
Pemandangan bangunan lama Gereja Santa Maria A. Fatima di Pekanbaru yang masih kokoh berdiri hingga kini. Dari kompleks inilah sejarah panjang pelayanan dan pendidikan Katolik di Pekanbaru berakar, termasuk berdirinya SD Santa Maria tempat saya menimba ilmu di awal 1970-an.
Prolog Reflektif: Jejak di Jalan Bangka
Setiap kali langkah saya menapaki kembali Jalan Bangka di Pekanbaru, kenangan masa kecil seolah berhembus lembut bersama udara tropis yang kini terasa lebih padat oleh deru kota.
Di sinilah saya tumbuh, di lingkungan yang akrab, hanya berjarak beberapa belas meter dari rumah keluarga Cahya (Kho Guan Ek), yang pernah menjadi saksi awal tumbuhnya umat Katolik di kota ini.
Beberapa ratus meter dari situ berdiri Gereja Santa Maria a Fatima, salah satu bangunan rohani tertua di Pekanbaru, serta Perguruan Katolik Santa Maria, tempat saya menimba ilmu hingga menamatkan sekolah dasar pada tahun 1977.
Meski sekolah ini beridentitas Katolik, murid-muridnya datang dari berbagai latar belakang iman: Muslim, Buddha, Konghucu, dan Protestan. Kami belajar dan bermain bersama tanpa sekat, di bawah naungan nilai universal: kasih, disiplin, dan penghormatan terhadap sesama.
Kini, saat menapak tilas sejarah paroki ini, saya menyadari bahwa kebersamaan lintas iman yang saya alami sejak kecil merupakan bagian dari perjalanan panjang gereja dan masyarakat Pekanbaru sendiri.
Awal Mula Paroki: Dari Payakumbuh ke Pekanbaru
Pada awal tahun 1950-an, Pekanbaru masih merupakan kota kecil di tepi Sungai Siak. Penduduknya bertambah seiring dengan kegiatan eksplorasi minyak bumi yang dilakukan melalui kerja sama antara Indonesia dan Amerika Serikat.
Bersamaan dengan itu, mulai berdatangan warga dari berbagai daerah, termasuk umat Katolik yang jumlahnya saat itu hanya segelintir orang, kebanyakan tinggal di kawasan Rumbai.
Karena belum ada paroki di Pekanbaru, pelayanan rohani dilakukan oleh pastor-pastor dari Paroki Payakumbuh, Sumatra Barat. Mereka datang secara berkala menyeberangi Sungai Kampar dan Sungai Siak demi melayani umat dan merayakan misa di rumah-rumah sederhana.
Saat itu Pekanbaru masih berstatus stasi, namun semangat iman umat yang sederhana dan gigih menumbuhkan harapan agar suatu hari kota ini memiliki paroki sendiri.
Kedatangan Pastor Romano Danielli, SX: Awal Sebuah Perubahan
Perubahan besar dimulai pada 10 November 1953, ketika Pastor Romano Danielli, SX, seorang imam misionaris dari Italia, tiba di Pekanbaru setelah menempuh perjalanan panjang dari Bukittinggi.
Beliau disambut oleh keluarga Kho Guan Ek (Bapak Cahya) dan beberapa umat Katolik lainnya. Belum ada rumah atau gedung gereja saat itu. Pastor Danielli menumpang di rumah keluarga Cahya di Jalan Bangka sebelum kemudian menyewa kamar tak jauh dari situ.
Tidak lama berselang, Pastor A. Nardello, SX datang membantu. Bersama umat, mereka membeli sebidang tanah di Jalan Bangkinang (kini Jalan Ahmad Yani), tanah milik seorang Katolik dari Payakumbuh bernama Bapak Cheng San.
Perjuangan mendapatkan izin pembangunan gereja tidak mudah. Namun berkat kegigihan Pastor Nardello, Pastor Danielli, dan dukungan keluarga Cahya, izin tersebut akhirnya terbit.
Maka, pada 24 Mei 1954, wilayah Pekanbaru resmi ditetapkan sebagai Quasi Paroki, sebuah tonggak penting dalam sejarah Gereja Katolik di Riau.
Sebuah Foto, Sebuah Harapan
Kisah yang paling mengharukan datang dari cara Pastor Danielli SX mencari dana untuk membangun gereja. Ia memotret seorang anak kecil bernama TH. Suwanti, lalu mengirimkan foto itu ke Italia.
Foto sederhana itu ternyata menyentuh hati para penderma di Eropa. Mereka tidak mengenal siapa anak itu, bahkan mungkin tak tahu di mana Pekanbaru berada, tetapi mereka merasakan panggilan kasih yang sama.
Bantuan pun mengalir dari negeri jauh itu untuk membangun rumah ibadah pertama bagi umat Katolik di Pekanbaru.
Kisah ini kini menjadi bagian dari memori kolektif umat Santa Maria, yang diwariskan turun-temurun. Sebuah foto kecil, sebuah harapan besar, simbol kasih lintas benua yang menghubungkan seorang anak di Riau dengan hati-hati penuh iman di Italia.
Gereja Baru dan Pertumbuhan Paroki
Pada tahun 1963, di masa kepemimpinan Pastor Aniceto Morini, SX, direncanakan pembangunan gereja baru karena umat semakin banyak.
Peletakan batu pertama dilakukan oleh Uskup Raimondo Bergamin, SX bersama Gubernur Riau, Kaharuddin Nasution.
Pembangunan berlangsung dengan dukungan para pastor lain seperti Pastor Silvano Laurenzi, SX; Albino Orsi, SX; Angelo Calvi, SX; dan Abdon Fantelli, SX. Dua tahun kemudian, tepatnya 27 Mei 1965, Gereja Santa Maria a Fatima diresmikan, menjadi simbol pertumbuhan iman umat Katolik di Pekanbaru.
Pelayanan yang Meluas dan Pembentukan Kring
Untuk meningkatkan pelayanan, wilayah paroki kemudian dibagi menjadi kring-kring (lingkungan) oleh Pastor A. Larruffa, SX bersama Bapak Alo Ulahayanan, seorang umat asal Kepulauan Kei.
Nama kring diambil dari para rasul, seperti Santo Petrus, Santo Yohanes, Santo Andreas, dan Santo Tadeus. Dari pembagian wilayah inilah pelayanan gereja menjadi lebih efektif.
Seiring pertumbuhan umat, beberapa kring berkembang menjadi paroki baru di Air Molek, Dumai, Duri, dan Rengat, yang kini menjadi pusat pelayanan Katolik di Riau daratan.
Kenangan Pendidikan: Pramuka dan Muder Carolina
Foto ilustrasi: Kenangan awal 1970-an bersama Muder Carolina dan siswa-siswi Santa Maria. (Dalam jejeran terdapat kakak dan abang penulis yang menerima penghargaan Gerakan Pramuka tingkat Provinsi Riau.)
Gugus depan Santa Maria menjadi bagian penting pembinaan karakter dan disiplin bagi generasi muda saat itu.
Dari sekolah inilah lahir pribadi-pribadi yang kelak memberi sumbangsih bagi masyarakat, membawa semangat kasih, kerja keras, dan keteladanan yang dipraktikkan sehari-hari.
Refleksi Penutup: Kasih yang Tak Pernah Luntur
Menelusuri sejarah Paroki Santa Maria a Fatima bukan sekadar mengenang perjalanan rohani umat Katolik di Pekanbaru, melainkan menelusuri jejak persaudaraan manusia lintas iman.
Saya sendiri menjadi saksi kecil dari warisan itu, seorang anak Muslim yang bersekolah di lembaga Katolik, berteman lintas keyakinan, dan tumbuh dalam suasana yang damai.
Kini, puluhan tahun kemudian, saya menyadari: kasih dan pendidikan yang ditanam oleh para pastor misionaris itu telah menjadi bagian dari jati diri kota ini Pekanbaru yang majemuk, hangat, dan saling menghargai.
Dan di antara semua kisah besar itu, saya selalu teringat satu hal sederhana, sebuah foto kecil yang dikirim ke Italia, yang bukan hanya membangun sebuah gereja, tapi juga membangun jembatan kemanusiaan yang tak lekang oleh waktu.
Karena kasih yang tulus selalu menemukan jalannya, bahkan melintasi benua, bahasa, dan iman.
Komentar
Kirim Komentar