Dari Kondangan ke Dapur: Cerita Saya Mulai Clean Eating dan Kurangi Sampah Makanan

Dari Kondangan ke Dapur: Cerita Saya Mulai Clean Eating dan Kurangi Sampah Makanan


Saya memulai clean eating sejak sering menghadiri acara kondangan. Awalnya bukan karena alasan gaya hidup sehat atau ikut tren, tapi semata-mata karena tubuh saya mulai "protes". Hari Sabtu dan Minggu menjadi hari yang penuh undangan. Apalagi sekarang masih bulan Maulid. Di Aceh, Maulid memiliki tiga waktu, yaitu Maulid, Awal, dan Akhir.

Advertisement

Biasanya hampir semua kampung membuat acara maulid di masjidnya, atau sekedar bagi kuah beulangong yang dijemput ke dapur masjid untuk disantap di rumah. Terlalu sering menghadiri pesta, dari hajatan hingga acara keluarga, membuat saya sadar betapa banyak makanan lezat yang sebenarnya berlebihan bagi tubuh, tapi tanpa sadar tetap juga saya turuti. Nasi bryani, kuah beulangong, sate ayam, rendang, gulai, es krim, kue tart, memang semuanya menggoda, tapi sering membuat saya pulang dengan perut begah dan kepala berat. Mungkin juga karena dalam banyak makanan kita sering banyak memakai penyedap.

Hari Minggu sepulang dari acara resepsi, begitu masuk dapur, tumpukan piring bekas makan malam masih teronggok di meja. Sisa makanan juga bertumpuk, nasi goreng yang dingin, sayur yang tak disentuh karena tak semua anggota keluarga suka sayur. Begitu juga dengan bungkus plastik, stereofom dari makanan cepat saji. Saat itu tiba-tiba saja kepikiran, mungkin bukan cuma tubuh saya yang kelebihan beban, tapi juga tempat sampah jadi lebih cepat penuh.

Apa Sih Sebenarnya Clean Eating Itu?

Mungkin karena menggunakan kata eating, masih banyak orang salah paham mengira clean eating berarti diet ketat, menghindari karbohidrat, atau malah ada yang menganggap itu ada kaitannya dengan cara makan yang baik dan benar, makan harus bersih tak boleh berceceran. Padahal esensinya sangat sederhana, makan makanan sesedikit mungkin yang diproses, dan sebanyak mungkin yang alami.

Sederhananya, kita berusaha memilih bahan pangan yang segar, memasak sendiri, mengurangi gula dan garam tambahan, serta menjauhi makanan kemasan berlebihan. Jika masih bisa kita olah sendiri, lebih baik jangan beli makanan siap saji. Apalagi masak jenis sayuran seperti tumis, menurut saya sangat mudah, dan praktis.

Jadi Clean eating bukan soal berapa kalori asupan dalam makanan kita, tapi soal kesadaran yang lebih utama, dari mana makanan kita berasal, bagaimana ia diolah, dan apa dampaknya bagi tubuh serta lingkungan.

Mulai Dari Kebiasaan Kecil

Saat saya mulai mencoba pola makan ini, saya tak langsung mengubah semua. Saya hanya mulai dari satu kebiasaan kecil, membawa bekal sendiri ke sekolah meskipun sudah ada jatah MBG. Lauknya juga yang sederhana, sayur tumis, telur dadar atau orak-arik, dan nasi putih. Tapi dari situ, saya mulai menyadari sesuatu yang lebih besar, ternyata kebiasaan ini bukan hanya membuat saya merasa lebih sehat, tapi juga membuat dapur lebih bersih. Urusan sampah domestik sedikit berkurang.

Seingat saya dulu, setiap hari saya harus membuang kantong besar berisi sisa makanan, bungkus plastik, dan wadah makanan instan. Kini, setelah menjalani clean eating, tempat sampah dapur saya bisa bertahan hampir tiga hari sebelum perlu diambil ke tukang jemput sampah.

Hubungan dengan Lingkungan

Karena sebagian besar makanan saya berasal dari bahan segar yang dibeli di pasar tradisional atau toko grosir langganan, tanpa kemasan plastik sekali pakai. Tempe pakai daun pisang, kertas, dan wadah bawaan dari rumah sebagai pengganti plastik bening dan styrofoam. Bahkan, batang daun seledri, dan potongan sayur sisa kini tidak langsung saya buang. Sebagian bisa diolah menjadi kaldu sayur, sebagian lagi saya kumpulkan untuk kompos sederhana di halaman belakang. Dimasukkan dalam lubang dan ditutup tanah agar mudah terproses menjadi pupuk.

