
Chairul Tanjung Datang ke Pesantren Lirboyo untuk Minta Maaf
Kabar mengenai kedatangan Chairul Tanjung ke Pesantren Lirboyo di Kota Kediri menjadi perhatian besar dan memuncaki pencarian mesin Google. Chairul Tanjung, seorang pengusaha dan taipan media Indonesia, dikenal sebagai pemilik CT Corp, sebuah konglomerat bisnis yang bergerak di bidang media, ritel, dan keuangan.
Chairul Tanjung juga dikenal sebagai "Raja Media" karena kepemilikannya atas beberapa stasiun televisi termasuk Trans7. Kedatangannya ke Pesantren Lirboyo dilakukan untuk meminta maaf kepada KH Anwar Mansyur, pengasuh pesantren tersebut. Kedatangan ini tidak lepas dari polemik penayangan video dalam satu program Trans7 yang dianggap menyinggung pesantren.
Dalam pertemuan itu, Chairul Tanjung menyampaikan permintaan maaf dan beberapa hal terkait perbaikan manajemen. Sowan Beliau dalam rangka permohonan maaf atas tayangan Trans7 yang telah kita ketahui bersama dan tadi bapak KH Anwar Mansyur menerima permohonan Bapak Chairul Tanjung, ujar KH Abdul Mu'id Shohib, Juru Bicara Pesantren Lirboyo.
Chairul Tanjung juga mengaku akan melakukan perbaikan di internal manajemen agar ke depannya tidak ada lagi tayangan yang menyinggung atau mencederai kalangan pesantren. Perbaikan konkret di Trans7 maupun seluruh media yang ada di bawah naungannya agar ke depan tidak terjadi lagi tayangan seperti itu, kata Gus Mu'id.
Profil Chairul Tanjung
Chairul Tanjung lahir pada 18 Juni 1962 di Jakarta. Ia dikenal sebagai pendiri dan pemimpin CT Corp, sebuah konglomerat besar yang menaungi beberapa anak perusahaan di bidang finansial, properti, media, dan multimedia seperti Trans Corp, Bank Mega, dan CT Global Resources.
Karier bisnisnya dimulai saat kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. Meski mengalami jatuh bangun, ia akhirnya sukses membangun usahanya menjadi besar. Ayahnya, Abdul Ghafar Tanjung, adalah seorang wartawan dari Sumatera Utara yang menerbitkan surat kabar kecil, sedangkan ibunya berasal dari Jawa Barat.
Keluarganya pernah mengalami kesulitan ekonomi pada masa Orde Baru sehingga harus tinggal di losmen. Chairul dikenal sebagai pengusaha dengan semangat pantang menyerah dan komitmen tinggi, terbukti bertahan mengembangkan bisnisnya selama krisis ekonomi 1998 yang mengguncang Indonesia.
Ia pernah menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Perekonomian dari 19 Mei 2014 hingga 20 Oktober 2014, menggantikan Hatta Rajasa. Selain itu, ia juga menduduki berbagai posisi penting seperti CEO Bandung Supermall, CEO Trans Corp, Komisaris Utama PT Carrefour, serta pendiri PT Pariarti Shindutama.
Dalam bidang pendidikan, Chairul menempuh SD, SMP, dan SMA di Jakarta, serta melanjutkan kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi dan menjalani program eksekutif MBA di IPPM. Dari segi prestasi, Chairul Tanjung pernah masuk dalam daftar 1000 orang terkaya dunia versi majalah Forbes dengan kekayaan mencapai sekitar 1 miliar USD.
Ia juga pernah mendapat penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) Award pada tahun 2015 dan dikukuhkan sebagai guru besar bidang ilmu kewirausahaan di Universitas Airlangga Surabaya. Secara bisnis, Chairul Tanjung memfokuskan diri pada tiga bidang utama yaitu keuangan, properti, dan multimedia dengan berbagai perusahaan di sektor asuransi, bank, dan multifinance yang dimilikinya.
Profil KH Anwar Mansyur
KH Anwar Mansyur, yang sering dipanggil Mbah War, adalah seorang ulama khos dan pengasuh utama Pesantren Lirboyo di Kediri, Jawa Timur. Ia lahir pada 1 Maret 1938 dari pasangan KH Manshur Jombang dan Nyai Salamah, putri ketiga pendiri Pesantren Lirboyo KH Abdul Karim.
Sejak kecil, KH Anwar Mansyur menimba ilmu di berbagai pesantren, dimulai dari pesantren ayahnya di Pacul Gowang Jombang, kemudian Tebuireng hingga tingkat Tsanawiyah, dan akhirnya melanjutkan pendidikan di Pesantren Lirboyo sendiri. KH Anwar Mansyur dikenal sebagai sosok kiai yang amanah, istiqomah dalam beribadah dan mengajar serta fokus pada pembentukan akhlak santri sebagai prioritas utama.
Ia menekankan pentingnya mengaji dan kemampuan membaca Al-Qur'an sebagai fondasi pendidikan di pesantren. Selain itu, beliau peduli pada perkembangan pesantren putri dan pernah mendirikan Pesantren Hidayatul Mubtadiat khusus santri putri di komplek Lirboyo yang didirikan pada 15 September 1985 atas inisiatif KH Mahrus Aly dan direalisasikan oleh KH Anwar Mansyur sendiri.
Dalam kehidupan sosial, KH Anwar Mansyur juga dikenal dekat dengan masyarakat dan aktif bersilaturahmi. Sebagai seorang guru besar di pesantren, beliau sangat menekankan pendidikan agama untuk menyelamatkan generasi muda dari pengaruh buruk pergaulan bebas dan zaman yang tidak sehat.
KH Anwar Mansyur tetap menjadi figur teladan dan pengasuh tertinggi Pesantren Lirboyo hingga usia lanjut dengan komitmen tinggi dalam mempertahankan tradisi pendidikan salaf dan nilai-nilai agama Islam.
Komentar
Kirim Komentar