
Perkembangan Bisnis Bank Digital di Indonesia
Di tengah persaingan yang semakin ketat antara bank digital dan fintech di Indonesia, Superbank menunjukkan bahwa bisnis bank digital tidak lagi hanya sebatas 'membakar uang' untuk akuisisi pengguna. Dalam laporan keuangan terbarunya, PT Super Bank Indonesia mencatatkan laba sebelum pajak sebesar Rp 80,9 miliar pada Kuartal III 2025. Capaian ini menjadi bukti bahwa model perbankan digital pertama mulai matang dan bertransformasi menjadi bisnis yang berkelanjutan.
Pertumbuhan Pendapatan dan Pengguna Aktif
Sejak meluncurkan aplikasi digital pada Juni 2024, Superbank telah mengantongi lebih dari 5 juta nasabah aktif. Hal ini menunjukkan tingkat adopsi dan kepercayaan publik yang meningkat terhadap layanan keuangan berbasis teknologi. Selama JanuariSeptember 2025, Superbank mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih sebesar 176 persen year-on-year (YoY) menjadi Rp 1,1 triliun.
Presiden Direktur Superbank, Tigor M. Siahaan, menyatakan bahwa kinerja kuat hingga kuartal ketiga menunjukkan fundamental bisnis digital Superbank yang semakin kokoh. Didukung oleh integrasi dengan Grab dan OVO, mereka membuktikan bahwa pendekatan digital-first mampu menghadirkan pertumbuhan sehat sekaligus layanan yang aman dan mudah diakses.
Ekspansi Kredit dan Dana Pihak Ketiga
Momentum pertumbuhan Superbank didorong oleh ekspansi kredit dan meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap bank digital. Hingga Kuartal III 2025, penyaluran kredit mencapai Rp9,04 triliun, tumbuh 84 persen YoY, terutama dari pembiayaan ritel dan produktif. Sementara itu, Dana Pihak Ketiga (DPK) melonjak 203 persen YoY menjadi Rp 9,8 triliun, menandakan bahwa masyarakat semakin nyaman menabung dan bertransaksi di platform digital.
Total aset pun naik 70 persen YoY menjadi Rp 16,5 triliun, menegaskan kemampuan Superbank memperluas pembiayaan secara sehat dan bertanggung jawab.
Kolaborasi dengan Ekosistem Besar
Kolaborasi dengan ekosistem besar seperti Grab dan OVO menjadi katalis utama dalam memperluas akses keuangan digital, terutama untuk segmen underbanked seperti pekerja informal dan pelaku UMKM yang selama ini sulit menjangkau layanan perbankan konvensional.
Superbank juga berhasil menjaga efisiensi dan manajemen risiko secara disiplin. Loan to Deposit Ratio (LDR) berada di 92 persen, menunjukkan keseimbangan antara pertumbuhan kredit dan pendanaan. Efisiensi meningkat tajam dengan Cost to Income Ratio (CIR) turun dari 149,65 persen menjadi 70,14 persen sementara Net Interest Margin (NIM) menguat menjadi 10,64 persen. Kualitas aset tetap terjaga dengan NPL Gross 2,83 persen dan NPL Net 1,21 persen, mencerminkan kehati-hatian dalam penyaluran kredit.
Strategi Integrasi Ekosistem Digital
Strategi integrasi ekosistem digital yang kuat menjadi salah satu faktor utama keberhasilan Superbank. Dengan kemitraan yang erat dengan Grab dan OVO, bank ini mampu memanfaatkan basis pengguna besar secara efisien tanpa mengorbankan kualitas layanan. Hal ini memungkinkan Superbank untuk terus berkembang di tengah gempuran layanan keuangan digital lainnya seperti OVO, DANA, dan Bank Jago.
Dalam beberapa tahun terakhir, peta persaingan perbankan digital di Indonesia kian dinamis. Sejumlah pemain besar berupaya menyeimbangkan antara ekspansi agresif dan profitabilitas, sementara sebagian lainnya masih berjuang menekan biaya akuisisi nasabah. Di tengah tren tersebut, Superbank tampil menonjol berkat strategi yang terbukti mampu menghadirkan pertumbuhan sehat dan layanan yang aman serta mudah diakses.
Kesimpulan
Dengan pertumbuhan yang signifikan dalam berbagai indikator kinerja, Superbank menunjukkan bahwa model perbankan digital dapat menjadi bisnis yang berkelanjutan dan menguntungkan. Keberhasilan ini tidak hanya memberikan dampak positif bagi perusahaan, tetapi juga membuka peluang baru bagi masyarakat luas, terutama segmen yang sebelumnya sulit dijangkau oleh layanan perbankan konvensional.
Komentar
Kirim Komentar