Saya juga mulai membeli bahan makanan seperlunya. Jika dulu saya tergoda membeli stok besar hanya karena diskon, kini saya lebih memilih belanja dua atau tiga hari sekali. Pola ini membuat bahan segar selalu terpakai tepat waktu, tidak ada lagi sayur yang layu di kulkas atau buah yang busuk karena terlupakan.

Perubahan Pada Pola Berbelanja dan Memasak

Tanpa disadari, clean eating mengubah cara saya berbelanja, memasak, bahkan melihat makanan. Bahkan saat di acara hajatan, seringkali menunya rame, banyak ragamnya dan semua kepingin dicoba. Tapi begitu sudah masuk piring lengkap seperti "porsi tukang", eh ternyata perut saya yang protes kepenuhan.

Salah satu perubahan paling terasa adalah hubungan saya dengan sisa makanan. Sebelumnya, nasi sisa sering langsung dibuang. Sekarang, nasi sisa bisa jadi nasi goreng esok pagi atau bahan bakwan nasi yang gurih. Potongan roti kering bisa dijadikan taburan roti panggang.

Saya juga lebih bijak memilih porsi. Di acara keluarga, saya mulai mengambil makanan secukupnya, tak perlu semua jenis di piring. Jika ingin mencoba hidangan lain, saya ambil sedikit saja untuk mencicipi. Ternyata, dengan begitu, saya tetap bisa menikmati banyak rasa tanpa berlebihan.

Dampak Ke Rumah Tangga dan Lingkungan

Inilah makna clean eating yang kadang terlupakan, bukan hanya soal apa yang kita makan, tapi juga bagaimana kita memperlakukan makanan. Dengan menghargai setiap bahan yang kita beli dan konsumsi, kita juga menghargai kerja petani, alam, dan sumber daya bumi yang terbatas.

Mulai Dari Rumah, Dampaknya Menyebar Kemana-mana
Ketika saya sadari dapur menjadi lebih bersih, keluarga juga mulai ikut terlibat dalam kebiasaan baru itu. Anak saya yang dulu sering minta camilan kemasan kini ikut membantu membuat smoothie dari buah beku atau puding chia seed. Suami saya, yang awalnya skeptis, mulai menikmati sarapan oatmeal atau burjo-bubur kacang ijo buatan sendiri.

Bahkan masaknya sudah ikut pola baru, katanya biar lebih hemat. Masak air panas, biarkan kacang hijau mendidih sepuluh menit, matikan dan tutup setengah jam. Kemudian lanjutkan didihkan lagi dan panaskan tujuh menit. Pola itu menghemat energi gas di rumah dan juga waktu masak yang lebih singkat. Lama-lama, pola ini menjadi gaya hidup bersama.

Perubahan kecil di rumah ternyata menular. Tetangga yang sering melihat saya "menanam" kulit sayuran untuk kompos ikut penasaran, lalu ikut mencoba. Tetangga sekarang juga punya wadah kompos di sudut kebunnya.

Manfaat Clean Eating

Ternyata dalam beberapa referensi yang saya baca, Clean eating setidaknya memberi dua manfaat besar:
Pertama; Untuk tubuh, karena kita mengonsumsi lebih banyak serat, vitamin, dan nutrisi alami tanpa tambahan bahan kimia berlebihan. Saya merasa lebih bertenaga, tidur lebih nyenyak, dan jarang mengalami masalah pencernaan.
Kedua; Untuk bumi, karena clean eating secara otomatis menekan sampah plastik dan makanan. Dengan membeli bahan lokal di pasar tradisional atau mall yang masih segar, kita juga mengurangi jejak karbon dari transportasi makanan impor dan kemasan industri.

Kesimpulan

Dari pilihan menu olahan yang baik, piring yang bersih lahir tubuh yang sehat dan pikiran yang tenang. Dan dari dapur yang bersih lahir juga bumi yang lebih lestari tanpa dibebani tambahan sampah setiap harinya.

Mungkin inilah arti sebenarnya dari clean eating---bukan cuma urusan pola makan, tapi juga merambah ke dalam wujud bagian dari cara kita bersyukur atas nikmat Tuhan yang hadir di meja kita.

Jadi, kalau ada yang merasa "terlalu sering kondangan" seperti saya, sampai hari sabtu dan Minggunya full kunjungan kebeberapa undangan, mungkin itu pertanda untuk mulai lebih sadar terhadap apa yang kita konsumsi. Siapa tahu, dari dapur kecil kita, perubahan besar bagi bumi bisa kita mulai. Awasi piringmu demi bumi kita--kedengarannya bagus jadi slogan baru ;),

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar