Hasil Tes Kejiwaan Wanda: Pria yang Mutilasi 3 Wanita di Padang Pariaman Dinyatakan Sehat

Hasil Tes Kejiwaan Wanda: Pria yang Mutilasi 3 Wanita di Padang Pariaman Dinyatakan Sehat

Hasil Tes Kejiwaan Wanda: Pria yang Mutilasi 3 Wanita di Padang Pariaman Dinyatakan Sehat

Kapolres Padang Pariaman Ungkap Hasil Pemeriksaan Kejiwaan Pelaku Mutilasi

Kepala Kepolisian Resor (Kapolres) Padang Pariaman, AKBP Ahmad Faisol Amir, mengungkapkan hasil pemeriksaan kejiwaan terhadap pelaku mutilasi yang bernama SJ alias Wanda (25). Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Wanda tidak mengalami gangguan jiwa dan dalam kondisi normal.

Advertisement

Pemeriksaan dilakukan di Rumah Sakit Jiwa HB Saanin Padang. Wanda menjalani pemeriksaan sejak Rabu (15/10/2025), dengan tujuan melengkapi berkas perkara sebelum dilimpahkan ke Jaksa Penuntut Umum (JPU).

"Hasil pemeriksaannya sudah keluar. Dia normal alias tidak ada gangguan jiwa," ujar Kapolres. Dengan adanya hasil pemeriksaan tersebut, berkas perkara akan segera dilimpahkan ke JPU.

Wanda menjadi perhatian publik karena aksinya memutilasi tiga korban, yang semuanya adalah wanita. Salah satu korban adalah Siska Oktavia Rusdi, pacarnya sendiri. Sementara dua orang lainnya, Adek Gustiana dan Septia Adinda, merupakan teman dari Siska.

Kasus ini terungkap setelah polisi menemukan jasad Septia Adinda yang dimutilasi di aliran sungai Batang Anai, Padang Pariaman, pada pertengahan Juni 2025 lalu. Polisi kemudian menangkap Wanda, yang mengakui telah membunuh Siska dan Adek.

Jasad Siska dan Adek dibuang di dalam sumur tua di belakang rumah korban di Batang Anai pada Januari 2024. Keduanya sempat dilaporkan sebagai orang hilang hingga akhirnya ditemukan dalam kondisi tulang belulang di sumur tersebut.

Kekejaman Wanda Terungkap

Aksi keji Wanda semakin terang saat diketahui ia memotong tubuh korban hingga menjadi 10 bagian. Potongan tubuh ini dibuang di dua lokasi berbeda. Lebih mengerikan lagi, aksi mencincang dilakukan dengan parang di siang hari, di tengah kebun.

Perbuatan itu dilakukan atas dasar utang piutang antara kedua belah pihak yang tidak terpenuhi dalam waktu yang disepakati. Kapolres menyebutkan bahwa semua tindakan pelaku didukung oleh barang bukti yang telah dikumpulkan oleh pihaknya, seperti parang, kendaraan, helm, dan barang bukti lainnya.

Pelaku melakukan aksinya sekira pukul 15.30 WIB. Ia mulai dengan menyekap korban hingga tak sadarkan diri, lalu memotong-motong bagian tubuhnya menjadi 10 bagian. Bagian-bagian tersebut terdiri dari sepasang kaki, sepasang paha, sepasang tangan, sepasang lengan, serta satu potongan badan dan kepala.

Tujuan pelaku, menurut Kapolres, adalah untuk menghilangkan jejak, sehingga potongan-potongan tubuh tersebut dibuang secara terpisah di aliran Sungai Batang Anai.

Penemuan Jasad Korban

Kasat Reskrim Polres Padang Pariaman, Iptu AA Reggy, mengatakan bahwa ketiga jasad korban telah berhasil ditemukan. Dua jasad ditemukan setelah penggalian di sumur tua yang berada di rumah pelaku.

Penggalian dilakukan setelah mendapat petunjuk dari pelaku, melalui hasil pemeriksaan saat mengamankannya pada Kamis (19/6/2025) dini hari. Jasad dua korban yang dibunuh 1,5 tahun silam ditemukan dalam kondisi tulang belulang, berserakan dan tidak utuh.

Sumur tersebut berada di dalam rumah pelaku, namun sudah lama tidak berfungsi karena keluarga beralih ke air PDAM. Untuk menghilangkan bau, jasad korban ditutupi dengan tanah, padir, dan barang-barang tidak terpakai.

Dua jasad tersebut telah dievakuasi dan dibawa ke RS Bhayangkara untuk proses identifikasi.

Latar Belakang Psikopat

Sosiolog Universitas Negeri Padang (UNP), Erianjoni, menyatakan bahwa pelaku kejahatan ini merupakan psikopat. Berdasarkan pengamatannya, dua ciri utama psikopat adalah tidak memiliki empati dan tidak merasa bersalah.

Erianjoni menyebutkan bahwa Wanda menunjukkan ciri-ciri tersebut melalui motif pembunuhan yang melibatkan dendam, sakit hati, dan rasa korban. Bahkan, para psikopat biasanya merasa puas setelah melakukan aksinya, dengan merasa bahwa korban layak mendapatkan perlakuan serupa.

Menurutnya, pelaku juga lihai dalam melakukan sandiwara dan menghilangkan jejak, sehingga sulit bagi masyarakat untuk menduga aksi yang dilakukannya. Perilaku ini, menurutnya, sering dipengaruhi oleh latar belakang sosial dan media, baik film maupun media sosial.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar