Dampak Ganda Geliat Pasar Kripto, Sengat COIN-DCII hingga TLKM Cs

Dampak Ganda Geliat Pasar Kripto, Sengat COIN-DCII hingga TLKM Cs

Advertisement

Pertumbuhan Pasar Kripto di Indonesia

Pasar kripto di Indonesia terus mengalami pertumbuhan yang pesat. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mencatat, jumlah investor aset kripto meningkat menjadi 16,5 juta per Juli 2025. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 27,10% dibandingkan posisi akhir Januari 2025 yang hanya mencapai 12,9 juta.

Pengamat pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, menilai bahwa pasar aset kripto yang sedang booming di Indonesia tidak hanya menguntungkan emiten pedagang kripto PT Indokripto Koin Semesta Tbk. (COIN), tetapi juga memberikan efek berganda bagi emiten-emiten teknologi yang menjadi penyokong infrastruktur digital.

Kinerja COIN dan Dampaknya pada Sektor Teknologi

Selama semester I/2025, COIN sukses membalikkan rugi Rp1,99 miliar menjadi laba bersih Rp25,51 miliar. Kinerja impresif itu didorong oleh lonjakan transaksi di anak usahanya, PT Central Finansial X (CFX) yang mendapat sokongan dana hasil IPO COIN tahun ini.

Hendra menilai, momentum pertumbuhan tersebut diperkuat dengan partisipasi CFX dalam ajang global TOKEN2049 yang menegaskan posisi Indonesia sebagai salah satu hub kripto potensial di Asia Tenggara.

"Dengan regulasi yang akomodatif, dukungan penuh OJK, serta ekosistem yang terintegrasi mulai dari bursa, kustodian, kliring hingga pedagang, peluang ekspansi bisnis COIN masih sangat terbuka lebar," ujarnya, Jumat (3/10/2025).

Secara teknikal, dia menjelaskan saham COIN masih berada dalam tren naik (uptrend) dengan rekomendasi buy on weakness di level Rp3.500, dan berpotensi menembus level psikologis 4.000 sebagai all time high (ATH).

Efek Tidak Langsung pada Emitter Teknologi

Tidak cuma COIN, Hendra melihat efek tidak langsung dari maraknya pasar kripto juga dirasakan oleh emiten teknologi penyedia infrastruktur digital seperti data center dan keamanan siber. Misalnya, PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) yang memiliki unit bisnis data center.

Bisnis Data Center dan Cloud TLKM mencatat pendapatan sebesar Rp921 miliar pada semester I/2025. Meski pendapatan data center turun 8% secara tahunan, segmen ini dalam jangka panjang diproyeksi akan menjadi salah satu motor utama TLKM mendulang pundi-pundi pendapatan.

TLKM tercatat mengoperasikan 35 data center dengan total kapasitas 44 MW untuk melayani segmen enterprise dan hyperscale, serta 2.420 rack untuk layanan edge data center. Data Center milik Telkom tersebar di 30 lokasi di Indonesia dan 5 lokasi internasional, termasuk di Singapura, Hong Kong, dan Timor Leste. TLKM menargetkan data center ini dapat mencapai kapasitas 500 MW di 2030.

Pertumbuhan Pendapatan di Sektor Teknologi

"Begitu juga PT DCI Indonesia Tbk. [DCII] yang mencetak lonjakan pendapatan jasa colocation dari Rp690,46 miliar menjadi Rp1,25 triliun, serta di segmen pendapatan yang sama PT Area Persada Nusantara Tbk (AREA) juga naik dari Rp24,30 miliar menjadi Rp27,68 miliar," ujar Hendra.

Dari sisi penyedia jasa keamanan digital, Hendra menilai PT Cyber Teknologi Tbk (CYBR) juga berpeluang menadah berkah. CYBR sepanjang semester I/2025 juga menunjukkan kinerja solid dengan pertumbuhan pendapatan jasa dari Rp85,93 miliar menjadi Rp114,06 miliar.

Potensi Pertumbuhan Sektor Teknologi

Fundamental yang kokoh membuat harga saham emiten sektor teknologi tersebut sejak awal tahun sudah melesat ratusan bahkan ribuan persen, sehingga Hendra menilai wajar bila sektor IDX Technology mencatatkan pertumbuhan tertinggi secara sektoral di lantai bursa, mencapai 178,34% year to date per 2 Oktober 2025.

Hendra menilai, jika tren positif pasar aset kripto di Indonesia bisa berlanjut, maka emiten-emiten kripto seperti COIN akan terus menikmati pertumbuhan laba, sedangkan emiten teknologi pendukung seperti TLKM, DCII, AREA, dan CYBR berpotensi meraup permintaan yang lebih tinggi atas layanan data center, cloud, maupun keamanan digital.

"Tahun depan, tren rotasi sektoral masih bisa dimanfaatkan karena sektor kripto dan teknologi tergolong baru berkembang di Indonesia dan menawarkan ruang ekspansi yang luas," tegasnya.

Rekomendasi Investasi

Untuk rekomendasi, Hendra menilai saham COIN menarik sebagai player langsung di pasar kripto, sementara DCII dan TLKM layak dikoleksi sebagai penopang infrastruktur digital. Selain itu, menurutnya CYBR juga patut diperhatikan untuk eksposur ke bisnis keamanan siber yang kian penting.

"Dengan kombinasi tersebut, investor berpotensi memanfaatkan pertumbuhan berlapis, baik dari sisi perdagangan aset kripto maupun kebutuhan teknologi yang menopangnya," pungkasnya.

Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar