Kondisi Memprihatinkan Terminal Singaparna
Terminal Singaparna, yang seharusnya menjadi wajah perhubungan di jantung Pemerintahan Kabupaten Tasikmalaya, kini berada di titik paling memprihatinkan. Selain diselimuti kerusakan infrastruktur parah, mulai dari pintu masuk hingga genangan air di setiap sudut saat hujan, ternyata terminal ini telah berubah fungsi menjadi aktivitas terlarang.
Warga dan pedagang di sekitar lokasi dibuat miris dengan temuan menjijikkan yang menjadi pemandangan harian, bekas botol minuman keras (miras) dan alat kontrasepsi pria (kondom) berserakan di area publik. Seorang pedagang yang beraktivitas di sekitar terminal Singaparna mengungkapkan bahwa benda-benda seperti itu sering terlihat setiap hari.
Yang lebih mengkhawatirkan, botol-botol plastik bekas alkohol tersebut tidak lagi tersembunyi. Barang bukti aktivitas melanggar norma ini ditemukan terbuka di depan area angkutan umum, bahkan tepat di samping tembok pembatas yang berbatasan langsung dengan Sekolah Dasar Negeri (SDN) 8 Singaparna.
Warga setempat mengaku tidak mengetahui pasti siapa pelaku yang membuang sampah memalukan itu, namun frekuensi kemunculannya sudah sangat mengganggu. Penyebab utama terminal Singaparna menjadi sarang perbuatan tak senonoh diduga kuat karena minimnya penerangan pada malam hari.
Menurut kesaksian warga setempat, sebagian besar area terminal terlihat gelap gulita, menyisakan hanya sedikit lampu yang menyala di bagian depan. Lampu mah paling yang di depan saja, di belakang mah paroek (gelap gulita), kata seorang warga.
Kondisi gelap ini menciptakan peluang besar bagi pihak tak bertanggung jawab untuk melakukan tindakan asusila dan mengonsumsi miras tanpa terlihat. Saat dikonfirmasi mengenai temuan botol miras dan kondom ini, Kepala Terminal Singaparna, Suhendar, menyatakan pihaknya tidak mengetahui sama sekali aktivitas terlarang tersebut.
Kalau ketahuan pasti kami larang, karena di area terminal ini tidak boleh ada aktivitas yang dianggap melanggar hukum, seperti menjual atau minum miras, perjudian, atau bahkan prostitusi, kata Suhendar.
Pernyataan ini kontras dengan kondisi lapangan yang menunjukkan bahwa aktivitas tersebut tampaknya sudah menjadi rahasia umum. Warga kini menyoroti lemahnya pengawasan dan keamanan di Terminal Singaparna, yang kini menjadi ironi sebagai gerbang kota, justru dipenuhi dengan simbol-simbol kemaksiatan dan kerusakan parah.
Masalah Infrastruktur yang Mengancam Keamanan
Kerusakan infrastruktur di Terminal Singaparna tidak hanya merusak citra tempat tersebut, tetapi juga membahayakan keselamatan pengguna. Genangan air yang terjadi saat hujan membuat jalanan licin dan rentan terhadap kecelakaan. Pintu masuk yang rusak juga menyulitkan para pengunjung dalam mengakses fasilitas terminal.
Selain itu, kondisi jalan yang tidak terawat memperparah masalah keamanan. Banyak area yang tidak memiliki pencahayaan cukup, sehingga mudah dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini juga meningkatkan risiko tindakan kriminal dan perilaku tidak senonoh.
Kebutuhan Perbaikan dan Pengawasan
Dari segi infrastruktur, diperlukan perbaikan yang menyeluruh agar Terminal Singaparna dapat kembali menjadi tempat yang nyaman dan aman bagi masyarakat. Pembenahan jalan, sistem drainase, dan penerangan harus segera dilakukan untuk mengurangi risiko kecelakaan dan gangguan lingkungan.
Di sisi lain, pengawasan di dalam terminal juga perlu ditingkatkan. Dengan adanya pengawasan yang ketat, aktivitas-aktivitas ilegal seperti penjualan miras, perjudian, dan prostitusi dapat dicegah. Selain itu, partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan dan keamanan lingkungan juga penting untuk mencegah penyebaran sampah dan perilaku negatif.
Tantangan Masa Depan
Terminal Singaparna kini menjadi simbol dari kegagalan pemerintah dalam menjaga kenyamanan dan keamanan fasilitas umum. Tanpa perbaikan yang signifikan, kondisi ini akan semakin memburuk dan berdampak buruk pada citra kota serta kesejahteraan masyarakat.
Diperlukan langkah-langkah konkret, seperti peningkatan anggaran untuk perbaikan infrastruktur, peningkatan pengawasan, dan edukasi masyarakat tentang pentingnya menjaga lingkungan. Dengan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan pemangku kepentingan, Terminal Singaparna bisa kembali menjadi tempat yang layak dan representatif.
Komentar
Kirim Komentar