Curhat ke AI Bisa Bahagia? Psikolog Ungkap Fakta Mengejutkan!

Curhat ke AI Bisa Bahagia? Psikolog Ungkap Fakta Mengejutkan!

Curhat ke AI Bisa Bahagia? Psikolog Ungkap Fakta Mengejutkan!

Kehadiran AI dalam Kehidupuan Emosional

Di era yang serba digital, semakin banyak orang memilih untuk curhat dengan kecerdasan buatan (AI) daripada berbicara langsung dengan manusia. Alasannya adalah karena AI terasa praktis, cepat, dan selalu siap mendengarkan tanpa menghakimi. Namun, apakah hal ini benar-benar aman secara emosional?

Advertisement

Psikolog Klinis Nena Mawar Sari memberikan peringatan bahwa di balik kenyamanan yang ditawarkan oleh AI, tersembunyi risiko psikologis yang bisa sangat serius. Dampaknya bisa perlahan mengikis kemampuan seseorang untuk berhubungan secara manusiawi.

AI hanya memantulkan data dari input yang kita berikan, bukan empati, ujar Nena.

Curhat dengan AI: Nyaman Tapi Tanpa Sentuhan Hati

Menurut Nena, kebanyakan orang mencari dukungan emosional karena membutuhkan respons hangat dan koneksi dua arah. Namun, hal ini tidak akan pernah bisa diperoleh dari chatbot AI, yang semua responsnya berbasis algoritma.

AI bisa menenangkan, tapi tidak bisa memahami. Ia hanya memvalidasi, bukan merasakan, ungkapnya.

Masalah muncul ketika pengguna sedang mengalami depresi, kesepian, atau impulsif. Mereka bisa salah menafsirkan respons AI sebagai kebenaran atau dukungan nyata. Akibatnya, pengguna justru semakin terjebak dalam realitas buatan dan kehilangan arah emosional.

Tanda Kamu Sudah Ketergantungan dengan AI

Nena juga menjelaskan beberapa tanda-tanda seseorang mulai bergantung secara emosional dengan AI:

  • Terlalu sering membuka aplikasi AI bahkan untuk hal sepele
  • Menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk berbicara dengan chatbot
  • Mulai menjauh dari teman atau keluarga
  • Menjadi antisosial karena lebih nyaman dengan layar ketimbang tatapan manusia

Kalau sudah seperti itu, berarti keseimbangan emosinya mulai terganggu, jelas Nena.

Solusi Sehat: Kembali ke Dunia Nyata

Alih-alih curhat dengan chatbot, Nena menyarankan cara lebih sehat untuk menyalurkan emosi:

  • Menulis jurnal (journaling) untuk membantu memahami diri sendiri
  • Berbicara dengan psikolog atau psikiater yang memiliki empati manusiawi
  • Membuka diri pada teman atau keluarga, meski hanya satu-dua orang yang benar-benar dipercaya

Kuncinya bukan jumlah teman curhat, tapi kualitas koneksi emosional yang nyata, tegas Nena.


Berita Terkait

Komentar

Kirim Komentar