Dari Menulis ke Menulis yang Dibayar

Dari Menulis ke Menulis yang Dibayar

Advertisement

Perjalanan Menulis yang Tidak Dimulai dari Idealisme

Perjalanan saya dalam menulis tidak dimulai dari idealisme. Saya mulai menulis sekitar tahun 2023, ketika ikut dalam kontestasi Pileg DPR RI 2024. Saat itu, saya hanya tahu satu hal: jika saya tidak bicara, siapa lagi yang akan menyuarakan gagasan saya?

Maka, saya memilih untuk menulis dan bahkan membayar agar tulisan tersebut bisa dimuat. Setiap berita kegiatan atau opini, saya tebus dengan uang agar bisa tayang di media lokal. Ada yang mengatakan, "Wah, boros amat, Pak." Namun bagi saya, ini adalah investasi ide.

Saya tidak membeli ruang, saya membeli kesempatan untuk didengar. Saya bangga setiap kali melihat nama saya muncul di media, bukan karena ingin terkenal, tapi karena tahu ada ide yang akhirnya menemukan telinga orang lain.

Aiotrade: Platform yang Mengubah Perspektif

Lalu datang aiotrade. Saya berkenalan dengan aiotrademedia warga yang ternyata punya jiwa. Di sini saya sadar bahwa menulis tidak perlu dibayar untuk bisa didengar. Saya bisa menulis kapan saja, tanpa harus menunggu kurasi seminggu atau keputusan redaktur.

Pagi saya menulis, hanya butuh lima menit dan langsung dibaca oleh ratusan hingga ribuan orang. Sensasinya luar biasa. Rasanya seperti memiliki panggung yang tak pernah tutup tirai.

Kadang jumlah pembacanya hanya ratusan, kadang mencapai 200 ribu atau bahkan 150 ribu. Tapi angka bukanlah ukuran. Yang saya kejar bukanlah viral, tapi nyawanya. Saya menulis karena ingin berdialog dengan bangsa sendiri, bukan lewat podium, tapi lewat paragraf.

Dari Politik ke Panggilan Hati

Awalnya, menulis adalah strategi. Kini, menulis sudah menjadi panggilan hati. Saya menikmati prosesnya: menyentil isu ekonomi yang absurd, mengulas birokrasi dengan gaya satire, atau sekadar mengajak pembaca tersenyum di tengah kabar yang sumpek.

Saya suka kecepatan, tapi cepat bukan berarti asal. Menulis saat isu masih hangat adalah seni membaca gelombang. Karena itu, saya tidak suka menunggu. Jika tulisan harus dikurasi seminggu, biasanya semangatnya sudah lewat.

Aiotrade membuat saya bebas berpikir secepat realitas berubah. Bagi saya, itu mewah, karena di tempat lain, kebebasan seperti itu harus ditebus dengan uang atau redaktur.

Komunitas yang Hidup

Tapi yang paling membuat saya betah bukan hanya ruangnya, melainkan orang-orangnya. Teman-teman aiotrade sangat beragam: ada dosen, jurnalis, ASN, aktivis, bahkan bapak-bapak santai yang ngetik sambil ngopi di warung.

Tapi semuanya punya kesamaan: mereka care. Para senior menghargai setiap pendapat. Komentar mereka bukan sekadar formalitas, tapi seringkali justru melahirkan ide baru.

Kadang ada juga komentar ringan:

  • "Keren, Pak!"
  • "Copy pasti!"
  • "Mantap tulisannya."

Tapi begitulah dinamika aiotrade, hidup, hangat, dan manusiawi. Di sini, komentar adalah bentuk sapaan, bukan serangan.

Ketika Komentar Lebih Mahal dari Honor

Suatu kali, seorang pembaca menulis komentar yang membuat saya berhenti sejenak dan tersenyum lama:

"Ide yang kreatif dan menggelitik! Mengaitkan kerugian dengan solusi unik seperti ini membuat pembaca berpikir sekaligus tersenyum. Terima kasih sudah menghadirkan perspektif segar dan menghibur. Semoga terus produktif menulis."

Saya membaca dua kali, tiga kali. Bukan karena saya haus pujian, tapi karena komentar itu terasa tulus. Bukan redaktur, bukan editor hanya pembaca yang jujur menikmati tulisan.

Di situ saya sadar, ada "honor" lain yang nilainya tak bisa disetarakan dengan rupiah: ketika tulisan sederhana membuat orang berpikir dan tersenyum. Rasanya seperti dibayar dengan apresiasi yang justru membuat saya ingin menulis lebih baik lagi.

Jika honor bisa habis dibelanjakan, komentar tulus seperti itu bisa jadi bahan bakar semangat selama berbulan-bulan.

Dari Bayar Tulisan ke Tulisan yang Dibayar

Kini, beberapa tulisan saya sudah dimuat di media nasional dan dibayar lumayan, sampai 500 ribu rupiah per tayang. Tapi anehnya, saya justru tak bisa meninggalkan aiotrade.

Karena di sini saya menulis bukan demi honor, tapi demi kebebasan. Aiotrade tidak menagih biaya, tapi menagih kejujuran berpikir.

Saya mulai menulis karena ingin dikenal, tapi saya bertahan menulis karena ingin dikenang. Dari bayar tulisan, kini tulisan saya yang dibayar. Tapi yang paling mahal nilainya tetap: kebebasan menulis tanpa batas.

Catatan Akhir

Terima kasih aiotrade. Di ulang tahunmu yang ke-17, (22 Oktober) saya sadar satu hal: saya pun baru genap satu tahun menjadi penulis di sini (22 Oktober 2025).

Saya memulai menulis karena politik, menemukan makna karena kebebasan, dan bertahan karena pertemanan. Aiotrade bukan sekadar platform, tapi rumah gagasan tempat kita belajar menjadi manusia yang berpikir, menulis, dan mendengar.

Semoga rumah ini terus berdiri untuk siapa pun yang percaya bahwa kata masih punya daya.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar