Perjalanan Jakarta ke Yogyakarta dengan Honda HR-V Hybrid

Perjalanan darat dari Jakarta menuju Yogyakarta selalu memiliki cerita sendiri. Jalur panjang tol Trans Jawa yang terdiri dari jalan mulus, rest area yang berjejer, dan panorama sawah serta perbukitan membuat pengendara merasa akrab dengan jalur ini. Namun kali ini, perjalanan terasa berbeda ketika dilakukan menggunakan Honda HR-V Hybrid. Bukan hanya kenyamanan kabinnya yang modern, tetapi juga karena efisiensi bahan bakar yang melebihi ekspektasi. Dengan satu kali isi penuh tangki saat memulai perjalanan, mobil ini sukses menuntaskan lintas kota lebih dari 600 kilometer, dan setibanya di Yogyakarta, sisa bahan bakar masih tersisa banyak.

Pada pagi menjelang siang, Honda HR-V Hybrid langsung menunjukkan karakter khasnya. Sistem hibrida yang menggabungkan mesin bensin 1.5 liter dengan motor listrik bekerja dalam harmoni, terasa halus dan nyaris tanpa jeda. Konsep "Electric First" menjadi kunci efisiensi bensinnya, sehingga endurance test ini terbilang cukup capek. Capek dalam artian menghabiskan bensinnya maksudnya. Sebelum memulai petualangan jauh, BBM kami isi penuh hingga keluar dari mulut tangki. Di atas kertas, saat diisi penuh bahan bakar bisa menenggak 40 liter. Tak lupa MID (Multi-Information Display) di-reset semuanya nol, karena ingin membandingkan hasil full to full dan dari MID.

Oh iya, dari angka komputer ini, dengan sekali isi penuh bahan bakar, ternyata daya jelajahnya mencapai 719 kilometer. Secara angka Jakarta ke Yogyakarta sudah lebih dari cukup, tak perlu isi bensin di tengah jalan. Dibawa plesiran ke Gunung Kidul atau sekitarnya pun sudah pasti cukup. Balik lagi ke cerita perjalanan. Mobil diisi tiga orang dan AC disetel di suhu 24 derajat. Gaya berkendara normal, dalam artian masih menjaga norma "kaki yang disekolahkan" tapi sesekali geber dan mode berkendara ECON.

Saat baterai terisi cukup di kecepatan rendah saat hendak masuk tol, motor listrik mendominasi, membuat laju mobil terasa ringan, senyap, dan tanpa emisi layaknya mobil listrik murni. Untuk menandakan ini ada indikator EV yang menyala. Berikutnya ketika masuk jalan bebas hambatan Cikampek menuju Cipali, mesin bensin aktif bekerja secara hybrid seri menyuplai tambahan daya ke motor listrik serta di split untuk disimpan ke baterai. Tol Cipali yang panjang dan lurus seringkali jadi ujian konsumsi BBM sebuah mobil. Banyak kendaraan cenderung boros karena kecepatan konstan yang tinggi.

Efisiensi tinggi konsumsi bahan bakar Honda HR-V Hybrid. Namun beda dengan indikator bensin Honda HR-V Hybrid. Digeber di kisaran 90 km/jam dan telah menempuh jarak di atas 100 kilometer belum ada gelagat berkurang, bar bensin masih penuh, seolah-olah mobil ini bisa menempuh lebih jauh dari prediksi awal. Perlu diketahui pada kecepatan tinggi ini hanya mesin bensinnya yang bekerja terhubung ke sistem penggerak. Karena pada momen tersebut kerja mesin paling efisien ketimbang harus memulai akselerasi dari diam.

Kenyamanan kabin ikut mendukung pengalaman berkendara. Dukungan posisi ergonomis dengan pengaturan lengkap membuat tubuh tidak mudah lelah meski duduk berjam-jam. Termasuk pengaturan setir secara tilt dan teleskopik, memanjakan siapa saja pengemudinya. Fitur hiburan dengan konektivitas smartphone berjalan tanpa hambatan, menemani perjalanan dengan musik dan navigasi peta digital. Hadirnya panel atap kaca juga menambah keasyikan dan kenyamanan berkendara, kendati kami buka tudungnya saat langit senja, supaya lebih syahdu sambil mendengar alunan lagu sendu.

Singkat cerita, kami tiba di wilayah Pemalang. Kami putuskan untuk exit tol untuk menuju kuliner lokal Nasi Grombyang, sembari menyegarkan mata dan pandangan agar tidak monoton menatap marka maupun plang jalan tol. Intinya membasmi rasa bosan. Berikutnya kami lanjutkan perjalanan. Efisiensi bahan bakar Honda HR-V Hybrid masih terjaga dengan baik. Apalagi saat deselerasi kala keluar tol atau ada perlambatan, regenerative braking memanen energi untuk disimpan ke baterai untuk digunakan lagi saat berakselerasi.

Paling seru menggunakan paddle shift yang disebut Honda sebagai Deceleration Paddle Selector. Bukan untuk oper gigi, melainkan menentukan tingkat regenerative braking. Semakin naik tingkatannya, maka rasa semacam "engine brake" lebih kuat, otomatis panen energinya lebih banyak. Setengah perjalanan telah kami tempuh dan MID mencatat konsumsi bahan bakar 22 km/liter. Masuk ke Jawa Tengah, jalanan yang lebih bervariasi dengan tanjakan dan turunan bukan masalah berarti. Mode berkendara sebenarnya bisa disesuaikan, dan saat butuh tenaga ekstra, kombinasi mesin dan motor listrik segera memberikan respons cepat. Tapi kami tetap mempertahankan di mode ECON, toh di pilihan ini tetap responsif dan keluaran daya juga selalu maksimal.

Mobil juga terasa lincah untuk ukuran SUV, dan stabilitasnya terjaga meskipun dipacu pada kecepatan tol. Sampai akhirnya mendekati Yogyakarta di malam hari, rasa puas semakin nyata. Tidak hanya perjalanan yang lancar, tapi tangki bensin masih menyisakan cukup banyak. Modal untuk bertamasya masih bisa dimaksimalkan. Pengalaman ini menunjukkan bahwa Honda HR-V Hybrid bukan sekadar SUV ikonik dengan kabin nyaman, tetapi juga mobil yang benar-benar menawarkan efisiensi di dunia nyata. Satu kali isi penuh bisa menempuh perjalanan JakartaYogyakarta tanpa drama, bahkan masih ada sisa banyak untuk berkeliling kota tujuan.

Di tengah harga bahan bakar yang tidak selalu stabil dan kebutuhan mobilitas jarak jauh yang kian meningkat, kombinasi efisiensi, dan kenyamanan seperti ini tentu jadi nilai lebih. Karena bensin masih banyak, kami lanjut esok harinya menjelajah wilayah Gunung Kidul yang kami sebut sebagai destinasi hidden gem, yang layak dikunjungi. Ruas jalan yang lebar, aspal halus, marka jelas, dan lalu lintas super lengang, menambah keasyikan berkendara Honda HR-V Hybrid. Terlebih panorama selatan Jawa yang eksotis.

Jelajah bumi dasar laut yang tersingkap ke permukaan ini kami fokuskan ke Pantai Nglambor untuk snorkeling tipis-tipis. Paling tidak biar ada kegiatan selain menikmati pantai atau goa tubing yang memang jadi destinasi terkenal di sana. Jalan naik dan turun hingga berkelok di Gunung Kidul jadi ujian yang menyenangkan saat menyetir spesies mobil ini. Tak terasa ternyata kami melintas banyak wilayah mulai dari Purwodadi hingga Wonosari yang kalau ditotal jarak tempuhnya 100 kilometer.

Saat balik ke Yogyakarta lagi, ternyata sisa bensin masih banyak, padahal sudah dibawa wira-wiri dengan jarak dua kali lipat saat berangkat tadi. Momentum indikator bensin menyala ketika kami hendak melanjutkan perjalanan esok harinya. Indikator menyala saat MID menunjukkan jarak 790 kilometer. Berdasarkan internal Honda, ini menandakan bensin yang tersedia hanya 4 liter. Asumsinya bila konsumsi bahan bakar luar kota ini 20 km/liter, maka masih sanggup dibawa kira-kira 80-an kilometer lagi.

Waktunya mengisi bahan bakar kembali untuk mengetahui efisiensinya secara full to full. Secara total kami menempuh jarak 796,4 kilometer sampai ke pom bensin. Adapun volume bensin yang diisi adalah 34,32 liter. Jarak dibagi liter bensin yang masuk keluar angka 23,2 km/liter, sementara dari MID 21,5 km/liter, beda tipis!
Komentar
Kirim Komentar