan dari Bloomberg, kenaikan harga BTC disebabkan oleh meningkatnya spekulasi bahwa penutupan pemerintah Amerika Serikat akan mendorong pasar beralih ke aset safe haven, seperti BTC. Selama ini, BTC dikenal sebagai emas digital oleh para penggemarnya.

"Untuk pertama kalinya dalam beberapa waktu, tema makro tampaknya telah menguasai Bitcoin. Hal ini didorong oleh aliran masuk ETF sebesar $1,5 miliar minggu ini, dan Bitcoin tampaknya berusaha mengejar pergerakan emas yang sangat tinggi dalam beberapa minggu terakhir," ujar Karim Dandashy, pedagang over-the-counter di perusahaan perdagangan kripto Flowdesk, dikutip dari Bloomberg, Jumat (3/10).

Profil Haryanto Tjiptodihardjo, Bos IMPC di Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya RI

Di tengah geliat pasar kripto, harga saham COIN terkoreksi sebesar 1,09% atau 40 poin ke level 3.610 pada perdagangan hari ini pukul 10.45 WIB. Meski mengalami koreksi, harga saham COIN masih naik sekitar 3.900% dari harga IPO, yaitu Rp 90 per saham.

Indokripto merupakan perusahaan holding yang memiliki bisnis di bidang bursa berjangka dan aset kripto, serta jasa custodian aset kripto melalui anak perusahaan PT Central Finansial X (CFX). CFX, sebagai bursa aset kripto, telah memiliki 31 anggota bursa dengan 19 di antaranya memiliki izin pedagang dari Bappebti. Selain itu, ada 7 anggota bursa berjangga yang memiliki izin pialang berjangka.

Dalam pengumuman terbaru yang disampaikan manajemen COIN dalam keterbukaan informasi BEI, Indonesia mendapat sorotan positif di panggung internasional TOKEN2049 berkat pendekatan regulasi kolaboratif dalam membangun ekosistem aset kripto. Token 2049 adalah konferensi kripto global yang diadakan setiap tahun di pusat keuangan utama, seperti Singapura dan Dubai.

Sebagai anak usaha COIN, CFX, bursa aset kripto pertama di Indonesia yang berizin OJK, menjelaskan bahwa model regulasi tersebut mampu mendorong pertumbuhan industri kripto nasional sekaligus membuka peluang bagi Indonesia menjadi pusat perdagangan aset kripto di Asia Tenggara.

Direktur Utama CFX Subani menyatakan bahwa ajang TOKEN2049 menjadi momentum untuk memperkenalkan keunggulan industri aset kripto Indonesia di mata global. Menurutnya, Indonesia memiliki daya saing melalui kerangka regulasi yang akomodatif dan kolaboratif. Ekosistem kripto domestik dinilai lengkap dengan hadirnya OJK sebagai regulator, Bursa CFX, lembaga kliring, kustodian, hingga Pedagang Aset Keuangan Digital.

“Partisipasi dalam TOKEN2049 sekaligus menjadi wujud komitmen Bursa CFX dalam memajukan industri aset kripto Indonesia. Kami ingin menunjukkan kepada pelaku industri kripto global bahwa Indonesia memiliki potensi besar untuk menjadi pusat perdagangan di kawasan Asia Tenggara,” ujar Subani dalam keterangan resminya dikutip Jumat (3/10).

Subani menilai, tren global kini bergerak dari ekosistem kripto yang belum teregulasi menuju sistem yang semakin terstruktur dan terpercaya. Pendekatan regulasi kolaboratif yang diterapkan Indonesia dinilai sejalan dengan arah pasar internasional tersebut.

Pertumbuhan Pasar Lokal dan Investor Kripto

Kinerja pasar domestik mencerminkan efektivitas pendekatan ini. Pada kuartal kedua 2025, pasar spot lokal yang teregulasi tumbuh 6,9%. Sementara itu, pasar spot global yang belum teregulasi justru turun 27,7% pada periode yang sama.

Pertumbuhan pasar lokal beriringan dengan lonjakan jumlah investor kripto. Data OJK menunjukkan, jumlah konsumen aset kripto mencapai 16,5 juta per Juli 2025. Angka itu naik 27,1% dibandingkan posisi Januari 2025 yang baru menyentuh 12,9 juta.

Meski mencatatkan kenaikan harga saham yang signifikan, Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menyatakan bahwa saat ini saham COIN tidak direkomendasikan. “Not rated,” kata Nafan kepada aiotrade.app, Jumat (3/9).

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar