Doa Tak Pernah Padam - Fiksi Mini Embun Nirwana - Cirebon

Doa Tak Pernah Padam - Fiksi Mini Embun Nirwana - Cirebon

Doa Tak Pernah Padam - Fiksi Mini Embun Nirwana - Cirebon

Cinta yang Tak Pernah Padam

Di balik jendela kamarnya, Nazwa menggenggam ponselnya erat-erat, menatap pesan terakhir yang baru masuk. Pesan itu datang dari Azzam, kekasihnya yang berada di Tasikmalaya sementara ia tinggal di Cirebon. Mereka menjalin hubungan jarak jauh selama beberapa bulan, hanya bertemu melalui suara dan video call. Namun, cinta mereka tetap utuh.

Advertisement

Pesan itu berbunyi:
"Naz, jaga sholatmu ya. Karena di situlah aku menitipkan rinduku setiap hari."

Nazwa menghela napas panjang. Ia merasa iri dengan teman-temannya yang bisa bertemu dengan pasangannya setiap akhir pekan. Mereka bisa berfoto bersama, sedangkan ia hanya bisa berjalan dengan sahabat dekatnya dan menunggu pesan darinya.

Namun, ia tahu bahwa cinta seperti ini bukan tentang seberapa sering mereka bertemu. Tapi tentang bagaimana mereka saling menjaga niat dan keyakinan.


Malam itu, ponselnya kembali bergetar. Pesan dari Azzam, sang kekasih.

Azzam (21.01)
"Neng Nazwa, malam ini aku harus lembur kerja, dan paginya aku harus lanjut kerja lagi. Kadang aku ngerasa capek, Neng. Aku rasa pingin ada yang menemaniku secara langsung di sela-sela padatnya aktivitasku. Tapi aku sadar ... kita terpisah oleh jarak. Aku gak minta kamu datang. Aku hanya berharap kamu terus berdo'a. Do'ain aku ya, cukup kamu hadir dalam do'a-do'amu. Karena sejak awal, aku ingin kamu jadi saksi dalam setiap prosesku."

Mata Nazwa berkaca-kaca. Ia menengadah, lalu tersenyum. "Yaa Rabb ... aku mohon jaga dia untukku! Sebagaimana aku mencoba menjaga hatiku untuknya."


Setahun kemudian, Azzam datang. Bukan dengan bunga, bukan pula dengan janji manis. Tapi dengan orang tuanya, ia melamar Nazwa dalam ikatan yang halal.

"Terima kasih ... kamu sudah setia, Naz." suaranya lirih, tapi jelas.
Nazwa menunduk menahan haru.
"Terima kasih juga ... karena kamu tidak pernah lelah menunggu, tanpa memaksa, tanpa menuntut apa-apa."

Azzam tersenyum. "Karena aku tahu, cinta yang baik ... tak harus tergesa. Tapi pasti, saat Alloh yang menjaga."


Azzam tersenyum menggenggam tangannya. "Dan sekarang, aku tak perlu menitipkan apa-apa lagi. Karena semua sudah ada di hadapanku."

Cirebon, 24 Oktober 2025

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar